Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Minta maaf


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Natta dan Intan sudah sampai di Jakarta, mereka berangkat dari subuh sekitar jam 04.26 pagi. Sebab Natta tidak mau Intan bolos sekolah lagi hari ini, Intan yang kesal karena bangun terlalu pagi marah kepada Natta yang memaksanya untuk sekolah, padahal ia masih ingin berjalan-jalan di tempat A'a Indro, apalagi ibunya sangat baik padanya.


Cukup lama Natta menunggu Intan bersiap-siap sekolah, pria itu sampai menguap berkali-kali akibat bangun terlalu awal. Sementara Nawan yang baru selesai bicara dengan Intan membawakan kopi panas untuk Natta.


Dengan wajah masam, Nawan meletakkan secangkir kopi panas tersebut di atas meja. Ia merasa kasian pada Natta yang terus menguap dan menahan kantuk jadi ia berinisiatif menyediakan kopi. Tamu kepagian pikirnya.


"Thanks"ucap Natta sembari menyeruput kopi tersebut.


"Biar gue yang antar lo pulang"ucap pria berpakaian seragam itu, tidak mungkin juga ia suruh naik angkutan umum atau ojek sepagi ini.


"Gak usah, biar sekalian nanti Intan berangkat aja. Lagian rumah gue lumayan jauh dari sini"


"Intan nggak gue bolehin bawa motor dulu"


"Kenapa?"tanya Natta, dahinya sedikit berkerut mendengarnya.


"Gabisa di percaya, kalau di biarin. Pulang sekolah keluyuran kemana-mana. Dan nggak pulang-pulang sampai buat khawatir orang, kayak yang terjadi ini, pergi jauh nggak bilang-bilang, apalagi hpnya nggak aktif"ucap Nawan seperti mencurahkan unek-uneknya pada Natta.


Natta mengangguk, ia mengerti jika di posisi Nawan sebagai seorang kakak "gue ngerti, tapi ini salah gue juga sih. Gue yang tiba-tiba ajak dia ke tempat temen, gue kira rumahnya nggak jauh banget. Tenyata di pedalaman. Gue harap lo juga ngerti, jangan keras-keras sama Intan di masih butuh bimbingan"


"Ngomongin apa kalian?"sambung Intan tiba-tiba, rupanya gadis itu sudah siap dengan tas ransel di bahunya. Ia menuju rak sepatu dan memasang sepatunya sembari melihat dua pria yang duduk di ruang tamu itu dengan tatapan menyelidik.


"Kalian puas?"ucapnya kemudian, sambil menatap Natta dan Nawan bergantian. Ia masih marah dengan kedua pria itu yang melarangnya bolos sekolah dan melarangnya memakai motor. Arghhhh! Sial!


"Pakai mobil aja biar sekalian gue jemput Bening"


Tanpa ba bi bu merekapun berangkat, di perjalanan ketiganya saling diam. Tak ada yang memulai pembicaraan, Intan yang biasanya pencair suasana menjadi diam seribu bahasa. Natta yang di serang kantuk berat juga tak peduli sekitar, Intan malah makin kesal melihatnya.

__ADS_1


Tak lama, mereka sampai di kediaman Bening. Baru saja sampai, gadis cantik berparas ayu itu sudah melebarkan senyumnya kemudian masuk mobil duduk samping Nawan. Ya, sejak tadi ia bagaikan sopir bagi Natta dan Intan.


"Pagiii"sapa Bening ketika masuk.


"Pagi sayang"semakin kesini Nawan memang tak sungkan untuk memperlihatkan kemesraan di depan umum. Bahkan sifatnya yang dingin seketika hilang semenjak pacaran dengan Bening.


Mendengar itu Bening jadi menoleh ke belakang dimana Intan hanya menoleh keluar jendela sementara Natta hanya melirik sambil mendelik. Susana apa ini? Pikir Bening.


"Nggak usah peduliin mereka, anggap aja nggak ada"ucap Nawan pada Bening yang bingung. Ah, tak ambil pusing ia mengembalikan pandangan ke depan.


"Cantik banget kamu hari ini"ucap Nawan tiba-tiba sembari melanjutkan perjalanan.


Bening langsung melotot, tak biasanya Nawan seperti itu "apaan si?"tanyanya sedikit risih sekarang dengan pacarnya.


"Gapapa, kamu cantik aja"


"Sehat"jawabnya menurunkan tangan Bening dari dahinya kemudian menggenggam tangan lembut gadis itu yang terkejut. Ia refleks melihat kaca tengah, dimana ia melihat Intan melirik sinis.


"Apaan sih anjir"Bening segera melepaskan genggaman tersebut, tapi Nawan lagi-lagi berulah. Pria itu justru menggenggam dan menciumnya dengan mestra.


Bugh!!


Tiba-tiba saja ada tendangan keras berasal dari belakang kursi yang di duduki Nawan.


"Fokus"ucap Natta dingin, wajah pria itu seketika datar. Namun dalam hati geram pada Nawan yang seperti sengaja menunjukkan kemesraan di depan dirinya dan Intan.


Kurang lebih 15 menit mereka sampai di cafe Natta, pria itu turun dari mobil dan menutup pintu "buka"ucapnya mengisyaratkan Nawan untuk membuka jendela mobil, dan tertampanglah wajah Intan yang sedang cemberut disana "Gak usah lama-lama marahnya, nanti makin jelek"Kata pria berhodie itu menatap Intan yang membuang muka. "Gue masuk dulu, semangat sekolahnya. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi"tambahnya kemudian melambaikan tangan tak lupa juga ia ucapkan terimakasih pada Nawan.

__ADS_1


Gadis perajuk itu tetap stay Cool, dia sudah terlanjur marah. Saudaranya yang satu itu juga memarahinya tadi sampai mengambil kunci motor darinya sedangkan Natta memaksanya untuk sekolah, padahal dia tidak ingin bertemu dengan Davin sebab kata Nawan hari ini Davin ingin bertemu dengannya untuk mengucapkan maaf secara langsung. Uh malas sekali!


Tiba di sekolah Intan menjadi pusat perhatian. Murid-murid berbisik-bisik sambil memandanginya, Intan yang di pandang tak perduli. Tentu masalah ia dan Davin pasti sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah, tak heran jika para siswa membicarakannya. Soal membicarakan baik atau buruk, Intan tak ambil pusing. Biarkan mereka menilai sesuai pemikiran mereka masing-masing tentang dirinya. Toh dia tak perlu penilaian dari mereka.


Sementara Bening dan Nawan seperti biasa mereka tetap stay cool, tak sedikit juga siswi yang memandang sinis Bening karena bisa berdampingan dengan Nawan sang Idola sekolah.


Di saat-saat berjalan di koridor sekolah, tiba-tiba Michael datang. Sang ketua osis tersebut menatap mata Intan sejenak, ada rasa rindu di hatinya sedangkan Intan juga menatap balik Michael menunggu pemuda itu berbicara "Ikut aku"ucapnya meraih tangan Intan dan menuntunnya ke ruang guru. Gadis itu hanya mengikuti langkah Michael ia pikir ada urusan yang harus ia selesaikan dan Intan tahu itu.


Masuk ruang guru, wali kelas Intan sudah menunggu disana. Dan juga ada Davin, wajah yang sangat tak ia ingin ia lihat. "Hai Intan, apa kabar nak?"sapa Ibu Wati dengan lembut menuntun Intan duduk. Gadis itu hanya menjawab dengan senyuman menandakan ia baik-baik saja. "Intan pasti tau tujuan Ibu disini ingin membicarakan masalah kalian dengan baik-baik. Dan Davin sangat-sangat merasa bersalah akan hal itu, disini dia ingin minta maaf langsung pada kamu"terang guru tersebut mengisyaratkan Ravin segera melakukan tugasnya.


"Gue Davindra, minta maaf sama lo. Gue akui apa yang gue perbuat adalah suatu kesalahan, gue khilaf. Dan gue harap lo maafin gue"ucapnya mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Intan.


"Di maafkan"jawab gadis itu singkat, kemudian Intan berlalu pergi. Bu Desi serta Michael tercengang melihatnya dengan begitu mudahnya gadis bernama Intan itu memaafkan kesalahan Davin.


Michael memandangi Davin yang hanya cengengesan sungguh wajah itu membuatnya jengkel. Kemudian ia berlari menyusul Intan.


"Kok lo semudah itu maafkan dia?"tanya Michael sembari berjalan berdampingan dengan Intan. Soal hati ia tak berharap apapun lagi, tapi jujur pemuda itu masih menyukai gadis itu. Hanya saja ia ingin menjalin pertemanan yang baik dengan Intan.


"Terus kak Michael berharap Intan gimana? Marah-marah? maki-maki dia? Percuma, nggak akan merubah apapun"


"Tapi dia udah nyakitin lo Intan, lo marahin dia kek! Nasehatin dia kek! Kalau perlu lo jambak rambutnya. Ya setidaknya itu membuat hati lo lega walau nggak merubah apapun"


"Pengen sih, tapi dengan dia di keluarkan dari sekolah itu udah cukup buat Intan"


Michael mengangguk mendengarnya, ia pikir ada benarnya juga apa yang di bilang Intan. Hukuman di keluarkan dari sekolah lumayan setimpal dengan apa yang di perbuatanya.


"Kalau gitu Intan duluan ya, ada jadwal piket hari ini"ucapnya yang langsung dianggukki oleh Michael.

__ADS_1


"Lo baik Tan, gak salah gue jatuh cinta sama lo. Gue harap lo bahagia terus"lirihnya menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh.


__ADS_2