
Angin menerpa kulit putih bersihnya sehingga membuat jaket yang di pakai gadis itu berkibar terkena angin. Intan begitu menikmati perjalanannya, hingga ia sampai di taman ceria tempat waktu kecil yang sering ia datangi. Seperti biasa, gadis itu membeli es krim dan memakannya sendiri sambil duduk di kursi taman.
Huuhh berjalan-jalan sendiri tanpa ada yang menemani memang menyenangkan, pikirnya sambil menghela napas.
🌼🌼🌼
- Sekolah
"Bagaimana saya bisa diam saja melihat adik saya di lecehkan oleh pria brengsek seperti dia!"tegas Nawan saat orang tua Davin berusaha membela anaknya yang kini tertunduk dengan wajah yang lebam.Bahkan orang tua Davin ingin menuntut balik atas Michael yang menyerang putranya.
"Apa? Kamu menyebut anak saya brengsek? Lihat Bu! Apa pantas dia berkata seperti itu depan orang tua? Bahkan depan Ibu!"adu Ibu Davin pada wali kelas Intan.
Nawan mendengus geli mendengarnya "kalau tidak disebut brengsek lalu apa? Bajingan? Bahkan kata tersebut tidak lagi pantas untuk dia!"
"Nawan! Jaga bicara kamu!"tegur Desi sambil menggeleng-geleng melihat Nawan.
"Pokoknya saya mau dia di keluarkan dari sekolah! Kalau tidak, saya dan adik saya yang akan keluar dari sekolah ini!"
"Atas dasar apa kamu menuntut anak saya untuk keluar dari sekolah ini! Apa kamu punya bukti bahwa Davin melakukannya?"ucapan Wanita itu berhenti sejenak "Tidak kan?"lanjutnya dengan percaya diri.
"Apa bukti ini kurang jelas?"tanya Michael yang akhirnya berbicara. Ia menunjukkan kembali poto yang telah di ambilnya waktu itu.
"Hanya sebuah poto? Tidak bisa menjadikan alasan anak saya di keluarkan dari sekolah ini. Lagian dalam poto tersebut gadis itu tidak kelihatan terpaksa masuk ke rumah, alias dengan keinginannya sendiri!"ya, memang begitu kelihatannya tapi pada saat itu Intan berusaha santai walau sebenarnya takut.
"Anak anda juga bisa menjadi bukti, lihat wajahnya! Untuk apa saya memukulnya jika dia tidak berbuat macam-macam pada Intan!"jelas Michael, tiba-tiba hening sejenak.
"Dan ini, Rapor Davin Zaindra dari sekolah sebelumnya"Michael menyerahkan Rapor hitam itu pada Bu Desi yang langsung melihatnya.
"Rapor tersebut tertulis bahwa anak anda juga melakukannya di sekolah lamanya. Bahkan sempat masuk Buku Hitam, mungkin itu juga jadi suatu alasan dia di keluarkan dari sekolah sebelumnya dan pindah kesini"
Mendengar itu Nawan semakin emosi, ia mengambil Rapor dari Bu Desi dan membacanya sendiri "Ibu liat sendiri kan! Dia bahkan punya catatan miris begini dari gurunya! Jadi tidak ada alasan lagi dia tidak di keluarkan dari sekolah!"ucapnya menatap Davin yang menatapnya penuh amarah tertahan.
"Maaf Bu Farah, Saya rasa saya setuju dengan anak-anak. Saya takut jika di biarkan akan berdampak buruk juga pada murid lainnya, dan merasa tidak nyaman jika Ravin sekolah disini. Apalagi berita ini sudah tersebar di sekolah. Jadi saya sebagai wali kelasnya dengan sangat berat hati ingin mengeluarkan Davin dari sekolah, saya akan membicarakan ini kepada Kepala Sekolah terlebih dahulu.Setelah itu saya akan proses"jelas Bu Desi, setelah wanita itu melihat Rapor dan catatan kenakalan Davin di sekolah lamanya membuat ia juga ikut berang. Sehingga ia tak ragu mengeluarkan pemuda bernama lengkap Davin Zaindra itu dari Sekolah.
__ADS_1
"Tidak bisa! Anak saya harus tetap sekolah disini"
"Keputusan akan keluar setelah kepala sekolah menyetujui. Besok jangan lupa datang kesini lagi untuk meminta maaf kepada Intan atas kejadian anak Ibu"
"Intan menolak keras bertemu dengan dia!"
🌼🌼🌼
Tak tahu mau kemana lagi, mau bertamu ke rumah temannya. Tapi Bening dan Fany sedang sekolah, akhirnya Intanpun memutuskan untuk mampir ke Cafe Natta, sebenarnya ia tak kuasa kesana sebab masih malu dengan kejadian kemarin yang menimpa dirinya. Tapi buat apa malu, toh dia juga tidak ingin kejadian itu terjadi pikirnya.
Ting...
Suara lonceng berbunyi saat Intan masuk cafe. Gadis itu berjalan dengan lesu menuju meja, sementara dari kejauhan Natta melihat Intan datang ia langsung melepas celemeknya menghampiri gadis lesu itu.
"Hei, lo nggak sekolah?"tanya Natta sembari duduk depan Intan. Kebetulan pengunjung belum ada yang datang jadi pria itu tidak terlalu sibuk.
Intan menjawabnya dengan gelengan.
Natta tersenyum tipis, ia sudah tau penyebab Intan bolos sekolah hari ini.
"Gue juga laper, mau makan bakso?"ajaknya dengan senyum miring.
"Mau banget, tapi Bang Natta traktir ya?"Intan yang tadinya lesu dan murung kini tiba-tiba bersemangat.
"Beres!"sahutnya senang.
"Tapi cafe-nya Bang Natta gimana?"Intan lihat ada beberapa orang yang sedang mengobrol ria di sudut Cafe.
Natta menoleh orang tersebut dan menghampirinya. "Permisi Mas Mbak maaf mengganggu. Saya ada urusan mendadak jadi Cafe-nya ingin saya tutup dulu, sebagai gantinya Mas dan Mbak nggak perlu bayar tagihannya"ucap Natta dengan sopan, walau ia sedikit berbohong soal urusan mendadak. Hmm gapapa kali.
"Ooh yaudah kalau gitu Mas, terimakasih"ucap orang tersebut sembari beranjak pergi bersama sang kekasih.
"Maaf Mas sekali lagi"ucap Natta kembali.
__ADS_1
"Helleh keliatan banget pinter bohong pake beralasan ada urusan mendadak segala. Emangnya urusan mendadak kaya apa sih?"cibir Intan usai dua orang itu pergi.
"Urusan mengisi perut itu penting"jawab Natta sambil membersihkan sisa minuman di meja itu.
"Setuju sih!"
Setelah berberes keduanya pergi memakai motor Intan yang baru. Gadis itu berlagak memamerkan motor barunya sehingga tak membiarkan Natta mengendarai motor berian Rianti itu. Alhasil Intan yang membonceng.
"Lama banget sih! Dasar siput! pake motor kaya pake sepeda"ucap Natta setengah teriak, saat ini mereka tengah di perjalanan. Pria itu kesal dengan Intan yang berkendara sangat lambat seperti siput.
"Haa? Apa?!"pekik Intan, suara Natta kedengaran tidak jelas di telinganya.
"Siput!"teriak Natta lagi lebih keras. Mendengar itu Intan sedikit melajukan motornya hingga 45Km
"Lebih cepat lagi!"
Brrruuummmm!!
Geram, Intan dengan spontan melajukan motornya dengan kecepatan 60Km sehingga membuat Natta terhuyung ke belakang. Untungnya pria itu cepat-cepat menarik baju Intan dan secara tidak sengaja memeluk gadis itu.
"Nggak gitu juga Intan!"
"Hehehe nggak sengaja ke-gas"cengirnya kembali menjalankan motor dengan kecepatan normal. Tapi sesungguhnya Intan sempat terpaku saat Natta dengan tak sengaja memeluknya.
Kuda besi berwarna merah itu tiba-tiba berhenti. Ternyata mereka sudah sampai di pangkalan penjual bakso di tepi jalan.
"Kok disini?"tanya Natta sembari melepas helm. Eh Btw Natta adalah orang yang mengutamakan kebersihan terhadap apapun termasuk makanan.
"Disini aja, baksonya enak"tanpa persetujuan Natta, Intan langsung duduk "mang! Baksonya dua ya"ucapnya menuntun Natta duduk yang hanya bisa mengikuti Intan yang sudah terlanjur memesan.
"Intan, lo yakin makanan disini higienis?"bisik Natta, ia melirik kiri dan kanan dimana ada tempat pembuangan sampah yang tak jauh dari gerobak dorong si penjual bakso tersebut.
"Ya yakin lah... Bakso mang Ade paling enak dari bakso yang pernah Intan makan. Dan pastinya higienis, emangnya Bang Natta nggak pernah makan di tepi jalan gini?"
__ADS_1
Natta menjawabnya dengan gelengan. Berpacaran dengan Tea tidak pernah sekalipun makan di tempat yang sederhana, Tea selalu mengajaknya makan di restoran,cafe,rumah makan seafood dan lain-lain. Mungkin karena itu ia tak pernah makan di pinggir jalan, walau di sempat mendengar makan di pinggir jalan adalah hal yang menyenangkan. Entahlah.... sebelum ada Intan, Natta hanya mengikuti pola pikirnya yang hanya sibuk dengan dunianya sendiri dan menghabiskan waktu bersama Tea.