
Dari waktu ke waktu perjalanan pernikahan Vivian dan Haikal sudah empat bulan berjalan.
"Vivian Ayah mau tanya sama kamu?" tanya Pak Wiraguna kepada Vivian.
"Ada apa Ayah?" tanya Vivian.
"Katanya Beberapa bulan yang lalu Haikal habis bertemu dengan mantan pacarnya?" tanya pak Wiraguna. Bunda Irma langsung tersedak ketika dia minum es campur yang ada di mangkok.
"Ayah tahu dari mana?" tanya Vivian.
"Ayah bertanya, kau jangan malah bertanya kepada Ayah." jawab Pak Wiraguna. Vivian menganggukkan kepalanya.
Sesaat kemudian...
Brakkk..
Tiba-tiba Pak Wiraguna langsung menggebrak meja makan yang ada di ruangan tersebut, sontak Hal itu membuat Bunda Irma langsung terkejut dan marah kepada Pak Wiraguna.
"Vivian, Kenapa kau memperbolehkan suamimu itu bertemu dengan mantannya!" seru Pak Wiraguna.
"Memangnya kenapa ayah?" tanya Vivian.
"Dia itu suamimu, sayang. dia itu suamimu bukan temanmu." jawab Pak Wiraguna.
Sesaat kemudian Vivian menganggukkan kepalanya sembari menghela nafasnya,.
"Sebentar Yah, aku mau minum dulu." ucap Vivian yang kemudian meneguk segelas air putih, Karena sangat terkejut saat Pak Wiraguna menggebrak meja makan.
"Bukan begitu Ayah, dengarkan cerita Vivian." ucap Vivian yang kemudian menceritakan semua kronologi kejadian waktu itu.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Pak Wiraguna.
"Vivian ingin mas Haikal menjadi pria yang mempunyai ketegasan, Vivian tidak ingin Mas Haikal seperti seorang pemuda kecil yang tidak mempunyai ketegasan. pria itu harus mengatakan kepada mantan kekasihnya dengan jelas kalau dia sudah mempunyai istri, tentu saja mas Haikal mengajakku ayah. dia juga mengatakan kalau aku ini istrinya, dasar wanita itu saja yang ingin hidup enak dan numpang tenar sama Mas Haikal." jawab Vivian yang terlihat agak emosi. Bunda Irma yang melihat hal itu nampak wanita itu tersenyum.
"Kau benar Vivian, Bunda setuju dengan perkataanmu itu. Bunda malah mensuport dirimu untuk membuat suamimu itu mempunyai ketegasan tinggi dan percaya diri yang hebat sepertimu." ucap Bunda Irma yang kemudian membuka lemari es dan mengambil sisa es campur.
"Lalu, Apakah besok kau mau ikut Haikal ke Bali untuk melakukan pameran perhiasan?" tanya Pak Wiraguna.
"Belum tahu Ayah." jawab Vivian.
"Kenapa kau belum tahu?" tanya Pak Wiraguna.
"Kelihatannya mas Haikal hanya membeli 1 tiket." jawab Vivian yang terlihat sedikit kecewa karena Haikal hanya membeli 1 tiket untuknya saja.
"Bagaimana bisa Haikal hanya membeli 1 tiket, lalu untukmu mana?" tanya Pak Wiraguna.
"Haikal sini duduk!" seru Pak Wiraguna yang memerintahkan Haikal untuk segera duduk.
"Ada apa Ayah?" tanya Haikal.
"Apakah kau sudah membeli tiket untuk ke Bali?" tanya Pak Wiraguna. Haikal menganggukkan kepalanya.
"Kau beli berapa tiket?" tanya Pak Wiraguna. Haikal menatap sang istri sembari tersenyum.
"Kalau kau cuma membeli satu tiket maka lupakan mengenai pameran mu itu." jawab Pak Wiraguna yang kemudian melotot kepada Haikal.
"Aku sudah membeli 2 tiket Ayah, kenapa ayah berkata seperti itu?" tanya Haikal.
"Apakah kau yakin?!" seru Pak Wiraguna.
__ADS_1
"Tentu Ayah," jawab Haikal.
"Untuk siapa saja?" tanya Pak Wiraguna kepada Haikal.
"Tentu saja untuk aku dan istriku, Ayah." jawab Haikal. Pak Wiraguna menghela nafasnya, sesaat kemudian dia meminta Vivian untuk mengikutinya ke sebuah ruangan yang ada di rumah tersebut.
"Memangnya ada apa Bunda?" tanya Haikal kepada ibunya. tatapan matanya menatap sang ayah yang begitu marah kepadanya dengan membawa sang istri.
Bunda Irma hanya mengangkat kedua tangannya sembari melanjutkan makan es buah.
"Besok kau berangkat jam berapa?" tanya bunda Irma.
"Penerbangan pukul 09.00 bunda." jawab Haikal
Di sebuah ruangan Pak Wiraguna mengajak Vivian berbicara.
"Kau tahu kan Vivian, kalian sudah menikah selama 4 bulan dan kau tahu bagaimanakah kondisi suamimu itukan, dia selalu meratapi kesedihan karena kehilangan kakaknya. kau tahu bagaimana jika dia mengalami depresi seperti waktu itu." ucap pak Wiraguna. Vivian menganggukkan kepalanya.
"Kalian sudah menikah selama 4 bulan. aku hanya meminta padamu untuk selalu menjaga Haikal. kami sudah tidak mempunyai anak lagi Vivian, aku sudah menganggapmu sebagai putriku. tolonglah jaga Haikal sebagai pengganti kami, jangan pernah kau tinggalkan suamimu itu." ucap pak Wiraguna yang membuat Vivian menganggukkan kepalanya. setelah Kejadian beberapa minggu yang lalu saat Haikal mengingat kembali kematian sang kakak hingga membuat pria itu depresi berat.
Entah mengapa perasaan ibah muncul ketika Vivian melihat hal itu.
"Tenanglah Ayah, Vivian akan menjaga Haikal selamanya. Vivian tidak akan meninggalkan pria itu, kecuali Haikal sendiri yang meminta untuk berpisah dengan Vivian." jawab Vivian. mungkin saja perasaan iba itu akan berubah menjadi cinta di hati Vivian untuk sang suami. apalagi terlihat Vivian sudah memanggil Haikal dengan sebutan Mas.
"Terima kasih Vivian, Ayah hanya minta padaMu untuk kau selalu memperhatikan suamimu itu. hanya kaulah tumpuannya, hanya kaulah yang bisa menenangkan suamimu itu." ucap pak Wiraguna yang kemudian menghela nafasnya sangat kasar.
"Baiklah Ayah, Vivian akan menjaga Putra ayah seumur hidup Vivian. jadi ayah tidak perlu mengkhawatirkan hal itu." ucap Vivian yang kemudian mengajak Pak Wiraguna untuk kembali ke ruang makan. karena takut nanti Haikal tiba-tiba ada di ruangan itu dan berfikir kalau Vivian akan meninggalkannya. entah apa yang terjadi kepada Haikal jika Vivian benar-benar meninggalkan dirinya.
** bersambung **
__ADS_1