Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan

Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan
20. Suami Siaga


__ADS_3

Cyra saat ini sedang berbaring di kamarnya. Didalam kamarnya juga ada Lian, karena sejak usia kandungan menginjak 7 bulan mami Luci sudah semakin rajin untuk nginap dirumah anak dan menantunya ini karena ingin menanti kelahiran sang cucu. Saat ini kandungan Cyra sudah memasuki akhir 8 bulan. Tinggal sebentar lagi anaknya akan segera lahir.


"Aahhkkk!" ringgis Cyra sambil memegang perutnya.


"Aduhhhh" gumam Cyra, dia mengigit bibir bawahnya.


Lian yang sedang fokus dengan laptopnya pun langsung melihat kearah suara, suara istrinya. Dia sangat peka terhadap suara kecil dari Cyra. Bahkan jika dia tidur di kamar ini, dia tidak pernah bisa tertidur nyenyak, karena selalu memperhatikan pergerakkan dan suara2 kecil dari Cyra.


"Cyra, kamu kenapa?" ucap Lian langsung kearah Cyra.


"Aduh, perut ku sakit" Ringgis Cyra.


"Apa kamu mau melahirkan?" tanya Lian yang sudah sangat panik.


"Ini belum waktu mu melahirkan kan!" ucap Lian sambil mengangkat tubuh Cyra dan berlari keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati.


"Sudah lah, cepat bawa aku kerumah sakit" ucap Cyra.


"Kenapa nak?" tanya mami Luci yang kaget melihat anak laki-lakinya sedang tergesa-gesa dalam mengendong menantunya.


"Ini mi, Cyra sakit perut, enggak tau mau melahirkan atau kenapa karena kan belum waktu melahirkan juga" terang Lian.


"Sakit perut ku mi" ucap Cyra. Masih dengan kedua tangannya dileher Lian ala bride style.


"Ya sudah ayo cepat-cepat bawa Cyra kerumah sakit untuk diperiksa dulu" mami Luci juga menjadi khawatir.


Mereka pun dengan cepat berjalan menuju garasi mobil.


"Yak ampun, aku lupa ambil kunci mobil ku" ucap Lian yang posisi masih mengendong Cyra.


Sebenarnya Lian sangat kelelahan dalam mengendong Cyra hanya, dia menahan lelah itu untuk tidak terlihat didepan istrinya karena saat ini tubuh Cyra sudah lumayan berat.


"Huft" Lian menarik nafas panjang karena mau berbalik lagi keruang tamu sambil mengendong Cyra.


Dia sendiri tidak ingin membiarkan Cyra di lantai, karena kasihan Cyra kesakitan, walau hanya sebentar. Saat ini Cyra sudah tidak merasa sakit seperti tadi. Maka nya mami Luci binggung melihat anak menantunya begitu tergesa-gesa dengan posisi Cyra di gendong.


Mami Luci hanya berpikir mungkin Cyra terjatuh dari kamar mandi.


"Kenapa?" Cyra tentu tau sebenarnya jika Lian sudah kelelahan menggendongnya.


"Kau capek?" tanya Cyra judes.


"Aku gendut, iya kan" pelotot Cyra.

__ADS_1


Lian gugup karena muka mereka memang sangat dekat saat ini. Selama menikah hal ini sangat jarang terjadi diantara mereka.


"Tidak, kau tidak gendut" jawab Lian berbohong sambil tersenyum.


Lian tahu jika wanita tidak suka dikatai gendut, walau dalam keadaan hamil sekali pun.


"Minta bik Narni saja yang ambil nak" ucap Mami Luci yang sudah kasihan melihat anaknya kelelahan.


"Oh, iya ma, lupa aku sakin panik ini" ucap Lian masih sempatnya dia bercanda.


"Kamu ini!" geram mami Luci.


"Bik, tolong ambilkan kunci mobil saya dimeja warna abu" teriak Lian, tentu bik Narni langsung mendengarnya.


"Ini pak" dengan cepat bik Narni sudah datang untuk menyerahkan kunci mobil tersebut.


"Terima kasih bik" ucap mami Luci.


"Sama-sama nyonya" jawab bik Narni.


Lian pun membuka mobilnya setelah kunci telah di tangannya. Dia pun menyetir dengan fokusnya, untuk tetap menjaga keselamatan keluarganya.


30 menit sampailah mereka disebuah rumah sakit. Dengan cepat Lian mengarahkan mobilnya menuju unit gawat darurat.


Beberapa suster membantu Lian dan ada seorang dokter umum datang memeriksa keadaan Cyra, yang saat ini sudah terlihat seperti tidak dalam kesakitan.


"Dok, istri saya tadi mengalami perutnya sakit, beberapa kali" terang Lian dengan cepat walau dokternya belum bertanya.


Lian pun tidak mengetahui, apakah itu dokter kandungan atau bukan, bagi Lian yang terpenting dokter itu menolong istrinya.


"Bagaimana dok?" tanya mami Luci.


"Tenang bu, bu Cyra tidak kenapa-napa" ucap dokter ini.


"Bagaimana tidak kenapa-napa dok, jelas istri saya tadi kesakitan sebelum kesini!" ketus Lian.


"Iya dok tadi, menantu saya kesakitan dengan perutnya" ucap mami Luci.


"Perasaan bu Cyra saat ini bagaimana?" tanya dokter tersebut.


"Sudah enggak sakit dok!" Terang Cyra.


Lian dan mami Luci hanya bisa terdiam, mereka berpikir apakah mereka dibohongi oleh Cyra.

__ADS_1


"Sepertinya tadi menantu ibu mengalami kontraksi palsu!" terang sang dokter.


"Bagaimana bisa ada kontraksi palsu dok?" tanya Lian.


Dokter umum ini walaupun dia bukan dokter spesialis kandungan, tentu sedikit mengetahui tentang kondisi Cyra. Setelah dia memeriksa kandungan Cyra.


"Apakah hari ini, ibu Cyra berpergian jauh, atau beraktifitas lebih?" tanya sang dokter.


"Ada dokter, tadi pagi sampai sore saya jalan bersama teman-teman saya" terang Cyra dengan santainya.


"Nah, kemungkinan aktifitas bu Cyra terlalu berat hingga menimbulkan sedikit kontraksi palsu ini. Kontraksi palsu bisa terjadi karena pergerakan ibu terlalu aktif atau bisa juga terjadi karena bayinya sangat aktif didalam perut!" terang dokter ini.


"Kontraksi palsu sebenarnya merupakan cara tubuh untuk mempersiapkan dan menyambut proses persalinan. Saat kontraksi palsu datang, justru ibu bisa berlatih sedikit demi sedikit untuk menerapkan teknik pernapasan yang tepat sebelum mengalami kontraksi yang asli" dokter umum ini masih menerangkan kepada Cyra, mami Luci dan Lian.


"kontraksi palsu juga bisa bermanfaat karena berperan dalam membantu mengencangkan otot rahim, sekaligus melancarkan aliran darah ke plasenta. Mungkin kontraksi palsu memang tidak dapat membantu melebarkan leher rahim (serviks). Namun, kontraksi palsu ini bisa memengaruhi serviks sehingga menjadi lebih lunak dan menipis sebagai cara untuk menyambut kelahiran nantinya"


"Tetapi dok, saya sudah merencanakan untuk melaksanakan operasi Ceasar" ucap Cyra.


"Iya bu, dalam proses melahirkan itu ada di pilihan ibu berserta suami dan keluarga" jawab sang dokter.


"Baik saya permisi"


"Terima kasih dok" ucap mami Luci dan Lian hampir bersamaan.


Karena memang tidak ada masalah Cyra pun di izinkan untuk pulang kerumah pada malam itu juga.


Didalam benak Lian, tersimpan sebuah pertanyaan yang akan ditanyakan jika sudah berada dalam rumah nanti.


Mami Luci merasa bersyukur jika keadaan menantunya baik-baik saja.


30 menit kemudian mereka pun sampai kembali ke rumah mereka.


"Cyra, mengapa kamu tidak memberitahu ku jika kamu ingin operasi Ceasar sebagai proses melahirkan" langsung saja Lian tanyakan hal ini dengan tegas kepada Cyra, padahal mereka baru memasuki kamar mereka.


Lian tidak ingin hal ini dia sampai dirumah sakit ataupun depan mami Luci karena merasa sangat tidak enak dan dia tidak mau terlihat seperti tidak menghargai istrinya.


"Aku enggak mau merasakan sakitnya melahirkan normal, lihat saja kontraksi palsu saja sudah membuat ku menderita" Cyra bergidik ngeri.


"Maka itu menjadi pilihan ku, lagian aku yang melahirkan bukan kau" ucap Cyra membuat Lian terdiam.


Lian bukan tidak menyetujui apa yang menjadi keinginan Cyra, tapi dengan alasan itu sungguh membuat Lian kesal terhadap Cyra. Seharusnya yang terjadi adalah ketika seorang wanita bisa melahirkan secara normal mengapa harus memilih Ceasar hanya untuk menghindari sakitnya kontraksi.


Lian tidak tahu, jika yang dia pilih menjadi istrinya ini adalah wanita bagaimana. Mengapa bisa begitu cuek atas segalanya. Apa lagi tentang dia dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2