Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan

Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan
11. Duga-Duga


__ADS_3

Setiap pagi Lian akan lebih bangun awal untuk memperhatikan sarapan apa yang akan dibuat oleh sang asisten rumah tangga, karena jika sarapan yang tidak Cyra inginkan, dia tau Cyra tidak akan makan dan langsung main pergi saja, Lian tidak ingin itu terjadi. Lian sangat ingin kesehatan istrinya terjaga dengan baik.


Hari ini dimeja makan tidak ada mami Luci ataupun mama Desi karena tidak setiap waktu juga mereka hadir, mereka tau jika anak-anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri.


"Uuuuueeekkkkk" Cyra lagi-lagi berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.


Lian pun ikut berlari, dia ingin membantu Cyra yang terlihat sudah dua pagi begini terus.


"Cyra, kamu enggak apa-apakah?" tanya Lian penuh khawatir, sambil memberikan Cyra segelas air putih.


"Ini minum dulu airnya, air hangat biar perut mu enakkan" ucap Lian.


Karena Cyra merasa dia memang membutuhkan air hangat itu, dia pun mengambilnya dari tangan Lian kemudian meminumnya.


"Kita kerumah sakit ya periksa" ajak Lian dengan lembut.


"Ah, eng-gak" ucap Cyra yang sedikit gugup, dia tidak ingin Lian tahu jika dia sedang hamil anak dari suami yang tidak dia cintai dan inginkan ini.


"Aku sudah ke dokter kemarin, hanya masuk angin saja" ucap Cyra berbohong padahal yang sebenarnya dia memeriksakan kandungannya.


"Masih kecil saja dalam perut sudah merepotkan gini, bagaimana sudah besar anak ini" batin Cyra.


"Ya sudah kamu ke meja makan, sarapan dulu biar lebih enakkan perut dan badannya" ucap Lian, karena dia percaya saja apa yang dikatakan oleh Cyra.


"Tidak perlu kau memberitahu aku, aku bukan anak kecil yang perlu dikasih tau ini dan itu" ucap Cyra.


"Cyra, kau ini sungguh enggak ada satu hari enggak ngomong kasar ke aku kah" batin Lian yang terasa ingin memberontak, ingin memarahi Cyra.


Lian terus bersabar, baginya selama kesabaran itu masih ada.


"Ini apa, nasi goreng?" tanya Cyra yang tadi belum sempat melihat makanan tetapi sudah mulai duluan.


"Iya, kan kamu sudah nasi goreng biasanya" ucap Lian.


"Aku enggak mau, aku mau makan sop" ucap Cyra meletakkan kembali sendok yang sudah dia ambil.


"Bik, tolong masakan sop segera ya" panggil Lian kepada asisten rumah tangganya.

__ADS_1


"Baik pak" jawab sang asisten rumah tangan yang bernama bik Narni.


"Lama sekali" ucap Cyra, padahal Cyra baru menunggu 10 menit.


"Tunggu dulu Cyra itukan butuh waktu proses" ucap Lian.


"Sudah, aku enggak mau makan, aku mau langsung pergi saja, kau habiskan sendiri" ucap Cyra yang langsung mengambil tas kerjanya dan mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar.


"Cyra, kamu ini" ucap Lian kesal karena sikap Cyra yang tidak menghargai asisten rumah tangganya memasak.


"Apa?" tantang Cyra.


"Mau marah ya marah saja" jawab Cyra, kemudian dia langsung pergi.


"Sabar pak, ibu begitu mungkin lagi sensi" ucap bik Narni yang merasa kasihan terhadap Lian, selalu diperlakukan buruk oleh Cyra.


"Iya bik, saya sudah bersabar" jawab Lian.


"Pak, maaf boleh saya berkata?" tanya bik Narni.


"Apa bik, katakan saja?" jawab Lian.


Mendengar apa yang dikatakan bik Narni tentu Lian merasa senang. Tetapi dia tidak yakin itu, karena dia tau sendiri kondisi hubungannya dengan Cyra. Baginya enggak mungkin Cyra hamil hanya dengan sekali itu dan itu sudah lama sekali bagi Lian.


"Tetapi tadi ibu berkata dia masuk angin, hanya tidak enak badan bik" ucap bik Narni.


"Maaf pak, ini hanya pandangan saya saja sebagai orang tua yang pernah melewati masa itu, dan melihat orang dalam kondisi seperti ibu" ucap bik Narni.


"Semoga saja jika itu benar bik, saya juga berharap jika ibu bisa segera hamil" ucap Lian kepada bik Narni.


"Amin, saya doakan yang terbaik buat ibu dan bapak!" ucap bik Narni.


"Terima kasih bik" ucap Lian.


"Bik, saya berangkat dulu ya, jaga rumah baik-baik" ucap Lian sambil tersenyum.


"Baik pak" jawab bik Narni dengan semangatnya.

__ADS_1


Bik Narni sangat bersyukur bisa bekerja dirumah Lian, karena Lian baginya orang yang sangat baik dan memperhatikan pekerjanya. Walau istri sang majikan, Cyra yang hampir tidak pernah berbicara dengan bik Narni, tetapi Cyra juga tidak semerta-merta jadi orang yang buruk.


*****


Dikantor Lian


"Mami" sapa Lian ketika melihat seorang wanita parubaya memasuki ruangan kantornya.


"Tumben mami kesini?" tanya Lian.


"Memang enggak boleh, mami kekantor anaknya sendiri?" tanya mami Luci sambil melototkan matanya.


"Bukan mi, tumben saja" ucap Lian.


"Mami hanya ingin berkunjung melihat anak mami yang ganteng ini bekerja" ucap mami Luci.


"Mami ini, ada-ada saja, duduk dulu mi!" ucap Lian.


Lian bukanlah anak manja, walau dia anak tungga dari kedua orang tuanya. Dia lebih suka untuk hidup mandiri.


"Lian, bagaimana kamu dan Cyra" tanya mami Luci.


"Baik ma, kenapa mami tiba-tiba bertanya begini, biasanya main langsung masuk rumah saja" tanya Lian mengejek maminya.


"Tidak, mami hanya lagi berpikir, kemarin pagi ketika mami melihat istri mu itu muntah-muntah, mama berpikir mungkin dia sedang hamil" ucap mami Luci.


"Mami sih berharap secepatnya mempunyai cucu dari kalian" mami Luci berucap dengan puppy eyes nya.


"Mami jangan berharap begitu" batin Lian terasa sakit. Dia merasa sedih karena dia belum tahu kapan bisa memberikan sang mami seorang cucu.


"Mami berdoa saja ya" ucap Lian, hanya doa orang tua yang membuat dia tenang.


"Mami selalu berdoa yang terbaik buat kalian"


"Mami ingin anak mami dan menantu mami selalu bahagia" ucap mami Luci, walau sebenarnya mami Luci tentu sedikit tau kondisi rumah tangga anaknya bagaimana, hanya dia bisa diam dan memperhatikannya, atau dengan pura-pura tidak tahu saja, itu akan lebih mengkuatkan sang anak.


"Iya mi, terima kasih ya mami ku tersayang" ucap Lian dengan manjanya.

__ADS_1


"Kamu ini, sudah nikah masih bisa begini" ucap mami Luci.


Lian hanya terkekeh, padahal dia menyembunyikan rasa sedihnya didalam hati tanpa seorang pun tahu, hanya dia seorang yang mengerti kondisi ini.


__ADS_2