
1 bulan kemudian
"Kau sedang apa?" tanya Vivian kepada Haikal. terlihat pria itu sedang memikirkan sesuatu hingga membuat Haikal seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat.
"Tidak apa-apa." jawab Haikal.
"Coba katakan, ada apa?" tanya Vivian kepada Haikal. pria muda itu memberikan sebuah surat kepada Vivian.
"Surat apa ini?" tanya Vivian.
"Bacalah." jawab Haikal. sesaat kemudian terlihat Vivian membaca surat yang diberikan oleh Haikal.
Vivian membuka sebuah lembar kertas yang diberikan oleh Haikal, tatapan matanya menatap selembar kertas yang bertuliskan mengenai masa lalu Haikal.
"Surat dari siapa ini?" tanya Vivian kepada Haikal.
"Itu adalah surat dari mantan pacarku." jawab Haikal tanpa berani menatap Vivian.
"Memangnya kenapa mantanmu mengirimi surat ini?" tanya Vivian.
Haikal menggelengkan kepalanya sembari menghela nafasnya secara kasar.
"Aku tidak tahu." jawab Haikal.
"Apakah dia tahu kalau kau sudah menikah?" tanya Vivian.
Haikal menganggukkan kepalanya.
"Lalu?" tanya Vivian.
Sedangkan saat berkata seperti itu malah Haikal menggelengkan kepalanya kembali.
__ADS_1
"Temuilah dia, aku akan ikut bersamamu." jawab Vivian.
Tentu saja kalau Pak Wiraguna mengetahui hal ini pasti Vivian akan diamuk karena tidak memperhatikan suaminya itu.
"Untuk apa aku menemuinya?" tanya Haikal.
"Tentu saja untuk memperjelas kalau kau itu sudah mempunyai istri." jawab Vivian.
"Apakah kau sedang marah?" tanya Haikal. Vivian mengelap wajahnya dengan salah satu tangan.
"Aku ini bukan sedang marah, Haikal. tapi aku ini sedang memberikanmu solusia kalau kau menyukai wanita itu kau bilang saja, kalau kau tidak menyukai wanita itu kau harus katakan padanya. sebagai seorang pria kau itu tidak boleh mengobrak-abrik hati seorang wanita, kalau suka bilang iya, kalau tidak ya minta dia untuk tidak selalu mengejarmu." jawab Vivian dengan tegas memang Vivian adalah sosok wanita yang sangat tegas dengan semua prinsip-prinsipnya.
"Apakah kau yakin?" tanya Haikal.
Vivian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, sebentar lagi aku akan mengajakmu ke salah satu kafe yang tidak jauh dari perusahaan ku ini." jawab Haikal.
"Di sebuah kafe Haikal mengajak Vivian ke tempat tersebut, tatapan mata Haikal mencari keberadaan mantan kekasihnya waktu mereka masih SMA. Haikal lulus SMA dimasa usianya yang masih 17 tahun. setelah itu dia sekolah sambil meneruskan bisnis sang kakak yang yang tidak sempat di besarkan.
Terlihat seorang gadis muda menemui Haikal dan langsung memberikan pelukan kepada pria itu. tentu saja Haikal sangat terkejut, apalagi disampingnya ada Vivian yang sekarang sudah menjadi istri sah nya.
"Haikal Aku sangat merindukanmu!" seru seorang wanita yang bernama Rindu.
"Apa yang kau lakukan Rindu, mengapa kau ingin menemuiku?" tanya Haikal sembari melepaskan pelukan Rindu.
"Aku sangat merindukanmu, Haikal. Aku sangat sangat merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku menyesal telah berpisah darimu." jawab Rindu yang kemudian ingin memeluk Haikal kembali.
Tentu saja Haikal langsung mundur sembari menatap wajah Vivian yang ada di sebelahnya.
"Adududu... ini cewek nggak lihat aku apa, Masa aku dianggurin. Dia kira aku ini tembok apa." guman Vivian sambil menatap seorang wanita yang berusia sama seperti Haikal. tentu saja Haikal langsung pucat pasi saat Vivian melihat adegan tadi.
__ADS_1
"Dengarkan aku Rindu, aku tidak bisa menjawab apapun dan aku tidak mau membahas masa lalu kita, karena kau sudah tahu kan kalau aku sudah menikah." ucap Haikal. Rindu menatap Haikal.
Gadis itu terlihat menangis sembari ingin memegang tangan Haikal, namun pria itu langsung menarik tangannya. Haikal mendekati Vivian sembari memberikan kecupan di pucuk kepala Vivian.
"Perkenalkan, namanya adalah Vivian. dia adalah istri Ku." ucap Haikal yang memperkenalkan Vivian kepada Rindu. tentu saja Rindu tidak percaya dengan hal itu.
"Kau pasti bohong kan Haikal." ucap Rindu.
"Mengapa aku harus bohong." jawab Haikal. tatapan mata Rindu menatap Vivian yang sedari tadi berada di samping mereka.
"Apakah kau yakin dia istrimu?" tanya Rindu kepada Haikal. pria itu menganggukkan kepalanya.
"Sudah jangan banyak bicara, lebih baik kalian duduk dulu aku neg..melihat adegan seperti ini." ucap Vivian yang kemudian menarik tangan Haikal dan duduk disampingnya.
Sesaat kemudian wanita itu membuka pembicaraan sembari menatap wajah seorang gadis yang seumuran dengan Haikal.
"Oh ya Rindu, Bukankah itu namamu." ucap Vivian. Rindu menganggukkan kepalanya.
"Kau kan sudah tahu kalau Haikal ini sudah mempunyai istri, aku adalah istrinya dan kau cuma mantannya. kau tidak melihatku apa, kau kira aku ini tembok..di depan mataku kau memeluk suamiku Kau kira aku ini tidak punya perasaan, Bagaimana jika aku berteriak hingga seluruh orang yang ada di cafe ini melihatmu sebagai seorang pelakor." ucap Vivian yang membuat Rindu langsung berdiri dan marah kepada Vivian.
"Kau itu tidak tahu mengenai Haikal, Kau tidak pernah tahu mengenai kehidupan dan kesukaannya, dan apapun soal Haikal!" seru Rindu.
Kemudian Vivian ikut berdiri sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Aku mau tanya, apakah kau tahu kesukaannya?" tanya Vivian. Rindu menganggukkan kepalanya.
"Apakah kau tahu apa yang dia benci?" tanya Vivian Lagi. Rindu kembali menganggukkan kepalanya.
"Dan Apakah kau tahu kalau pria ini telah menikahiku selama 1 bulan lebih, jadi kau tahu apa yang kami lakukan selama 1 bulan lebih itu?" tanya Rindu kepada Vivian yang membuat wanita itu langsung terdiam.
** bersambung **
__ADS_1