
Lian terlihat begitu santai bermain boneka-bonekaan dengan Angel dirumah orang tuanya, dirumah mami Luci dan papi Bram. Tentu orang tua Lian bahagia dengan keberadaan dua orang ini dirumah mereka karena memberikan suasana yang baru, suasana ceria tidak sepi seperti biasanya.
Terlihat mereka bahagia dengan keadaan sekarang.
"Angel capek belum, sudah dulu yuk mainnya, bobok ya sudah malam" ucap Lian kepada anaknya.
"Capek pa, iya bentar lagi Angel pergi bobok" jawab Angel dengan tersenyum manis dan ceria.
Angel juga terlihat lebih ceria berada di rumah oma dan opanya ini, bagaimana tidak bahagia, disini Angel selalu mendapatkan perhatian extra tetap tidak juga membuat anak ini menjadi manja, bahkan kini dia lebih mandiri.
"Ya sudah sana cuci kaki dan tanganmu kemudian pergi bobok ya" ucap Lian memberikan arahan kepada anaknya.
"Ok papa" jawab Angel, lalu bergegas ke kamar mandi dan melaksanakan apa yang papanya perintahkan.
"Anak pintar" jawab Lian dengan bangganya.
Oma dan opanya hanya tersenyum melihat tingkah cucunya ini. Sedangkan nenek Desi dan kakek Rendi, biasa mereka akan datang menggunjungi Angel jika mereka mempunyai waktu luang disela kesibukan mereka juga.
Setelah Angel pergi, Lian ikut duduk bersama dengan mami Luci dan papi Bram.
__ADS_1
"Kamu sudah bisa melupakan Cyra?" tanya mami Luci secara langsung.
"Aku tentu tidak segampang itu melupakan Cyra lah mi, dia mama dari anakku, hanya saja aku berusaha menikmati hidupku yang sekarang ini" jawab Lian dengan santainya.
"Ini baru anak papi" ucap papi Bram dengan tersenyum.
"Papi harap kamu akan menemukan pengganti Cyra, yang dapat menyayangi Angel seperti anak sendiri dan menjadi istri yang benar-benar baik untuk mu" ucap papi Bram.
Bagaimana pun orang tua, tidak senang melihat hidup anaknya menderita.
"Aku belum ada pikiran sejauh itu pi, cukup seperti sekarang saja" terang Lian.
"Mami juga berharap nantinya Angel mempunyai mama yang benar-benar sayang padanya" harapan mami Luci.
Dia tidak ada pikiran lain selain memberikan Angel kasih sayang penuh.
Saat ini dia sangat bersyukur jika perusahaan yang baru dia bangun bbrp tahun sudah masuk pesat.
Sedang Cyra dirumahnya.
__ADS_1
Sudah 2 minggu berlalu Cyra hanya uring-uringan dirumahnya. Bahkan rumah terlihat berantakan, dia sendiri terlihat tidak secerah biasanya.
Setiap harinya dia hanya bermalas-malasan, ketika ingin mengajak temannya untuk keluarga bersama, teman-temannya malah memilih kesibukannya masing-masing tanpa ada yang mau menemani Cyra.
"Mengapa enggak ada yang perduli sama aku sih" Cyra terlihat frustasi dia berteriak sendiri dikamarnya.
Cyra sendiri terdiam, sadar akan dirinya yang kini sedang frustasi karena kondisi dia yang tidak bekerja karena dipecat, jika dipecat dari pekerjaan bukan lah hal yang mudah untuk mencari pekerjaan yang baru karena nilai kualitas kerja sudah berkurang apalagi berhubungan dengan perusahaan besar tidak akan dia dapatkan lagi.
"Mengapa aku jadi begini" Cyra mengacak rambutnya sendiri hingga kusut tidak terarah.
Kekesalannya, amarahnya juga tidak bisa dilampiaskan kemanapun, hanya bisa dia tanggung sendiri.
Kini Cyra merasa sungguh sangat sendirian. Di rumah ini bahkan bunyi seekor binatang kecil pun tidak ada, hanya ada kesunyian. Orang tuanya saja bahkan tidak pernah datang berkunjung kerumahnya semenjak Cyra dan Lian bercerai. Bahkan meneleponnya mencari kabarnya saja tidak ada.
"Apa aku salah" guman Cyra menatap ke depan dengan tatapan kosong.
Dia memikirkan apa yang dia lakukan selama ini, dari dia menikahlah menurutnya semua masalah hidupnya di mulai hingga bercerai.
Apa Cyra saat ini bisa dikatakan menyesal, perasaan itu lah yang kini dia rasakan, sedikit penyesalan tetapi tidak ingin dia ungkapkan, begitu egonya masih menguasainya.
__ADS_1
Di hati terkecilnya dia merindukan suara nyaring, riang dari Angel, perhatian dari Lian.
Tetapi semua sudah tidak dia dapatkan.