
Via telah keluar dari rumah sakit tersebut, langkah kakinya yang berjalan benar-benar membuat orang-orang yang ada di rumah sakit itu begitu terpukau. apalagi saat via membuka kacamata hitam nya, tentu saja para pria yang ada disana nampak terus menatap seorang wanita cantik. tentu saja aura dari Via yang memikat menarik para kaum adam. Bahkan via mengedipkan matanya ke salah satu Dokter yang ada di tempat tersebut.
Memang Via sekarang menjadi seorang wanita yang selalu suka menggoda para pria, langkah kaki Via terhenti saat melihat Dokter Harun sudah memasuki rumah sakit tersebut. ingin sekali wanita itu berlari kepada Dokter Harun dan mengucapkan terima kasih karena pria itu mau membantu suaminya.
"Tidak, aku tidak boleh melakukan hal itu. karena aku yakin hal ini akan menghancurkan semua rencanaku." guman Via dalam hati.
Akhirnya Wanita itu pergi meninggalkan rumah sakit, di sebuah tempat akhirnya Via memutuskan untuk mengirim motor kesayangannya itu menggunakan sebuah pesawat kargo.
1 Minggu kemudian akhirnya Vivian dan Pak Hendrawan sudah mulai dengan seluruh rencananya, kedua orang itu membeli sebuah rumah agar dia tidak bisa dikenali oleh orang lain.
"Kau sedang apa Via?" tanya Pak Hendrawan kepada Vivian.
"Aku sedang membeli beberapa kebutuhan ku, ayah dan aku juga membeli beberapa kebutuhan di dapur." jawab Vivian.
"Kau mau masak seperti biasanya?" tanya Pak Hendrawan kepada putri angkatnya tersebut.
"Tentu saja Ayah, memangnya siapa yang akan memasak di rumah kalau tidak aku, bahkan kita tidak memperkerjakan seorang pun di rumah kita." jawab Vivian.
"Katanya kau tidak ingin mengambil pembantu karena kita tidak ingin dalam masalah." ucap pak Hendrawan.
"Karena itulah Ayah, kalau bukan aku lalu Memangnya Ayah mau memasak?" tanya Vivian kepada ayah angkatnya.
"Tentu saja tidak, kan ayah tidak bisa memasak sama sekali." jawab Pak Hendrawan.
__ADS_1
"Kalau begitu Ayah duduk tenang di sana jangan sampai mengikutiku ke dapur, karena Ayah selalu menggangguku jika aku sedang konsentrasi memasak." jawab Vivian.
Akhirnya pak Indrawan meninggalkan Vivian, saat sekitar satu jam kemudian akhirnya ritual memasak itu sudah selesai. nampak terlihat kedua orang itu menyelesaikan ritual makan mereka, setelah itu Vivian menatap Pria tua yang ada dihadapannya itu.
"Apakah Ayah tahu aku tadi bertemu dengan siapa?" tanya Vivian kepada Pak Hendrawan.
"Memangnya kau bertemu dengan siapa?" tanya pak Hendrawan balik.
"Aku tadi bertemu dengan salah satu anak buah Andreas, kelihatannya pria itu sedang mencari tempat untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan." jawab Vivian.
"Dari mana kau tahu?" tanya Pak Hendrawan kembali.
"Tentu saja aku tahu ayah, bahkan salah satu pengawal dari pria itu mengatakannya kepada ku." jawab Vivian.
"Ayah menyindirku atau menghina ku?" tanya Vivian.
"Anggap saja keduanya." jawab Pak Hendrawan sembari tersenyum.
Tak berselang lama terlihat seorang pria tua juga memasuki tempat tersebut, siapa lagi kalau bukan Pak Salam.
"Bapak dari mana saja dari tadi kok enggak kelihatan?" tanya Vivian kepada Pak Salam.
"Aku tadi dari salah satu tempat kenalanku." jawab Pak Salam.
__ADS_1
"Apakah bapak sudah mendapatkan sebuah kabar?" tanya Vivian. Pak Salam nampak tersenyum sesaat kemudian pria itu langsung duduk bersama dengan Pak Hendrawan dan Vivian.
"Apakah Bapak boleh makan dulu?" tanya Pak Salam yang dari tadi menatap makanan yang ada di meja tersebut.
"Tentu saja boleh Pak, kita ini tinggal hanya bertiga kalau kita tidak saling berbagi kita mau apa lagi." ucap Vivian sambil tersenyum.
"Aku suka dengan semua kata-katamu karena kau adalah wanita tegas yang sangat luar biasa." jawab Pak Salam.
Sekitar 15 menit kemudian akhirnya Pak Salam sudah selesai dengan ritual makannya, pria itu memberikan beberapa berkas kepada Pak Hendrawan dan Vivian. tatapan mata Vivian menatap berkas tersebut.
"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh salah satu anak buah Andreas, kalau pria itu sedang memilih beberapa tempat untuk dibangun sebagai kawasan pusat perbelanjaan.
"Benar apa yang ku katakan tadi kan ayah, ternyata pria itu mencari beberapa tempat untuk dijadikan pengembangan proyek apartemen dan pusat perbelanjaan, bahkan dijadikan taman di tempat itu." jawab Vivian.
"Ternyata pria itu benar-benar begitu berambisi, bahkan ambisinya sebesar samudra yang ingin menelan orang-orang yang ada disekitarnya." jawab Pak Hendrawan.
"Apakah Ayah mau bermain sesuatu dengan ku?" tanya Vivian.
"Memangnya kita akan bermain apa?" tanya Pak Hendrawan kembali.
Akhirnya Vivian membuka ponselnya, terlihat disana wanita itu akan menghubungi Samsul dan teman-temannya, jika Vivian melakukan hal itu berarti Samsul akan menggerakkan seluruh teman-temannya untuk mencari tahu semua masalah dari Andreas.
** bersambung **
__ADS_1