
Terlihat Vivian sudah berada di luar kamarnya.
"Berikan aku kartu pintu ini!" seru Vivian.
sesaat kemudian Haikal memberikannya.
"Kau tidak usah masuk kesini, carilah kamar yang lain!" seru Vivian yang kemudian membuka pintu itu dan hendak menutupnya. Haikal langsung memasukkan salah satu kakinya hingga membuat kakinya itu terjepit.
"Sayang, jangan marah. aku minta maaf!" seru Haikal.
"Kalau kau tidak mau menarik kakimu itu, akan ku jepitkan kembali pinitu ini!" seru Vivian.
"Tidak apa-apa, biarkan saja.. yang patah kan cuma kakiku saja." Jawab Haikal.
Vivian melihat keseriusan dari suaminya itu, akhirnya Vivian memilih untuk meninggalkan Haikal di luar pintu kamar mereka.
Saat itu juga Vivian langsung mengemasi pakaiannya. terlihat wanita itu hanya memasukkan baju-bajunya ke dalam salah satu itu kantong plastik yang ada di kamar itu.
"Apa yang kau lakukan!" seru Haikal yang melihat Vivian telah memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam kantong plastik.
"Aku mau kembali ke Jakarta." jawab Vivian.
"Memangnya kenapa?" tanya Haikal.
"Aku tidak suka berada di sini." jawab Vivian yang melanjutkan mengemasi baju-bajunya.
Haikal langsung menghentikan tangan Vivian yang mengemasi barang-barangnya.
"Aku minta maaf, aku tidak sengaja..aku tidak sengaja melakukannya!" seru Haikal.
__ADS_1
Vivian menatap wajah Haikal sembari menghela nafasnya secara kasar.
"Aku tahu usiamu dan usia ku itu jauh berbeda, kau adalah seorang pemuda yang masih berusia 20 tahun. sedangkan aku.. usiaku aku hampir memasuki usia 25 tahun. aku tahu kalau wanita itu seumuran denganmu, pasti kau sangat nyaman saat berbicara dengannya bukan, oleh karena itu aku akan meminta pada ayah untuk mengurus surat perpisahan kita. Aku kan sudah bilang waktu itu, kalau aku ini seorang wanita yang tidak terlalu menyukai apa yang kau sukai. terserah kau mau apa, lanjutkan hidupmu dan aku akan melanjutkan hidupku." ucap Vivian yang kemudian mengangkat pakaiannya.
Wajah Haikal langsung pucat pasi saat mendengar kata-kata dari Vivian. dia memang merasa bersalah bukan seperti itu, sesaat kemudian terlihat jantung Haikal tiba-tiba merasakan debaran yang membuat nafasnya langsung tercekat di tenggorokan.
Haikal bersimpuh sambil memegang kedua kaki istrinya itu.
"Aku benar-benar mencintaimu, Aku tidak pernah memandang usiamu. Aku mencintaimu dengan tulus." ucap Haikal sambil menitikan air matanya.
"Jika kau benar-benar mencintaiku, lalu apa yang kau katakan tadi. lalu apa yang kau perbuat tadi?" tanya Vivian. Haikal terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan sang istri.
"Maafkan aku...." ucap Haikal.
"Aku memintamu untuk mengantarkan ku kembali ke kamar, lalu apa jawabanmu.. kau menyuruhku untuk mencari salah satu pelayanan dan mengantarkanku ke kamar. Apakah kau tidak berfikir jika pelayan itu melakukan kejahatan padaku." ucap Vivian.
"Kelihatannya Kau sangat cocok dengan wanita itu, hanya dua kali pertemuan kau bisa langsung lupa padaku." ucap Vivian kembali.
Haikal memeluk kedua kaki Vivian dengan sangat erat nya,
"Aku benar-benar minta maaf, aku..aku benar-benar khilaf, Maafkan aku!" seru Haikal.
"Apakah kau tahu Kata khilaf itu apa, mungkin hari ini kau khilaf entah tidak akan tahu kemana langkah kaki kita yang selanjutnya." ucap Vivian. Haikal terus memegang erat kedua kaki Vivian.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku!" seru Haikal.
"Mungkin saat aku berpisah denganmu, kau bisa menemukan sebuah cinta yang benar-benar kau inginkan." ucap Vivian.
Haikal kembali menghela nafasnya, pria itu tiba-tiba langsung tidak sadarkan diri karena terlalu depresi saat mendengar kata-kata istrinya itu. tentu saja Vivian langsung terkejut saat melihat suaminya sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Dengan segera Vivian langsung meminta salah satu itu petugas hotel untuk mencari dokter untuk suaminya, setelah kejadian itu mereka akhirnya kembali ke Jakarta. Vivian memberikan kesempatan kepada Haikal, namun berbeda dengan salah satu anak pengusaha yang selalu mengincar pengusaha muda yang begitu dia idolakan.
Amrita benar-benar menginginkan Haikal untuk menjadi pendamping hidupnya, dia tahu kalau Haikal sudah menikah. namun dia tidak akan membiarkan pria itu tetap bersama dengan istrinya, hari ini Vivian ke perusahaan terlihat wanita itu membawa segudang rencana licik untuk membuat Vivian dan Haikal berpisah.
2 bulan kemudian
Hari demi hari Amrita terus mendekati Haikal, terlihat Haikal begitu nyaman saat berbicara dengan Amrita. seorang wanita yang usianya sama dengan Haikal.
Siang ini Vivian membawakan masakan untuk suaminya, karena tadi pagi Haikal meminta istrinya itu untuk dibuatkan masakan kesukaannya. Vivian mendatangi kantor suaminya, karena sudah beberapa hari dia harus ke perusahaan Pak Wiraguna untuk membantu mertuanya itu. Vivian membuka pintu kantor sang suami. terlihat di sana suaminya sedang berbicara dengan seseorang, Vivian membuka pintu kantor suaminya, yang terlihat di sana seorang wanita muda bersama dengan suaminya sembari bercanda gurau.
"Sayang!" seru Haikal yang melihat sang istri sudah datang.
Betapa terkejutnya Vivian saat melihat tangan Amrita terus memegang tangan suaminya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Vivian kepada Haikal.
Pria itu langsung menarik tangannya, saat tatapan mata Vivian menatap tangan Haikal
"Tadi dia bercanda mengenai garis tangan Sayang." jawab Haikal.
Vivian memberikan masakan yang telah dibuatkan olehnya.
"Ini, tadi kau meminta untuk ku buatkan masakan." ucap Vivian.
Haikal menghela nafasnya.
"Maaf ya Sayang, tadi di Amrita sudah membawakan aku makanan." jawab Haikal. Vivian menatap wajah suaminya itu yang tersenyum kepada Amrita, tentu saja Vivian sedikit kecewa saat mendengar jawaban dari Haikal.
** bersambung **
__ADS_1