
Pagi-pagi sekali Intan dan Natta pergi berkeliling kota bersama. Tadinya Natta tidak mau ikut, oleh karena Intan memaksa agar tubuh sehat katanya mau tidak mau Natta menurut. Lagian hari ini hari Minggu tak apa sesekali olahraga.
Keduanya berkeliling bersama. Keringat peluh tampak menghiasi pelipis mereka. Natta yang langkahnya lebih lebar, membuat Intan harus sedikit lebih cepat.
Setelah puas berkeliling, Natta menemani Intan latihan bulu tangkis. Dari kejauhan ia melihat Intan tampak sangat terlatih, terlihat bagaimana gadis itu dengan gesit dan lincah menerima bola dari lawannya.
"Udah selesai?"tanya Natta melihat Intan yang menghampirinya.
"Belum sih, tapi pelatihnya ada urusan penting yang harus di selesaikan. Jadi Intan di suruh pulang lebih awal"jawab Intan sambil meneguk air mineral tersebut hingga kandas.
"Yaudah kita pulang"
"Tapi Intan laper"keluh Intan sambil memegang perutnya yang terasa kosong.
Natta melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 8.45 kemudian melihat Intan yang tampak benar-benar kelaparan.
"Nggak bisa apa di tahan dulu? Perasaan dari semalam lo makan mulu deh"Natta berkacak pinggang, tak habis pikir dengan bocil di hadapannya yang doyan makan.
"Itukan semalam, ya sekarang lapar lagi'lah. Emangnya mau adik bang Natta yang cantik,imut ini mati kelaparan?"protes Intan menatap Natta jengah.
"Lagian hidup itu perlu makan. Tanpa makan kita nggak bisa hidup. Tanpa hidup kita nggak bisa makan. Tanpa bis--- eh gimana?"cerocos gadis itu yang membuat bola mata Natta memutar.
"Yaudah, kita ke rumah makan di persimpangan"ucap Natta yang membuat senyum gadis itu mekar bagai bunga mawar.
*******
Tiba di tempat tujuan, Intan turun dari motor karena tadi sempat ke Cafe dulu untuk mengambil uang dan sekalian saja memakai motor untuk pergi sarapan.
"Sedekahnya nak..."ucap seorang pengemis pada Intan yang terkejut. Pasalnya pengemis tersebut memakai baju compang-camping dengan rambut berantakan.
Intan menoleh Natta yang juga melihatnya. "Bang, ada uang 5 ribu nggak?"bisik Intan pada Natta yang langsung merogoh dompetnya.
"Nggak ada 5 ribu"Natta menyodorkan uang 20 ribuan pada Intan yang langsung mengambilnya. Kemudian Intan merogoh saku celananya kebetulan ada uang 5 ribu.
"Maaf Bu Intan hanya punya segini"Intan memberikan sejumlah uang 5 ribu pada pengemis tersebut.
"Iya, terimakasih Nak"ucap pengemis tersebut berlalu sambil menatap tajam uang 20 ribu yang Intan pegang.
Natta menganga melihat Intan memasukan uang yang di kasihnya malah gadis itu masukan ke saku celananya. Pria itu hanya menggeleng-geleng.
Rugi negara kalau punya gubernur kaya Intan. Korupsi
Keduanya melangkah kembali. Namun saat memasuki warung, seorang anak kecil kira-kira seumuran 8 tahun menawarkan kerupuk pada Intan.
"Kerupuknya kak, cuma 5 ribu"ucap anak lelaki tersebut dengan membawa ranjang penuh kerupuk.
"Satunya berapa dek?"tanya Intan memilah-milah kerupuk tersebut.
"5 ribu aja kak"
__ADS_1
"Kakak beli 4 yah"Intan mengambil 4 bungkus kerupuk dan memberikan uang 20 ribu tadi pada anak itu.
"Makasih kak"ucapnya dengan senyum senang karena sudah ada yang membeli kerupuknya.
Intan tersenyum berjalan menuju warung. Tanpa ia sadari Natta menatapnya heran. Pria itu memesan 2 porsi sate, karena sisa menu itulah yang ada. Kemudian duduk depan Intan.
"Gue heran sama lo, ibu tadi lo kasi 5 ribu. Dan sekarang lo malah beli kerupuk, banyak lagi. Lo mau makan semuanya?"tanya Natta yang membuat Intan tersenyum.
"Karena lebih baik usaha dari pada meminta-minta"jawab Intan singkat.
"Maksudnya?"
"Ibu tadi mengemis, hanya meminta-minta ke orang. Artinya dia tidak mau usaha, dia hanya mengandalkan belas kasihan orang padanya. Padahal kondisi mereka sama, tapi setidaknya adek tadi berusaha menjual kerupuk untuk menghasilkan uang, dari pada meminta-minta"jelas Intan.
Natta yang mendengarnya menatap Intan. Lama, gadis ini penuh kejutan. Rasa empati pada seseorang sangat tinggi, dan hatinya sangat sulit di tebak.
"Menakjubkan, tapi lo berbuat baik atas nama lo. Padahal duitnya, duit gue"sindirnya melirik sekilas.
"Hhehehe iya juga. Habis gimana? Intan nggak bawa duit"
"Iya-iya,lo bener"ucap Natta yang ingin mengakhiri obrolannya.
Tak lama, pesanan mereka sudah tertata di meja. Perut Intan yang sudah keroncongan pun segera meminta diisi, gadis itu dengan lahap memakannya hingga habis tak tersisa.
"Hari ini abang nggak buka Cafe?"tanya Intan usai mereka makan.
Pria itu menggeleng sambil melihat Intan "gue mau istirahat"ucapnya datar.
Intan mengibas-ngibaskan tangannya menghilangkan asap rokok pria itu yang membuat dadanya sesak. "uhhuk... Matiin dulu rokoknya Intan sesak"ucapnya sambil terbatuk.
Natta memperhatikan rokoknya yang baru saja ia isap. Sangat di sayangkan jika dimatikan pikirnya.
Tapi kasian pada gadis itu tampak susah bernapas. Akhirnya Natta mematikan rokok itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Kalau lagi sama Intan itu jangan ngerokok. Intan suka sesak napas"ucap Intan dengan wajah cemberutnya.
"Tadi sampai mana? Oh,iya dari pada istirahat di rumah nggak ngapa-ngapain. Mending ke pantai, biar nih otak nggak mikir tante itu terus, bang Natta pasti bisa lupain dia"
"Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, gue sama Thea dulu saling melengkapi. Entah mengapa sekarang dia berubah, dia bukan seperti Thea yang dulu gue kenal"tutur Natta menatap tangannya dengan sorot mata yang kosong. Terlihat jelas pria itu merasa sakit, entah itu dalam hal percintaan, pertemanan atau bahkan keluarga.
Intan tersenyum, ia mengerti apa yang Natta rasakan saat ini. Makanya ia berniat menghibur pria itu supaya tidak larut dalam kesedihan dan kesepian. Kalau Natta memilih diam dan memendam jika ada masalah, berbeda dengan Intan yang lebih memilih menghibur diri atau menceritakan keluh kesahnya pada orang. Itupun kalau orang tersebut mendengarkan ceritanya.
"Mau berapa tahun pun, mau seabad sekalipun. Kalau dia memang nggak di takdirkan untuk abang, untuk apa mengharapkannya? Sama halnya, mau dia sejauh apapun. Jika dia memang untuk bang Natta, dia akan kembali dengan sendirinya"
"Jadi berhenti mengharapkan yang tidak pasti. Dan jangan pernah merasa sendirian karena masih ada Tuhan yang menemani kita, Intan bukan bermaksud menggurui. Intan hanya menyampaikan apa yang ingin Intan sampaikan"
Sekali lagi Natta melihat sisi Intan yang dewasa. Ia tersenyum mengacak-acak rambut gadis itu.
"Siap bu guru!"
__ADS_1
🦋🦋🦋
Intan baru saja ingin keluar dari rumahnya, sementara Natta menunggu di luar. Ia pulang ke rumah hanya ingin berganti pakaian dan mengambil ponselnya. Namun, di tengah perjalanan Nawan memanggil Intan yang berjalan mengendap-endap di ruang tamu.
"Mau kemana lo?"tanya Nawan melihat Intan yang berpakaian rapi.
"Eh kak Nawan. Eee itu, Intan mau jalan-jalan sama teman"jawab Intan gugup. Jangan sampai Nawan tau kalau ia kesini dengan Natta.
"Semalam lo tidur dimana?"tanyanya penuh selidik.
"Kan Intan udah bilang. Intan nginap di rumah Fany"jelas Intan.
"Lo anaknya nggak bisa bohong Intan"
"Gue tanya Fany, dia bilang lo nggak ada di rumahnya. Lo tidur di rumah siapa?!"tanya Nawan tegas. Sebagai seorang kakak, ia wajib memperhatikan adiknya. Apalagi adiknya itu perempuan, ia tak mau Intan kenapa-kenapa.
"Emmm i-itu...."
Tit.... Tit....
Suara klakson motor sontak membuat Intan membulatkan matanya. Ia melihat Nawan yang menatap ke arah pintu.
"Itu siapa?"tanya Nawan sembari melangkah menuju keluar.
"Bu-bukan siapa"Intan menahan Nawan agar tidak keluar rumah dan melihat Natta disana. Cukup kejadian kemarin yang membuat asmanya kambuh, dan jangan sampai terulang lagi.
Tidak berhenti, Nawan malah makin curiga. Pria itu berlari menuju keluar melihat siapa yang membunyikan klakson tersebut. Intan panik di buatnya.
"Lo ?"Nawan menunjuk Natta yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Lo itu yang kemarin kan? Lo ngapain deketin adek gue?"Nawan yang mudah tersulut emosi pun mendekati Natta yang dengan santainya turun dari motor. Sementara Intan menggigit bawah bibirnya panik.
"Hei, santai bro! gue cuma ajak adek lo jalan-jalan. Apa tidak boleh?"Api di lawan api tidak akan menyelesaikan masalah, Natta berusaha menenangkan Nawan.
"Gue Natta, seperti yang lo lihat. Gue bukan seumuran dengan kalian, artinya gue lebih tua dari lo"ucap Natta, memberi peringatan halus pada Nawan untuk bersikap lebih sopan.
"Pertama, gue sama Intan temenan. Intan udah gue anggap sebagai adek gue sendiri. Kedua, gue nggak ada niat jahat sama adek lo. Ketiga, mungkin sekarang gue sering ketemu sama Intan"Natta tersenyum pada Nawan yang menatapnya tajam.
"Gue harap kita bisa akrab"Natta menepuk pundak Nawan, pria itu memasang helmnya dan memandang Intan mengisyaratkan gadis itu segera naik.
Intan memandang Nawan yang juga melihatnya "kak, Intan pergi dulu ya"pamitnya sambil menaiki motor.
"Gue pinjam adek lo bentar ya. Entar gue balikin"ucap Natta mengedipkan sebelah matanya kemudian melajukan motor tersebut dengan kecepatan normal.
"Awas kalau Intan kenapa-napa. Habis lo!"teriak Nawan.
Natta mengangkat tangannya menaikkan jari jempol menandakan ia mengerti. (Emot ini guys 👍)
.
__ADS_1