
Dua hari lagi adalah hari dimana Cyra akan melaksanakan operasi ceasar untuk kelahiran anaknya. Tetapi Cyra tetap lah Cyra dia merasa tenang-tenang saja.
Saat ini Cyra sedang duduk santai diatas ranjangnya sambil memainkan ponselnya.
Di sedari tadi merasakan perutnya sakit, walau sekali-kali datangnya. Dia menahan dan membiarkannya, Cyra menganggap ini kontraksi palsu sama seperti yang dia alami beberapa minggu lalu.
Hari ini rumah terlihat sepi, karena kondisi masih pagi. Mami Luci tidak ada dirumah hari ini karena ada arisan dengan para tetangganya, sedangkan Lian tentu pergi ke kantornya, tetapi siang dia akan pulang lebih cepat untuk melihat kondisi istrinya.
"Biiikkkkk" teriak Cyra sambil meringis.
Bik Narni yang mendengar teriak sang majikan perempuannya ini pun segera berlari terburu-buru ke kamar Cyra.
"Astaga ibu, ibu sudah pecah air ketubannya, ini sudah waktunya ibu melahirkan" ucap bik Narni. Dia terkejut melihat Cyra yang berada diatas ranjangnya dengan kondisi basah setelah dilihat ternyata air ketuban Cyra telah pecah dan sedikit terlihat darah mengalir.
"Aggghhhh" ringgis Cyra, karena saat ini dia benar-benar merasa kesakitan.
Cyra sedari tadi tidak menyadari jika sedikit demi sedikit air ketubannya telah pecah, karena dia memang sangat tidak perduli dengan sakit yang dia rasa, karena dia berpikir tidak ingin kejebak lagi dengan kontraksi palsu.
"Bik, cepatan tolong aku" ucap Cyra dengan menahan sakitnya.
"Baik, bu! Saya telepon bapak dulu"
Dengan cepat bik Narni pun menelepon Lian. Saat ini bik Narni hanya bisa meminta majikannya ini untuk lebih tenang.
"Tenang bagaimana bik? Ini sakit sekali" Cyra terus menahan sakitnya, sakit yang datang sekitar dua menit sekali. Cyra merasakan sungguh menyakitkan kontraksi yang dia alami.
Cyra memegang perutnya ke kanan dan ke kiri, dia hanya dapat meringis setiap kontraksinya datang.
"Lama sekali Lian" teriak Cyra sambil tetap menahan sakitnya.
"Sebentar lagi bapak sampai bu"
"Cyra" ucap Lian yang sudah sampai ke kamar. Setelah 1 jam lamanya perjalanan Lian.
Langsung saja Lian mengangkat tubuh Cyra, menggendongnya ala bride style. Tanpa membawa perlengkapan apa pun, Cyra, Lian dan bik Narni berangkat ke rumah sakit.
__ADS_1
Setelah 30 menit perjalanan baru lah mereka sampai ke rumah sakit, Cyra sudah sangat merasakan sakitnya, perutnya seperti dililit oleh banyak tali tambang, bagian bawah perutnya terasa sesuatu akan jatuh.
Lian mengendong Cyra lagi untuk menuju ruang bersalin, dia sudah merasa sangat cemas kali ini, karena melihat sedikit darah berserta air yang keluar sedikit demi sedikit dari paha istrinya.
Cyra menatap wajah suami yang tampak sangat cemas, panik. Saat Cyra memperhatikan lebih detail wajah Lian ada sedikit perasaan didalam dada Cyra, entah itu perasaan perduli, senang, tenang, nyaman, atau pun kasihan terhadap Lian karena sikap dia terhadap Lian tetapi perasaan itu tidak dapat Cyra ungkapkan.
Cyra tau, jika saat ini Lian fokus dengannya bahkan orang disekitarnya saja Lian tidak perduli, yang Lian pikirkan bagaimana sampai ruang bersalin dengan cepat, padahal Cyra sudah di berikan brangkar, hanya Lian sendiri yang ingin mengendong Cyra menuju ruang bersalin.
Bik Narni ikut berlari dibelakang kedua majikannya. Mereka pun sampai lupa memberikan kabar kepada mami Luci dan mama Desi tentang keadaan Cyra saat ini.
"Kamu harus kuat ya, aku samping kamu terus" ucap Lian memberi semangat kepada Cyra. Sembari membaringkan Cyra ke ranjang bersalin.
"Pak, silakan masuk menemani istri anda" ucap Dokter kandungan yang biasa Cyra pakai untuk berkonsultasi.
"Dokter, apa saya bisa ceasar sekarang juga" tanya Cyra ketika sudah melihat sang dokter.
"Maaf bu, anda saat ini sudah tidak dapat untuk melaksanakan operasi karena pembukaan anda sudah lengkap, kepala bayi juga sudah terlihat" ucap dokter Lala sembari melihat dibawah lutut Cyra.
"Apa? Bagaimana bisa dok?" tanya Cyra kaget.
"Pak, dibantu istrinya ya!"
"Cyra kamu pasti bisa, ayo!" Lian memberi semangat kepada Cyra untuk dapat melahirkan sang anak mereka.
Cyra pun tanpa perasaan malu, tanpa perasaan tidak suka dengan Lian lagi, dia pun mengenggam tangan Lian dengan kuat. Karena rasa sakit itu kian kuat menyerangnya, terasa jika anaknya akan segera keluar. Bagi Cyra saat ini yang terpenting adalah anaknya segera keluar dari dalam perut agar tidak menyiksanya.
"Liaaannnnn ini sakit sekali" teriak Cyra yang sudah mulai ngos-gosan mengeden, untuk mengeluarkan anaknya.
Lian mengelap keringat yang bercucuran keluar dari pelipis Cyra, dengan tisu yang diberikan oleh suster.
"Terus bu, dorong" ucap Dokter Lala memberi arahan.
"Hus, hus, hus" Cyra mengambil nafas panjang kemudian mengeluarkannya.
"Aaaaaaggggggggggghhhhhhhhhhh" teriak Cyra kuat dan anaknya pun keluar dengan selamat.
__ADS_1
"Kamu bisa Cyra" ucap Lian dengan setetes air mata mengalir dari mata kanannya dan air mata kirinya masih bertahan di kelopak, hanya dengan sekali kedip saja air mata itu akan turun lagi.
Kemudian Lian memberikan sebuah kecupan di kening Cyra, membuat Cyra terdiam seribu bahasa tanpa expresi, hanya raut wajah datar yang dia tampilkan. Cyra juga merasa lemas setelah proses persalinan ini dia lalui.
"Kami bersihkan dulu bayinya ya pak" ucap seorang suster.
"Baik sus" jawab Lian.
Lian sangat bahagia, anak telah terlahir ke dunia dengan selamat dan sehat. Lian meras hidupnya kini sempurna dengan kelahiran sang anak. Dia berpikir untuk bekerja lebih kerja lagi, mencari rejeki untuk anaknya kelak.
"Baik say juga akan menjahit ya bu" ucap dokter Lala.
"Ini tanpa bius" tanya Lian.
"Iya pak?" jawab dokter Lala.
Cyra sudah merinding duluan ketika mendengar jika akan ada yang dijahit. Dia sudah merasa kesakitan terlebih dahulu, sakit pertama belum hilang datang lagi sakit yang kedua.
"Lian, kau harus bertanggung jawab atas semua ini" batin Cyra.
Setelah anaknya keluar dari rahimnya, sungguh Cyra lah ibu yang biasa-biasa saja menyambut kelahiran anaknya, padahal dia melahirkan dengan perjuangannya.
Seperti tidak ada ikatan batin saj antara ibu dan anak ini.
Cyra sendiri lah yang membatasi dirinya dari sang anak. Sedari didalam perut, Cyra sangat jarang memberikan perhatian terhadap anaknya, bahkan mengelus-ngelusnya saja sangat jarang terjadi. Bahkan lebih banyak Cyra mencerewetkan kehadiran anak ini.
Anak ini hadir ke rahim Cyra juga bukan menjadi pilihannya, hanya takdir yang menyatukan mereka.
"Benar pilihan ku untuk melahirkan ceasar maka aku tidak akan mengalami sakit seperti ini" batin Cyra.
"Tetapi anak ini malah dengan cepatnya ingin keluar dengan caranya sendiri" Cyra masih berbicara dalam batinnya.
"Dari dalam perut anak ini selalu saja menyiksa ku" batin Cyra, tetapi bagi Cyra bagaimana pun itu adalah anak Cyra.
Dia terlahir dari rahim Cyra, Cyra yang membawanya kemana pun selama sembilan bulan, hingga anaknya terlahir.
__ADS_1