Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Paket


__ADS_3

Intan POV


Rasanya sangat membosankan, dari tadi kak Michael terus mencari topik pembicaraan. Ia terus bertanya tentang hal yang aku suka dan cerita masa kecilnya yang sangat tidak menarik menurutku. Aku sampai mengantuk mendengarnya.


Dering telepon membuatku kantukku menghilang, aku segera mengangkat telepon dari kak Nawan.


"Kak aku angkat telpon dulu ya"dia mengangguk, aku segera menjauh darinya.


"Hello Intan. Lo tau nggak rumah Bening dimana?" terdengar suara kak Nawan dari sebrang sana.


"Tau kak, emangnya ken----" ingin bertanya kenapa dia bertanya hal itu. Namun aku tak sempat melanjutkan ucapan'ku keburu di potong olehnya.


"Kirim sekarang ke gue alamat rumahnya!" suaranya terdengar sedang panik. Apa terjadi sesuatu pada Nining? Ah kuharap tidak.


"Iya Intan kirim sekarang"balasku langsung mengirim alamatnya lewat pesan. Setelah itu kak Nawan mengakhiri panggilannya.


Aku menghela napas, melangkah kembali menuju kursi di bawah pohon ceri dimana ada kak Michael di sana.


"Nawan ya?"tanya Kak Mic yang langsung ku jawab dengan anggukan.


"Udah sore, kak Mic nggak dicariin Om Ken?"aku mencoba mengusirnya secara halus. Aku ingin merebahkan diriku secepatnya gara-gara mendengar cerita tadi membuatku mengantuk.


"Dia nggak pernah nyariin aku. Pikirnya aku udah gede, nggak perlu di cariin entar juga pulang sendiri"


Aku tersenyum, kalau dipikir iya juga. Diakan cowok ya pastilah bebas pulang kapan aja, terlebih lagi anak orang kaya.


"Hoooaaammm" astaga! Aku sampai menguap di depannya. Dia tertawa melihatku.


"Ngantuk ya? Yaudah kalau----"ucapannya menggantung saat terdengar bunyi dering ponselku lagi.


Segera kulihat siapa yang menelepon. "Bang Natta🦍 " mata yang mula ngantuk berat itu kini menjadi segar setelah melihat siapa yang meneleponku. Saking senangnya aku berdiri sampai tak menghiraukan Kak Michael.


"Hello, iya kenapa?" Aku tersenyum mendengarnya. Aku tau dia bermaksud untuk bercanda.


"Lah yang telpon siapa?"


"Oya! Saya ya?"


"Emmm begini, apa benar ini dengan ibu Intan Prasasti?"


Aku tertawa kemudian mengangkat tanganku mengisyaratkan Kak Mic untuk menunggu sebentar. Aku menjauh dari sana menuju tempat tadi.


"Maaf pak, sepertinya bapak salah alamat. Nama saya Intan Prameswari Pak, bukan Prasasti"jawabku membalas candaannya.


"Oh begitu ya? Tapi sepertinya saya salah sambung bukan salah alamat. Dan setelah saya baca lagi Ibu benar. Tulisannya Prameswari. Maaf atas kesalahan menyebutnya"


"Di maafkan pak"


"Terimakasih atas pengertiannya. Sebentar lagi paket Ibu segera datang"


"Hah? Paket? Paket apa si bang?"tanyaku mengakhiri drama kurir dan pemesan itu.


"Nanti lo juga tau. Lo sekarang dimana?"


"Di rumah"


Bersamaan dengan itu, Bi Ani memanggilku.


"Iya Bi !"sahutku setengah teriak.


"Nah paketnya udah nyampe! Gue tutup ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"jawabku kemudian bibi menyerahkan paket padaku. Paketnya berbentuk kotak lumayan besar aku jadi penasaran apa isinya.


"Dari siapa Bi?"tanyaku memastikan.


"Bibi juga nggak tau Kak. Tadi bibi tanya kurirnya katanya kakak tau"balas Bi Ani.


Dia memanggilku 'Kak' sejak aku umur 5 tahun. Bi Ani sudah ku anggap ibu kandungku sendiri, dia yang merawat dan membesarkanku sampai saat ini. Ahh aku sayang padanya.


"Oh, yaudah makasih Bi"

__ADS_1


"Iya kak, Bibi lanjut kerja dulu ya"Bi Ani berlalu melanjutkan pekerjaannya.


Aku memandang paket yang masih berbungkus itu sambil tersenyum. Senang rasanya mendapat sesuatu dari bang Natta.


"Dari siapa? Seneng banget kayanya"tanya kak Mic. Aku hampir lupa masih ada dia.


"Dari teman"jawabku sembari duduk.


"Cewek atau cowok?"


"Cowok"saking senangnya aku asal menjawab saja.


"Oh"


Dengan semangat aku membuka paket tersebut tidak sabaran. Hal pertama yang aku dapati adalah boneka sapi yang sangat lucu. Aku jadi teringat boneka babi yang di beri kak Nawan hampir mirip.


Setelah kubuka lebih dalam lagi aku mendapat lampu tidur berbentuk bulan dengan boneka yang tertidur disana. Ahhh manis sekali, aku sangat senang mendapatkannya.


"Sesenang itu?"hingga akhirnya aku tersadar ada kak Mic disana.


Pasti senanglah masa nggak, ingin ku jawab begitu tapi yasudahlah...


"Iya, Intan suka"ucapku tersenyum sambil melihat boneka dan lampunya.


"Dari siapa sih?"tanya kak Mic. Dari nada suaranya terdengar sedang kesal.


"Dari seseorang"jawabku memang sengaja tak memberi tahunya.


"Kamu sayang sama dia?"


Aku bingung menjawab apa, semenjak aku mengenal bang Natta. Aku sayang padanya seperti aku sayang pada kak Nawan tapi perasaannya berbeda. Aku sayang karena aku rasa, aku jatuh cintanya padanya, tapi kalau kak Nawan aku sayang karena dia kakakku.


"Hmm sayang banget"jawabku pelan.


"Kenapa ya? Rasanya sakit banget?"kak Michael memegang dadanya, apa perkataanku menyakitinya? Kalau iya, kenapa bisa?


"Sakit tau denger kamu sayang sama orang lain. Jadi nyesal aku baru kenal kamu sekarang"


"Kamu ngerti nggak perasaan aku gimana? Aku tuh udah berusaha buat kamu suka sama aku. Tapi kamu'nya memang gak suka" aku ingin menyela setelah itu namun dia melanjutkan ucapannya lagi sambil memegang tanganku.


"Kalian pacaran aja dulu, masalah hati belakangan. Intan itu hanya perlu cowok yang bikin dia nyaman"sambung Mama tiba-tiba datang. Aku baru saja ingin berbicara tapi sudah keduluan. Dia duduk di sampingku sambil memegang bahuku.


"Coba aja, siapa tau dengan kalian pacaran kamu jadi suka sama Mic. Iyakan Mic?" Kak Mic mengangguk, dia seperti mendapat angin segar dari mama. Tapi mama salah! Orang yang bikin aku nyaman dan bahagia cuma bang Natta doang, gak ada yang lain.


Aku jadi bingung harus menjawab apa. Apa aku coba aja ya? Mungkin dengan begitu perlahan-lahan perasaan aku ke bang Natta menghilang. Ya, aku pikir itu baik. Bang Natta juga hanya menganggap aku adiknya tidak lebih.


"Michael itu udah ganteng,baik,pinter,kaya lagi. Kamu mau cari yang bagaimana?" Mama Rianti kembali berusaha memprovokasiku.


Dengan senyum aku menggenggam tangan kak Michael, berusaha lebih akrab. "Okey, Intan mau jadi pacar kak Michael" kata tersebut keluar begitu saja dari mulutku. Jujur aku tidak merasakan apa-apa dekat dengannya. Tapi kalau bersama bang Natta jantungku berdenyut hebat.


"Jika ini hanya karena keterpaksaan. Sebaiknya jangan, karena akan sangat menyakitkan untukku"ucap kak Michael melepaskan genggaman tangannya dariku.


"Intan nggak terpaksa kak. Tadi benar kata Mama, apa salahnya mencoba? Tapi kalau itu membuat kak Mic sakit sebaiknya berhenti sampai disini"


Dia tersenyum kemudian menautkan tanganku dan tangannya kembali.


"Okey, mulai hari ini kita resmi pacaran!"serunya terlihat senang. Aku tersenyum kemudian memandang mama Rianti yang tampak mengangguk-angguk puas. Ahhh terserah lah...


🦋🦋🦋


Author POV


Malam berkelabu, daun-daun berguguran tertiup oleh angin. Jalanan tampak sepi, udara yang begitu sejuk terasa menusuk pori-pori kulit.


Nawan baru saja tiba di rumah Bening, ia lihat rumah Bening yang sederhana terlihat banyak tumpukan sampah di sudut rumah. Ia kembali mengecek ponselnya memastikan alamat rumahnya benar.


Kemudian pria itu melangkah mengetuk pintu rumah Bening, sudah tiga kali ia mengetuk dan memanggil nama gadis itu. Tapi tak ada sahutan dari dalam.


Pria itu mengintip sedikit jendela rumah itu. Bola matanya tertuju pada sepatu Bening yang di pakainya tadi.


Ia pikir Bening ada di rumah. Gadis itu sengaja tak membukakan pintu untuknya. Setelah memastikan Bening pulang dalam keadaan selamat pria itu hendak pergi. Namun, suara detingan benda jatuh yang lumayan keras membuat langkahnya berhenti. Tak pikir panjang, Nawan membuka paksa pintu. Mendorongnya sekuat tenaga.

__ADS_1


Pintu'pun terbuka. Ia terkejut melihat isi rumahnya yang ada beberapa botol minuman alkohol, bir, bungkusan rokok, kulit kuaci berserakan dan pecahan guci di lantai.


"Bening?!"panggilnya sembari mengitari rumah. Pria itu terus mencari Bening di seluruh penjuru rumah.


Sementara itu Bening menangis di balkon atas rumahnya. Gadis pemberani dan tangguh itu kini tampak menyedihkan. Bahunya terlihat naik turun.


Terbesit dipikirannya saat melihat jalanan dari atas sana. Ia ingin mengakhiri hidup.


Gadis itu menyeka air matanya, kemudian melangkah maju dengan tatapan kosong. Air matanya mengucur deras.


"Tuhan.... Aku tak ingin menyalahkan'MU aku saja yang terlalu lemah menjalani kehidupan yang aku jalani. Aku rasa cukup sampai disini, terimakasih semua suka citanya aku pamit...."


Bening memejamkan mata, bersiap untuk terjun ke bawah. Sialnya seseorang menarik dirinya hingga kembali ke tengah-tengah.


"Lo gila !! Otak lo dimana hah?"ucap Nawan. Ia marah pada gadis itu yang mencoba bunuh diri.


"Lo ngapain narik gue!! Gue mau mati!"Bening menatap penuh amarah pada Nawan dengan napas yang memburu.


"Lo mau loncat? Loncat aja! Lo kalau mau bunuh diri, mikir dikit kek! jangan disini! Di gedung sana! Biar mati sekalian! Kalau lo loncat disini nggak akan mati! Yang ada kaki lo patah!"


Benar kata Nawan, balkon rumah Bening hanya berjarak 15 meter dari tanah. Hingga kemungkinan Bening tidak akan langsung mati.


Bening terdiam sejenak. Air matanya mengalir begitu saja. Ia menjatuhkan dirinya di lantai, sungguh dia tak berdaya lagi.


"Gue capek Nawan! Gue capek! Buat apa gue hidup nggak ada gunanya begini? Keluarga gue,hidup gue, semuanya hancur berantakan! Yang ada rasa sakit yang gue rasakan!"


"Iya, hidup lo hancur! Lo sangat menyedihkan! Tapi pernah kah lo berpikir bunuh diri itu jalan yang benar?!"


"Hidup lo itu udah menyedihkan! Apa lo juga mau mati menyedihkan hah?"


Bening terdiam, yang bisa ia lakukan hanya menangis dan menangis.


"Hidup nggak akan berakhir hanya karena hari ini menyedihkan buat lo"ucap Nawan pelan.


Bening mendongak menatap wajah Nawan "lalu apa yang harus gue lakukan setelah ini ? Apa gue akan menjalani hidup yang setiap harinya menyedihkan lagi?"


"Berdiri lo!"perintah Nawan. Bening hanya diam tak menuruti perintahnya.


"Gue bilang berdiri Bening!"sergah Nawan. Bening dengan sangat terpaksa berdiri menatap wajah Nawan dengan datar.


Tak terduga! Nawan memeluk gadis itu erat "Gue janji, setelah lulus nanti. Gue kerja buat kehidupan lo,gue akan membahagiakan lo"ucapnya tulus.


Bening mendorong kasar tubuh Nawan hingga pelukannya terlepas.


"Gue nggak butuh janji!! Emangnya lo siapa?"


"Apa perlu gue bilang, gue cinta sama lo?"


Bening terkisap dengan perkataan Nawan. Apa ini mimpi? Mimpi yang menyakitkan?


"Jangan bilang cinta ke gue, hanya karena lo merasa kasihan. Gue nggak butuh belas kasihan lo!"


"Terserah kalau lo nggak percaya. Intinya gue cinta sama lo. Gue sadar lo suka sama gue udah lama, perlahan-lahan gue amati pergerakan lo. Lo mulai lirik-lirik gue, lo nguping kalau gue di tembak cewek di sekolah dan lo kesal liatnya. Lo selalu mau kalau Intan ajak lo ke rumah"


"Dan entah dari mana perasaan itu muncul, gue suka cara lo. Diam-diam gue juga merhatiin lo"


"Terus kenapa kemarin gue nembak lo tolak!" Entah perasaan apa itu, kini hatinya campur aduk. Antara senang, sedih dan hancur.


"Karena waktunya nggak tepat! Seharusnya gue yang bilang bukan lo. Sekarang waktunya juga gak tepat, tapi gapapa"


"Emmm gimana ya bilangnya?"tiba-tiba jadi kikuk.


Tangis Bening semakin menjadi, tanpa babibu ia memeluk pria itu sangat erat seakan tak ingin melepaskannya.


"Gak perlu bilang apa-apa. Gue mau kok!"ucapnya sambil menangis dalam pelukan Nawan.


Pria itu tersenyum mengusap rambut gadis itu.


"Udah,jangan nangis lagi ya"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2