
Lian yang terus digoda oleh Cyra pun tidak bisa menolak apa yang akan terjadi padanya.
"Apa aku salah" batinnya sambil menatap Cyra yang tengah tersenyum kepadanya.
"Dia istri ku, aku tidak berdosa melakukannya" batin Lian menutup matanya dan melanjutkan apa yang menjadi rutinitas pasangan suami istri.
Selama ini Lian tidak pernah meminta nafkah batin dari Cyra, jangan kan meminta. Berbicara saja dengan Cyra, Lian sudah dianggap musuh. Padahal sewajarnya Cyra memberikan Lian nafkah batin karena itu tugas Cyra sebagai seorang istri.
Sungguh malang nasib Lian menikahi Cyra, dia sebagai suami sangat tidak diurus oleh istrinya. Dia hanya bagaikan pajangan saja.
Sebenarnya Lian ingin sekali marah besar terhadap Cyra, tetapi semua itu dia urungkan karena melihat keadaan.
"Cyra, kau sungguh tidak pernah menganggap ku" batin Lian yang sedang menatap punggung Cyra setelah aktifitas mereka.
Cyra pun langsung tertidur, terlihat sekali jika Cyra kelelahan dan karena minuman itu dia melupakan segalanya.
Munafik bagi Lian jika dia tidak menginginkan nafkah batin, semua itu hanya dapat ia tahan selama ini, karena ingin menghormati Cyra sebagai wanita.
*****
Pagi harinya Cyra terbangun dalam kondisi kepalanya masih sakit, dia memegang kepalanya sambil diurut.
"Aagghhh" teriak Cyra ketika dia ingin bangun dari ranjangnya setelah selimut yang menutupi tubuhnya tersingkir.
"Apa yang terjadi lagi dengan ku" dia terkejut ketika mendapati tubuh bawahnya polos.
__ADS_1
Dia mencari secerca ingatan kejadian tadi malam. Semenjak Cyra mengikuti reunian bersama teman-temannya, tidak ada sedikit pun pikiran dia tentang Angel, bagaimana Angel atau Angel menangis apa tidak. Tidak ada dalam benak Cyra.
"Ah, yak ampun semalam aku mabuk dan sekarang kepala ku masih sangat sakit" ucap Cyra dengan dirinya sendiri.
Ketika Cyra telah mengingat kembali kejadian tadi malam, membuat dirinya malu sendiri.
"Apa yang aku lakukan, aku harus apa nanti ketika melihat muka orang itu" batin Cyra.
"Tapi selama ini memang dia tidak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan, jika mama tau, maka mama akan marah terhadap ku, apa lagi papa" batin Cyra.
"Huft, enggak sanggup aku kena omelan papa dan mama"
Padahal selama ini mama Desi selalu mengajarkan Cyra untuk dapat menjadi istri yang baik, melayani suami dengan penuh suka cita, apalagi jika suaminya sangat menyayangi istrinya.
*****
Lian sudah berada dimeja makan, saat ini sedang melihat mami Luci menyiapkan sarapan pagi mereka.
"Dimana, istri mu nak?" tanya mami Luci.
"Enggak tau mi, tadi Lian sudah keluar dari kamar langsung bermain dengan Angel, mungkin Cyra masih di kamar!"
"Enggak biasanya Cyra belum keluar dari kamar!" ucap mami Luci.
Lian terdiam dan berpikir bahwa apa yang maminya katakan itu ada benarnya.
__ADS_1
"Tumben" batin Lian.
"Dia kan kerja hari ini, sama kayak kamu"
"Entah lah mi" jawab Lian sambil mengangkat, melebarkan kedua tangannya.
"Sudah sana kamu panggil Cyra untuk sarapan" perintah mami Luci.
"Biarkan saja mi"
"Hust, dia istri mu loh, kog di biarin!"
"Sana pergi panggil istri mu cepat untuk sarapan, kita sudah terbiasa sarapan bersama, enggak ada Cyra, mami rasa ada yang hilang" ucap mami Luci.
"Mi, bagaimana kalau suatu saat Cyra enggak disini?" tanya Lian yang sedang berpikir akan sesuatu.
"Hust, sembarangan ngomong, mau mami jewer kamu?" tanya mami Luci galak.
"Sudah sana pergi ke kamar kalian, jangan lama-lama" ucap mami Luci agar Lian tidak melanjutkan pembicaraan itu.
"Iya mami ku sayang" jawab Lian.
Lian pun meninggalkan piring dia yang telah terisi nasi putih.
Dia pun bergegas kedalam kamar, untuk mencari Cyra.
__ADS_1