
Intan POV
Dari miliaran manusia, dari jutaan wilayah di semesta. Jika aku bertemu denganmu lagi, itu bukan suatu kebetulan. Tapi bagaimana Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang lebih baik dari sebelumnya. Entahlah orang-orang menyebutnya takdir.
Aku baru pulang dari London dengan membawa pulang mendali emas dan mengharumkan nama Indonesia. Ya, dua tahun aku menunggu momen ini. Ini adalah suatu impian terbesarku yaitu ikut tanding Internasional di berbagai negara.
Namaku kini sudah tersebar di Indonesia sebagai atlet bulutangkis yang menang di olimpiade London. Aku masih tak percaya dengan pencapaianku, tentu ini bukan suatu hal yang mudah. Aku berlatih, ikut lomba sana sini antar kabupaten,kota, Provinsi hingga ke Internasional.
Dan kalian tau aku sedang dimana? Ya, aku di Jakarta! Tempat yang sangat padat penduduknya. Karena pulang dari London aku mendarat di bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Sekarang aku sedang istirahat di hotel, tidak memungkinkan juga untuk pulang ke rumah Jakarta karena ada penyewa menempati.
Ting... Tong...
Bunyi bel, aku segera membuka pintu yang ternyata Kak Nawan datang dengan membawa makanan. Asik!
"Kamu udah beresin barang-barang?"tanya pria yang akhir-akhir ini super duper sibuk. Dia sekarang sudah makin besar, selain pekerjaan yang membuat dia sibuk dia juga sibuk mengurusku dan menemani ke London. Ah sayang banyak!
"Udah, tapi kita harus juga ya berangkat besok?"ucapku sembari membuka bungkusan plastik.
"Iya"jawabnya singkat.
"Emang Kakak nggak kepengen ketemu Nining?"
Kak Nawan diam sejenak, selama dua tahun ini. Aku tidak pernah melihatnya menghubungi Nining atau setidaknya bertukar kabar, bahkan di Bali dia menjadi idola. Namun, tak ada satupun yang menarik perhatiannya.
"Makan"Kak Nawan malah menyodorkanku makanan. Perutku yang memang belum diisi-pun segera menyantap ayam crispy uwwuuww lezatt.
"Padahal Intan masih pengen disini, pengen ketemu Nining sama Fany. Hmm kangen banget sama mereka"ucapku di sela-sela makan.
"Nggak bisa, kita harus pulang besok"
"Yaudah, tapi Intan malam ini mau jalan-jalan keluar. Boleh?"
Kak Nawan terlihat memperhatikanku sejenak, mungkin sedang berfikir "boleh, tapi sama Kakak"
*****
Sebuah Cafe
Malam berkelip bintang, suasana yang aku rindukan. Keramaian kota, kebisingan orang berlalu lalang dan lampu yang terlihat indah di malam hari.
"Kak!"panggilku ketika dia sedang termenung. Apa ada masalah? pikirku.
"Dari tadi Intan liat Kak Nawan bengong dan banyak diam. Kenapa? Kakak memikirkan sesuatu?"tanyaku, dia menggeleng lalu menyesap kopinya.
"Kak, kalau ada masalah cerita ke Intan. Siapa tau Intan bisa kasi solusi. Jangan di pendam, nanti jadi penyakit"
"Kakak ketemu Bening"
__ADS_1
Author POV
Siang hari saat membeli makanan, Nawan berinisiatif untuk ke rumah sakit tempat Bening kerja dulu walau jarak hotel dan rumah sakit tersebut lumayan jauh. Pada saat itu Nawan tak tau pasti Bening masih bekerja disana atau tidak, ia hanya sengaja berkunjung.
Nawan mengelilingi rumah sakit namun yang dia cari tidak ada. Ia berinisiatif untuk bertanya pada resepsionis apakah Bening masih bekerja disini atau tidak. Jawaban resepsionis tersebut sangat membuatnya kecewa, ternyata Bening tidak lagi bekerja disini.
Nawan putus asa, ia hendak keluar rumah sakit. Namun ia terkejut melihat Bening di kantin yang tak jauh dari rumah sakit, senang dan bahagia itu yang ia rasakan tapi perasaan itu tak berlangsung lama ketika seorang dokter muda menghampiri Bening bahkan ikut makan bersama. Disana ia melihat Bening tersenyum bahagia bersama seorang dokter yang mengusap kepala gadis itu dengan mestra. Dapat Nawan pastikan hubungan mereka bukan hanya teman bisa.
"Dia baik-baik saja tanpa aku"ucap Nawan menunduk.
Dari awal ia sudah memikirkan hal ini, tapi kenapa sekarang dia menyesalinya? Ia hanya ingin langsung berkomitmen setelah ia memantapkan hatinya. Bukan hanya sebuah momen yang akan membuat ia sulit untuk membuka hati pada orang lain lagi.
Intan yang mendengar cerita Nawan langsung memeluk sang Kakak "Jangan salahkan dia dan jangan juga salahkan diri Kakak, dua tahun dia menunggu. Jika Intan di posisi Nining yang menunggu seseorang cukup lama tanpa adanya kepastian, Intan juga melakukan hal yang sama jika perasaan itu sudah pudar"tutur Intan.
"Kakak pernah bilang, 'cinta itu timbal balik bukan hanya menerima saja' dari kata itu Intan belajar. Semua akan kembali pada tempatnya"
"Jika Bening memang untuk Kakak, dia pasti akan kembali pada tempat yang seharusnya ia tempati. Walau dalam waktu cepat atau lambat. Jika memang tidak, kaki ini pasti tau selanjutnya akan melangkah kemana dan bertemu siapa"
Nawan menatap Intan sedih kemudian tersenyum "sejak kapan adikku yang cengeng jadi dewasa begini?"geramnya mengacak-acak rambut sang adik yang mulai bertambah dewasa itu. Ia sangat beruntung mempunyai adik yang bisa berbagi keluh kesah dan saling memahami walau kadang ia di buat jengkel oleh Intan.
"Ngomong doang, yang dulu-dulu udah di lupain belum?"tanya Nawan mengalihkan topik agar Intan tak merasa dia sangat bersedih, meski sebenarnya demikian.
"Udah mulai terbiasa sama keadaan, tapi masih belum bisa melupakannya"
*****
Keesokan harinya...
Ya, semenjak tinggal di Bali ia sering berlibur ke pantai untuk menenangkan diri di vila yang biasa ia dan Nawan pakai untuk refreshing. Tempatnya sepi, Indah dan menyejukkan sehingga cocok untuk orang yang sedang menenangkan pikiran.
"Maaf, saya tidak memesan nasi goreng"ucap Intan ketika pelayan mengantarkan nasi goreng di mejanya. Ia pikir pelayan tersebut salah meja.
"Ini nasi goreng spesial buat Nona dari restoran kami"
"Oya? terimakasih"Intan sedikit bingung namun ia terima saja, mumpung perutnya masih bisa mencerna makanan.
Tapi ada satu hal yang membuatnya lebih terkesan, bentuk telurnya berbentuk hati dengan saos di atasnya. Gadis itu tersenyum lalu mencoba nasi goreng itu.
Intan tertegun dengan rasa nasi goreng yang terasa tidak asing baginya. Mengingatkan pada seseorang, kurang percaya Intan memakannya lagi.
"Kenapa rasanya seperti buatan Bang Natta?"gumamnya.
"Kan emang gue yang buat"
Sontak Intan langsung menoleh ke belakang mendengar suara tersebut. Ia terkejut dengan Natta yang tiba-tiba ada di vila ini. Jantungnya lagi-lagi berdesir hebat melihat wajah yang tak asing itu, dan juga wajah yang selama ini ia rindukan.
"B-ang Nat-ta?"ucap Intan tergagap, ia tak tau harus berkata apa lagi. Ia mengira apakah ini mimpi?
__ADS_1
"Lama tidak bertemu"ucapnya tersenyum lalu duduk di kursi samping Intan yang masih terdiam. Ia benar-benar tidak percaya "gue seneng lo nggak lupain gue"sambungnya menatap Intan yang menunduk.
"Bagaimana bisa Bang Natta ada disini?"tanya Intan memberanikan diri untuk menatap balik Natta.
"Lo makin cantik Tan, sekarang udah gede juga. Dulu lo masih segini"kekehnya sambil mengukur tinggi Intan dulu.
"Udah lama gue cari lo, tapi nggak ketemu. Setelah nama lo muncul di media gue jadi bisa ketemu"sambungnya menjeda omongannya "selamat ya buat pencapaiannya, gue bangga sama lo"
"Apa maksud semua ini?"tanya Intan tak mengerti.
"Sorry, I just realized my feelings"
"Maaf gue baru menyadari perasaan gue Tan, setelah lo pergi hidup gue jadi kacau. Gue terus mikirin lo, rindu suara lo, rindu semua tentang lo. Maaf gue terlambat Tan"terang Natta menunduk dengan perasaan bersalah.
Perkataan Natta sungguh sangat membuat Intan terkejut, bagaimana tidak? Kedatangan pria itu secara tidak terduga dan pernyataan Natta yang mengucapkan perasaan sebenarnya kepadanya membuat dia tidak percaya ini semua.
"Apa yang Bang Natta katakan ini serius?"
Natta mengangguk sambil menatap Intan dalam. Tatapan pria itu begitu sendu.
"Lalu bagaimana dengan Kak Naya?"
Natta diam sejenak.
"Dia bukan jodoh gue Tan, setelah kepergian lo satu bulan. Gue denger kabar kalau dia di lamar sama bosnya, disitu gue merasa pria yang paling pengecut yang memacari wanita seperti Naya. Lagian orang tua mana yang tidak ingin anaknya menikah dengan pria yang baik-baik? Dan langsung dilamar?"
"Dan anehnya gue nggak merasa sedih atau kecewa. Gue malah kepikiran lo terus, dari situ gue sadar kalau gue cinta sama lo Tan. Dan gue juga sadar satu hal, ternyata cinta itu bukan berasal dari fisik,harta dan rupanya. Tapi bagaimana kedua belah pihak menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing tanpa adanya rasa tidak nyaman di keduanya"terang Natta.
Bugh....!
Natta terkejut Intan tiba-tiba memukul lengannya.
"Lo kenapa?"tanya Natta yang melihat Intan menangis.
"Bang Natta lama banget ketemu aku huaaa! aku rinduuuu"ucap Intan diiringi tangisannya.
Natta tersenyum kemudian langsung memeluk Intan erat "gue juga rindu Tan, sangat. Shutttt jangan nangis, kamu tau aku nggak suka liat cewek nangis"ucapnya sambil mengusap rambut Intan. Gadis itu masih saja cengeng seperti biasa.
Intan menghentikan tangisannya kemudian menatap Natta yang tiba-tiba mengusap air matanya "kamu?"baru kali ini Natta memanggilnya dengan sebutan 'kamu'
Natta mengangguk tersenyum.
"Mau ya jadi pacar aku?"
"Gamau"jawab Intan sambil menggeleng.
"Aku mau jadi istri kamu aja"ucapnya kemudian.
__ADS_1
Natta menunduk sambil menahan senyum mendengarnya.
"Aku siap lahir batin!"