
"Bodoh, bodoh, bodoh, Mengapa kehadiran Amrita membuatku melupakan wanita yang begitu kucintai." ucap Haikal sembari memukul setir mobilnya. pria itu benar-benar seolah telah melupakan wanita yang begitu dia perjuangkan.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Haikal telah sampai di kantor sang ayah. pria itu dengan terburu-buru memasuki kantor ayahnya, tentu saja pria itu terus mencari keberadaan sang istri yang berada di kantor ayahnya.
Ceklek..
Haikal memasuki kantor ayahnya, sesaat kemudian terlihat pria itu sudah berada di kantor ayahnya namun ruangan itu sedang kosong. salah satu sekretaris Pak Wiraguna mendatangi Haikal.
"Mas Haikal ada apa?" tanya sekretaris Pak Wiraguna.
"Di mana ayahku dan istriku?" tanya Haikal.
"Pak Wiraguna dan Mbak Vivian sedang keluar kota Mas, kelihatannya mereka akan ke luar kota selama 2 hari." jawab sekretaris Pak Wiraguna.
"Kenapa bisa seperti itu, kenapa ayah tidak mengatakannya padaku?" tanya Haikal.
"Saya tidak tahu Mas." jawab sekretaris Pak Wiraguna.
Akhirnya Haikal harus menerima kenyataan yang membuatnya terduduk di dalam kantor milik ayahnya. tentu saja dia terus meratapi kebodohan yang telah dia lakukan, dengan tanpa sengaja dia telah mencampakkan istrinya dan memberikan perhatian kepada wanita lain. tentu saja istri mana yang tidak akan marah, dia sangat lupa kalau dia harus membuat istrinya untuk jatuh cinta padanya, bukan membuat istrinya malah membencinya.
"Mengapa aku bodoh seperti ini, seharusnya aku tidak melakukan hal sebodoh ini." ucap Haikal.
"Apakah mas Haikal bisa aku buatkan minuman?" tanya sekretaris Pak Wiraguna.
__ADS_1
"Boleh ambilkan aku segelas kopi." jawab Haikal.
"Kopi hitam atau kopi susu Mas?" tanya sekretaris Pak Wiraguna.
"Kopi susu." jawab Haikal yang kemudian duduk di sofa kantor ayahnya. terlihat sekali kalau pria itu benar-benar merutuki kebodohannya.
Terlihat sekretaris Pak Wiraguna menelpon bosnya, karena pria tua itu sudah memberikan perintah kepada sekretarisnya jika suatu hari Haikal ke kantornya dia harus mengatakan kalau dirinya dan Vivian pergi keluar kota untuk melakukan dinas. padahal dia sudah merencanakan hal itu bersama sang istri untuk membuat Vivian sedikit melupakan kesedihannya.
Terlihat seorang wanita yang sedang tersenyum, wanita itu benar-benar begitu bahagia sambil merentangkan kedua tangannya. ternyata pulau Bali menjadi pilihan Pak Wiraguna untuk melepaskan kepenatan dan membuat Vivian melupakan masalahnya.
"Vivian mau belanja sama Bunda nggak?" ucap Bu Irma kepada menantunya.
"Memangnya Bunda mau beli apa?" tanya Vivian.
"Mau beli makanan dan mau beli souvenir, bunda mau beli souvenir khas pulau Bali buat ditempel di dinding kamar bunda." jawab Bunda Irma.
"Kalau sampai Bunda membeli barang-barang yang besar, lebih baik Bunda menyuruh pihak toko untuk mengirim nya. Ayah tidak mau membawa barang-barang itu dan memasukkan ke bandara." jawab Pak Wiraguna. Bunda Irma mencibir suaminya yang tidak pengertian sama sekali.
"Dasar suami tidak pengertian dan tidak sayang istri!" seru Bunda Irma yang kemudian mengajak ke suatu tempat yang ada di pulau Bali.
Pantai Kuta Menjadi pilihan bunda Irma.
Tatapan mata Vivian yang menatap salah satu tempat ketika dirinya sedang berada di pulau Bali bersama sang suami. tentu saja wanita itu terkadang memikirkan brondong manis yang telah menjadi suaminya.
__ADS_1
1 hari telah berlalu, tetap saja Haikal masih belum bisa menelpon sang istri, bahkan terlihat nomor Haikal telah diblokir oleh Vivian.
"Aku tahu aku bersalah padamu, tapi jangan lakukan hal ini. ini bisa membuatku mati."ucap Haikal. tentu saja Haikal sangat frustasi karena pria itu terus menelepon sang istri apalagi sekretaris Pak Wiraguna tidak mengatakan Di mana keberadaan suami dan ayahnya.
Tentu saja Haikal tahu kalau ibunya juga ikut pergi bersama ayahnya, dia terus memikirkan Dimana keberadaan sang istri. saat berada di kantornya.. setiap hari Amrita terus saja mendatangi Haikal, tentu saja hal itu sedikit mengusik Haikal karena Amrita lah istrinya tiba-tiba pergi.
"Hai Haikal, Lihatlah aku sudah membuatkan mu makanan kesukaanmu!" seru Amrita kepada Haikal. tatapan mata Haikal menatap Amrita, Entah mengapa kekecewaan dan kemarahan langsung ditampakkan oleh Haikal.
Brakkk..
Haikal langsung membuang kotak nasi yang dibawakan oleh Amrita, pria itu benar-benar kesal karena dia tidak mendapatkan keberadaan sang istri. karena Amrita lah istrinya tiba-tiba hilang dan tidak bisa ditelepon.
4 hari kemudian.
Hari ini Haikal ada wawancara dengan salah satu perusahaan yang berkecimpung dalam bidang pariwisata, pria itu akan bekerjasama dengan salah satu perusahaan yang ada di Bali. tentu saja Haikal senang, pria itu berharap keadaan ini akan segera membaik.
Entah mengapa tiba-tiba Haikal sedikit melupakan masalah istrinya, pria itu bersama dengan 3 rekan bisnisnya dan Amrita terlihat membicarakan mengenai sesuatu. waktu itu memang tidak tepat, ternyata Vivian berada di perusahaan Haikal karena diminta oleh mertuanya.
Tok..
Tok..
Vivian mengetuk pintu kantor suaminya, ia tidak ingin kejadian waktu itu terlihat di matanya kembali. ternyata seseorang membuka pintu kantor Haikal.
__ADS_1
Saat pintu itu terbuka Vivian melihat kembali sang suami sedang tertawa terbahak-bahak dan begitu bahagia bersama tiga rekan bisnisnya dan Amrita. luka itu masih menganga namun ditambah luka seperti ini lagi, tentu saja Vivian belum bisa memaafkan kejadian waktu kemarin. tatapan mata Haikal menatap sang istri yang sudah ada di depannya, pria itu langsung berdiri wajahnya langsung pucat pasi.
** bersambung **