Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Bertemu Papah


__ADS_3

Keesokan harinya di Bandara Intan mengantar kepergian Natta berangkat ke Jakarta. Seperti yang telah ia bilang, Natta akan menyelesaikan permasalah yang belum terselesaikan dengan keluarganya.


Natta juga sudah memikirkan hal ini dengan matang. Benar apa yang di bilang oleh Intan, sejahat apapun atau seburuk apapun orang tua. Mereka tetap orang tua kita.


Natta menghela napas sambil menatap Intan, sungguh ia tak rela meninggalkan Intan lagi. Ia takut jika gadis itu menghilang "Kamu ikut aja ya?"ajaknya memelas.


Intan menggeleng "No! Nanti Kak Nawan ngamuk aku pergi nggak bilang-bilang"


"Yaudah bilang aja sekarang"ucap Natta dengan mudahnya.


"Nggak bisa sayang.... Udah deh! Cuma satu Minggu aja. Nanti juga ketemu aku lagi"


Lemas, itu yang Natta rasakan mendengar kata 'sayang' dari suara Intan "nggak, kamu seakan ngomong 'jangan pergi nanti aku rindu' "


"Aku setiap harinya rindu"


Natta diam sejenak, menatap dalam mata bulat gadis itu "tunggu aku, kamu jangan menghilang!! Pulang nanti akan aku pastikan kamu jadi milikku. Kita akan rindu setiap detik, dan akan bertemu di setiap saat"


****


- Jakarta


Natta melihat ponselnya lama, ia ragu mengubungi nomor yang sudah lama ia tak hubungi. Ia bingung harus mulai dari mana.


Akhirnya Natta memberanikan diri mengubungi sang Ayah.


Tak lama, telepon langsung tersambung.


"Pah... bisa kita bertemu?"


**


"Cafe kamu bagus, udah lama banget Papa nggak ketemu kamu"ucap Kendrick sembari melihat interior Cafe milik Natta yang terkesan aestetik.


Natta menunduk.


"Pah..."ucapnya menggantung yang di sahut deheman oleh Kendrick.


"Aku nggak tau harus mulai dari mana, aku pengen memperbaiki hubungan kita. Maafkan aku Pah, nggak seharusnya aku memutuskan hubungan dengan Papah"


"Alhamdulillah kamu mau berbaikan dengan Papah. Papah juga minta maaf atas segala kelakuan Papah yang menyakiti kamu. Untuk kamu, Papah sudah maafkan dari sebelum kamu minta maaf"


Natta mengangguk, lalu terdiam. Bingung apa yang harus ia katakan.


"Bagaimana kabar Michael Pah?"


"Dia sekarang sibuk dengan pekerjaannya, akhir-akhir ini Papah juga jarang bertemu dia. Bagaimana dengan kamu? Papah sangat ingin tau kabar kamu Nak, setiap hari Papah memikirkan kamu. Apa yang kamu lakukan, apa kamu makan teratur, apa kamu hidup dengan baik? Papah selalu memikirkan itu"


Natta lagi-lagi menunduk dalam, sedih saat tau selama ini sang ayah mengkhawatirkannya. Sementara dia tidak peduli dengan keadaan ayahnya, yang ia tau hanya sakit yang ia rasakan.

__ADS_1


"Maafin aku Pah"ucapnya lagi tiba-tiba memeluk sang ayah erat. Jujur, ia sangat merindukan tubuh kokoh ini. Air matanya menetes begitu saja seiring Kendrick mengelus punggungnya.


"Aku ingin menikah Pah"


"Alhamdulillah. Selagi kamu siap dan bertanggung jawab Papah yakin kamu sudah bisa membina rumah tangga"ucap Kendrick senang mendengarnya.


"Kalau boleh tau siapa wanita yang membuat kamu ingin segera menghalalkannya?"sambung Kendrick.


"Intan Pah, dia wanita yang aku cintai"ungkap Natta yang membuat Kendrick sedikit terkejut.


"Intan anak almarhum Rianti?"


Natta mengangguk.


Kendrick menghela napas "kamu tau kalau Michael dulu juga menyukai Intan?"tanyanya yang dijawab anggukan oleh sang lawan bicara.


"Sampai saat ini Michael belum juga melupakan Intan Natt, padahal sudah dua tahun berlalu. Tapi Michael masih belum bisa melupakan Intan dalam hatinya, dia sempat berhubungan dengan wanita lain. Tapi wanita itu membuatnya kecewa dan akhirnya hubungan mereka putus"


"Papah saran, kamu bicara dengan adikmu hal ini baik-baik. Anggap dia temanmu sendiri, kasi dia pengertian agar bisa mencoba buka hati untuk orang lain"


Natta tentu terkejut mendengar Michael masih mempunyai perasaan terhadap Intan. Sebagai saudara, Natta tak ingin ada perselisihan antara dia dan adiknya. Kalau seperti ini, pasti ada rasa tidak nyaman jika mereka bertemu.


"Aku ragu kalau dia mendengarku Pah"


****


Intan segera membenahi rambutnya yang berantakan.


"Haiii"sapanya dengan senyum manis.


"Yaampun cantik banget calon binik"pujinya terpesona dengan wajah Intan tanpa memakai make up "kamu lagi ngapain?"lanjutnya yang melihat Intan memperhatikan laptop.


"Oohh ini lagi nonton drakor"jawab Intan sambil mem-pouse videonya. Lalu menatap wajah Natta yang full di layar HPnya lalu tersenyum tiba-tiba.


"Ngapain senyum-senyum?"


"Heran aja kok jodoh aku ganteng banget"ucapnya tersenyum malu.


Natta mendengus geli, dari dulu ia sudah suka dengan kejujuran Intan "jangan bikin aku pulang ke Bali ya!"ekspresi Intan terlalu gemas sehingga membuatnya tak sabar bertemu padahal baru saja pisah berapa jam.


"Iihh jangan dong! Kan urusan disana belum selesai. Heh iya! Gimana? Udah ketemu sama Om Ken?"Intan baru ingat, hal yang ingin ditanyakannya.


Natta menjawabnya dengan anggukan.


"Aku sempat canggung bertemu dengan Papah. Bingung mau bilang apa, karena aku rasa akulah yang salah disini, bertahun-tahun aku memutuskan hubungan dengan Papah hanya karena satu kesalahan yang nggak bisa aku maafkan dan melupakan seribu kebaikannya"


"Aku hanya memikirkan perasaanku sampai aku bertindak sejauh ini. Padahal Papah udah berusaha buat aku berdamai dengannya, dan yang membuat aku takjub adalah Papah bilang dia nggak akan mau nikah lagi karena takut wanita pilihannya membuat aku kecewa dan teringat akan masa lalu. Aku nggak nyangka Papah berfikir sejauh itu"terangnya panjang lebar, salah satu yang bisa membuat dia nyaman adalah berbagi cerita pada Intan.


Intan tampak diam memandangi wajah Natta yang sedang bercerita.

__ADS_1


"Syukur deh kalau Bang Natta sadar, Om Ken juga kayanya udah menyesali perbuatannya sehingga membuat dia memilih untuk nggak mau nikah lagi"tutur Intan.


"Tapi, ada yang lebih sulit. Michael ternyata masih cinta sama kamu, itu membuat aku benar-benar bingung sama keadaan. Bagaimana bisa adikku mencintai wanita yang sama juga? Aku takut dia berfikir yang tidak-tidak terhadapku dan membuatnya semakin membenciku Tan"


Mendengar ucapan sang kekasih, Intan diam sejenak. Pikirannya berputar pada dua tahun lalu dimana Michael berkata "bahkan sampai saat ini aku nggak bisa melupakan kamu Intan. Aku ingin kamu tau itu, biarkanlah aku mencintai kamu dengan caraku sendiri"


"Sekarang aku harus memikirkan cara membuat Michael bisa menerima hubungan kita. Ternyata nggak semudah itu mendapatkan kamu Tan, mengapa harus Michael yang mencintai kamu? Kenapa nggak orang lain?"


"Aku juga nggak nyangka Kak Michael belum melupakan aku dari hatinya, padahal waktu sudah cukup lama. Coba saja Bang Natta bicara dengannya, jika responnya nggak baik kita tunda dulu---"


"Apaan! Nggak ada tunda-tunda!"tukas Natta kesal. Ia mengira Intan akan menunda rencana pernikahan.


Intan menahan tawa melihat tingkah Natta.


"Kenapa sih? Kaya orang kebelet nikah gitu ekspresi mukanya"goda Intan.


"Iya! Kenapa emang? Orang aku takut kamu lari lagi"cicitnya berwajah masam yang membuat Intan tertawa "dih malah ketawa!"


"Kamu tau nggak?"tanya Intan dengan masih ada sisa tawa.


"Nggak"ketus Natta.


"Kamu kiwoyo!!"


"Apaan kiwoyo? Koyok?"


Sontak perkataan Natta membuat Intan tertawa terbahak-bahak. Natta melihatnya tersenyum tertahan, senang melihat Intan tertawa seperti itu.


"Udah ah! Aku mau tidur!"


"Yaudah sini dulu"tangan Natta tampak melambai-lambai mengisyaratkan Intan agar lebih mendekat ke kamera.


"Kenapa?"tanya Intan mendekatkan wajahnya ke kamera.


"Dekat lagi"ucap Natta membuat Intan bingung, namun ia turuti saja.


"Muaaaachh..."


Kaget, Intan memandang Natta membeku.


"Selamat tidur, love you!"


Panggilan terputus.


Intan rasa jantungnya sudah melebihi kapasitas detak jantung yang seharusnya. Wajahnya juga mulai memerah dan sangat panas, tak menyangka Natta bisa semanis ini. Uhh!!


Plak!!


Intan menampar pipinya. Lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


__ADS_2