
Satu minggu berlalu kondisi Cyra pun sama saja setiap harinya. Lian yang sudah memperhatikan istrinya, sangat ingin bertanya mengapa istrinya tidak pernah berkata apapun soal kondisinya.
Hingga suatu saat niat Lian terkumpul.
"Cyra, apa kamu hamil?" tanya Lian tanpa basah basi lagi karena dia tau jika Cyra tidak perlu basah basi jika berbicara.
"Iya aku hamil" jawab Cyra cuek, bahkan sangat cuek.
"Apa benar kamu hamil?" tanya Lian sekali lagi, yang didalam hatinya sangat senang luar biasa.
"Apa kamu budek, perlu aku ulangi lagi kata-kata itu?" tanya Cyra dengan melotot kearah Lian.
Lian pun mendekati Cyra dan langsung memeluknya karena kebahagian luar biasa yang dia rasakan, matanya pun berkaca-kaca.
Cyra terkejut mendapat perlakuan dari Lian, dia pun berusaha mendorong tubuh Lian menjauh dari tubuhnya.
"Iiiiihhh, apaan sih kamu, lepasin enggak?" Cyra merasa risih berada di pelukan Lian.
"Ah, maaf" jawab Lian yang salah tingkah.
"Aku terlalu bahagia, terima kasih sudah mau mengandung anak dari ku, anak kita" ucap Lian dengan nada suara yang sangat senang.
Cyra terlihat menarik nafas panjang dan berkata "aku biasa saja"
Lian tertegun, dia binggung mengapa Cyra bisa begitunya tidak memberikan expresi apa-apa atas kehamilannya, bahkan memang tidak terlihat senang.
"Kamu harus banyak istirahat dan jaga anak kita ya" ucap Lian yang sangat berharap Cyra bisa mendengar nasehatnya.
"Ini diri ku, tentu aku menjaga diri ku" jawab Cyra dengan judesnya.
"Sudah sana pergi, aku enggak suka kau didekat ku" ucap Cyra kepada Lian.
"Aku mengerti" jawab Lian.
Bagi Lian saat ini yang terpenting Cyra menjaga anak mereka yang berada dalam kandungan Cyra.
"Oh iya Cyra!" ucap Lian yang kemudian berbalik ke arah Cyra lagi.
__ADS_1
"Iiiiihhhh" Cyra merasakan bising.
"Apa lagi" jawab Cyra dengan galaknya.
"Besok kita cek ya, aku mau melihat anak kita" ajak Lian.
"Aku enggak sempat banyak kerjaan, lagian anaknya juga belum terbentuk" jawab Cyra dengan santainya.
"Kalau gitu kita tunggu bulan depan baru periksa ya" bujuk Lian.
"Terserah" jawab Cyra lalu pergi menghindari Lian.
Lian hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap Cyra yang memang sudah menjadi makanan sehari-harinya jika berbicara dengan dia.
Seharusnya disaat seperti ini sebagai pasang suami istri, dia dan Cyra harusnya bisa berbahagia bersama. Tetapi tidak terjadi pada Lian, saat ini hanya dia yang sangat bahagia sedangkan Cyra tidak ada menyimpan rasa bahagia untuk kehamilannya.
"Mi, Cyra hamil! Mami akan punya cucu" ucap Lian ketika itu dia langsung menelepon maminya.
"Benaran sayang, mami mau menjadi seorang nenek?" tanya mami Luci seakan tidak percaya.
"Kalau begitu kamu jaga istri dan calon anak mu baik-baik ya" pesan mami Luci.
"Pasti mi" jawab Lian.
Setelah itu mereka pun mematikan panggilan telepon.
*****
Mami Luci pun langsung menghubungi besannya untuk menanyakan apakah Cyra sudah memberitahu keluarganya sendiri.
"Dek" sapa mami Luci kepada mama Desi.
"Iya mbak" ucap mama Desi yang binggung mendapatkan telepon di waktu malam seperti ini.
"Kita akan menjadi nenek ya, apa Cyra sudah memberitahu mu?" tanya mami Luci.
"Benaran mbak?" tanya mama Desi.
__ADS_1
"Benaran tadi Lian telepon kasih kabar Cyra sudah hamil!" Ucap mami Luci menerangkan.
"Loh kog aku enggak diberitahu sama Cyra ya?" tanya mama Desi binggung sendiri.
"Loh, masak iya?"
"Masak di dapur mbak!" ucap mama Desi yang sempat-sempatnya bercanda.
"Masih sempat bercanda" ucap mami Luci.
"Ini aku sangat bahagia mbak" jawab mama Desi.
"Siapa ma?" tanya papa Rendi ketika melihat istrinya menerima telepon dengan sangat bahagia.
"Besan kita pa!" jawab mama Desi.
"Suami mu ya dek, sudah nanti kita telepon lagi" mama Luci yang mendengar besannya yang pria menghampiri besan wanitanya ini pun pamit dulu dari telepon.
"Walah, enggak apa-apa mbak" jawab mama Desi.
"Sudah, sama suami mu dulu!" jawab mami Luci.
"Iya mbak" jawab mama Desi kemudian menutup teleponnya.
Mama Desi pun menghampiri suami dan anak bungsunya di ruang keluarga sambil menonton.
"Pa, kita bakal jadi kakek nenek, Cyra sudah hamil" ucap mama Desi senang.
"Serius ma?" tanya Jihan langsung kepada mamanya.
"Kenapa? Kamu enggak percaya?" tanya Mama Desi.
"Percaya ma, akhirnya aku punya keponakan" ucap Jihan dengan senyumnya, tetapi terlihat berbeda.
"Syukur lah ma, kita cepat ya jadi kakek sama nenek" ucap papa Rendi yang juga merasa sangat senang karena dia akan segera mendapatkan cucu dari anak pertamanya.
Keluarga ini sangat bahagia mendengar kabar kehamilan dari Cyra.
__ADS_1