Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Pagi yang cerah


__ADS_3

"Uwuuw lezat sekali keliatannya"gumam Fany melihat makan malam hari sangat mengunggah selera.


"Ya, iyalah orang masakan rumah makan Uwa yang terenak di Bali"sambung Intan sambil melahap makanan.


"Ning tolong ambilin gue nasi dong!"Fany meminta tolong Bening untuk mengambilkan nasi untuknya sebab jarak nasi tersebut jauh sekali dari tempat duduknya.


Namun saat mengambil sendok nasi secara bersamaan Nawan juga ingin mengambil sendok yang sama alhasil tangan mereka sempat bersentuhan. Dengan rasa canggung Bening mempersilahkan Nawan mengambil nasi duluan tanpa sepatah katapun.


"Jadi bibi kamu disini buka usaha rumah makan ya?"tanya Kendrick membuka pembicaraan sambil mengunyah makanan dengan santai.


"Iya Om, Uwa punya usaha sendiri dengan masakan khas Bali. Bahkan Uwa punya lima cabang di kota ini"Intan dengan senang menceritakan kehidupan keluarganya.


Kendrick mengangguk-angguk paham "kalau kesibukan paman kamu apa?"


"Kalau itu sih kurang tau Om, Kak Nawan biasanya yang berpergian sama Uwa"


"Saya juga kurang tau sebenarnya karna pekerjaan Paman nggak menentu. Tapi setau saya sekarang dia lagi sibuk mendirikan perumahan"sambung Nawan, keluarga Pamannya itu terbilang cukup kaya dan harmonis. Sehingga ia dan Intan nyaman tinggal di rumah kedua paman dan bibinya sebab anak-anak mereka juga masing-masing sudah berumah tangga dan biasanya akan pulang ke Bali pada hari raya atau akhir tahun.


Mereka semua terlibat obrolan panjang di meja makan itu Fany,Intan serta Bening terlihat asik mendengar cerita kehidupan orang pada jaman dahulu dari Kendrick. Begitupun dengan Natta dan Nawan keduanya terlihat mengangguk-angguk saja ketimbang memberi pertanyaan seperti yang di lakukan para wanita.


******


Hari mulai larut, selesai bersenang-senang mereka harus bersedih karena mengantar Intan yang hendak pulang ke rumah pamannya diantar oleh sang kakak. Padahal tidak sampai satuminggu, tapi mereka sampai menangis mengantar kepergian Intan yang seolah pergi 1 abad.


"Kalau udah nyampe kabarin aku ya"ucap Natta dengan nada sedikit sedih.


"Siap! Kamu jangan macam-macam disini ya, awas aja kalau gitu!"ancam Intan dengan pelototan matanya.


"Lo tenang aja Tan! Kalau dia macam-macam di jamin kepala,kaki, tangannya pisah"sambung Bening menyingsing lengan bajunya dengan percaya diri.


"Sebelum itu gue dulu yang bius dia"sambung Nawan memandang Bening yang meliriknya sekilas.


"Kalau bius doang mah gapapa"pria itu dengan santai mengatakannya seolah ia ingin berbuat hal yang di larang tersebut.


"Habis bius buang ke laut"lanjut Nawan yang membuat Natta menelan slavianya.


Ngeri juga.


"Udah ah... Ayo pulang, aku ngantuk!"mata Intan terlihat sayup, hari ini ia juga bangun terlalu awal.


"Sayang!"panggil Natta merentangkan keduanya dengan wajah memelas.

__ADS_1


Intan menoleh Nawan dan juga sahabat-sahabatnya.


"Nanti aja! Nunggu udah sah"Nawan menarik kembali tubuh Intan yang hendak memeluk Natta.


"Uuuu emang enak!"ejek Fany yang menambah kesal Natta.


"Sabar-sabar aja dulu. Nanti juga puas, okay?"ucap Intan mencoba menghilangkan kekesalan Natta yang kini mengangguk patuh. "yaudah kalau gitu aku pamit ya, dadaa!"pamit Intan melambaikan tangan pada Natta dan para sahabatnya.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, kakak beradik itu berpapasan dengan sepasang kekasih yang baru saja pulang dari jalan-jalan.


"Intan? Mau kemana?"tanya Vira yang baru saja sampai Vila bersama Michael.


"Mau pulang ke rumah bibi kak"jawab Intan.


"Oohh"Vira mengangguk-angguk.


"Tau jalan pulang juga kalian, kirain nginep di hotel"celetuk Nawan melirik temannya itu yang sepertinya telah bersenang-senang.


"Tadinya sih mau gitu, tapi takut orang-orang disini pada nyari"ucap Vira.


******


Pagi-pagi sekali Michael terbangun, badannya terasa remuk semalaman tidur di sofa. Dengan kesadaran belum penuh, pria baru saja bangun tidur itu menuju dapur tenggorokannya terasa sangat kering. Namun saat tiba di dapur mata Michael menyipit melihat seseorang yang sedang membuka pintu kulkas.


"Vir?"panggilnya.


"Ee... Kamu butuh sesuatu?"tanya Vira membuyarkan lamunannya, ia rasa kekasihnya itu memerlukan sesuatu.


"Aku haus"Vira segera menuangkan air untuk Michael yang langsung meminumnya hingga tak tersisa.


"Kamu sedang apa?"melihat Vira memegang botol berisi susu putih Michael pikir Vira membuat sesuatu.


"Aku nggak bisa tidur karena perutku lagi nggak enak jadi aku membuat sereal dan teh hangat untuk menghangatkan tubuh"karena perjalanan tadi malam berangin membuat perutnya kembung "kamu mau aku buatkan juga?"tawarnya.


"Boleh"


*


Deru ombak terdengar mengalun menghiasi pendengaran serta cakrawala baru saja terbit di ufuk barat meninggalkan secercah warna jingga yang memanjakan mata. Di gazebo pinggir pantai tampak sepasang kekasih sedang menikmati momen tersebut.


"Cantik ya?"tanya Vira menatap Michael yang memandangi lautan yang sangat luas itu.

__ADS_1


Michael mengangguk menoleh wajah wanita cantik yang duduk di sebelahnya "kamu juga nggak kalah cantik dari sunset"tatapan yang begitu dalam yang mampu membuat Vira jatuh lagi ke dalam-dalamnya.


Vira tersenyum hangat, pujian itu terdengar sangat tulus dari pada orang lain yang memuji dia sebelumnya.


"Kamu cantik tanpa pake make up"dapat ia lihat dengan jelas lekukkan wajah wanita itu. Bibir tipis pink natural,hidung kecil yang mancung dimana terlihat ada tahi lalat di batang hidung tersebut yang menambah kesan ayu di wajahnya.


"Kalau aku pake make up nggak cantik?"


"Cantik, tapi aku lebih suka wajah kamu yang seperti ini"


Vira mengangguk-angguk mengiyakan, rasanya senang sekali mendapat pria seperti Michael yang menerima apa ada dirinya "kamu nggak dingin?"tanya Vira melihat pakaian Michael yang sangat tipis terlebih suhu udara pagi hari meningkat menjadi 24C°


Michael menggosok-gosok telapak tangannya lalu kemudian meraih tangan Vira menggenggam jemari halus dan terasa hangat itu dengan kelembutan.


"Dengan begini aku tidak akan kedinginan"ucapnya sembari tersenyum, jujur pria itu masih merasa canggung disamping Vira sebab baru kali ini ia merasa benar-benar jatuh cinta kembali.


"Sudah mulai berani ya...?"awal-awal Vira menyadari Michael masih merasa canggung berada di dekatnya tapi sekarang kekasihnya itu sudah mulai berani menggenggam jemarinya tanpa rasa canggung.


******


Disisi lain tampak seorang gadis berlari di bibir pantai sambil mendengarkan lagu dari earphone yang tersemat di telinganya. Dari pakaiannya sudah terlihat jelas gadis itu sedang berolahraga.


Ya, gadis cantik itu bernama Bening. Ia sudah bangun sejak subuh tadi sebelum Vira dan Michael bangun. Sesaat Bening melihat kedua pasang kekasih itu tertawa mestra di atas sana yang membuatnya teringat kembali hubungannya dan Reihan yang kandas beberapa hari lalu. Dengan napas yang tersengal-sengal Bening melanjutkan langkahnya, berlari lebih cepat hingga kemudian berhenti tepat di gempuran pasir putih yang terasa lembut. Gadis itu mengatur napasnya yang memburu sambil memandang air yang terlihat tenang dan menyejukkan.


Namun ia terkejut melihat seseorang tiba-tiba menyampirkan jaket pada tubuhnya "kamu bisa masuk angin terkena angin laut"pria itu duduk di samping Bening, memeluk kedua lututnya.


Bening membenarkan jaket tersebut agar menutupi tubuhnya yang sedikit terekspos sebab ia memakai tank top dan celana training "aku sedang tidak ingin berbicara"ucapnya tanpa menoleh lawan bicara, entah dari mana Nawan muncul pagi-pagi begini. Sebenarnya ia ingin bertanya.


Hening sesaat, hanya suara ombak yang terdengar mengalun di telinga.


"Maaf karena aku membawa kamu kesini"ucap Nawan tiba-tiba.


"Maksud kamu?"gadis itu memandang Nawan bingung.


"Aku yang paksa Fany supaya kamu ikut ke Bali"


"Aku tau"tidak terduga respon Bening akan sesantai itu. "kenapa kamu selalu suka seenaknya? Kamu kirim aku makanan,kamu kirim aku bunga,coklat dan barang yang nggak penting"memang semenjak hari Nawan tau Bening sudah putus pria itu sering mengirim barang dan makanan kerumah gadis itu "dengan kamu begitu aku merasa aku semakin menyedihkan tau nggak? Aku ngerti kamu berniat baik ngirim aku sesuatu terimakasih. Tapi ak---"


"Mau sampai kapan kamu menganggap hidup kamu menyedihkan terus?"tukas Nawan menatap mata Bening dengan sendu. Dari dulu gadis itu tidak pernah berubah, selalu menganggap remeh dirinya sendiri.


"Emang kenyataannya seperti itu! Aku nggak suka orang lain perhatian berlebihan sama aku, seolah aku perlu kasih sayang dari mereka dengan wajah yang sok prihatin. Padahal aku nggak perlu belas kasihan dari mereka! Itu sebabnya aku merasa aku menyedihkan karena orang-orang berfikir aku kurang mampu menghidupi diri aku sendiri"

__ADS_1


"Oke, kalau kamu nganggap orang lain hanya kasihan ke kamu. Tapi aku nggak Bening! Aku bukan orang lain, aku orang yang cinta sama kamu dari dulu hingga sekarang. Kamu salah nilai aku seperti itu, sakit mendengarnya"


__ADS_2