
Cyra pun ikut dengan orang tuanya untuk pulang kerumah orang tuanya.
Sesampainya Cyra dirumah orang tuanya, dimana dia tumbuh besar, tumbuh dengan kasih sayang orang tua, persaudaraan dan omelan sang mama, semua berada dirumah ini. Tapi saat ini dia merasa rumah ini sudah sangat berbeda dengan yang dulu
Cyra menghempaskan badannya disebuah kursi yang biasa menjadi tempat duduk Cyra, sedangkan papa dan mamanya hanya menatap Cyra dengan diam berada didepan Cyra.
"Papa kecewa sama kamu"
"Cyra, kamu ini masih tidak berubah" ucap papa Rendi tanpa basa-basi.
"Mama kecewa sama kamu, Cyra" ucap mama Desi dengan muka yang tidak suka melihat Cyra.
"Apa salah ku ma?" tanya Cyra.
Entah karena dia pura-pura tidak tahu atau memang tidak ingin tahu. Dia selalu menganggap apa yang semua dia lakukan itu benar. Yang orang lain lakukan adalah salah.
"Kamu masih berani bertanya apa salah mu?" tanya balik mama Desi.
"Sudah berapa hari papa dan mama menunggu kamu kesini untuk memberikan penjelasan tentang hubungan mu dengan Dimas?" tanya papa Rendi yang juga kesal tapi masih ditahan dia.
__ADS_1
Karena saat ini papa Rendi sudah tahu jika istrinya sudah kesal jadi dia tidak mau hingga larut dalam kekesalan.
"Aku sibuk ma, mama dan papa kan tau dari aku memang sibuk!" jawab Cyra dengan cueknya.
"Sudah mama katakan, kau itu harusnya sudah berhenti bekerja, kau itu sudah punya suami yang mapan dan anak yang butuh kasih sayang mu!" Bentak mama Desi.
"Aku belum puas ma!"
"Mau sampai kapan kamu belum puas?" tanya papa Rendi.
"Papa tidak mau kalau sampai kamu berhubungan lagi dengan Dimas, jika itu terjadi maka kamu jangan anggap kami ini orang tua mu lagi!" ucap papa Rendi tegas.
"Berteman? Tapi menyatakan Cinta!" jawab papa Rendi.
"Papa tidak percaya apa yang kalian katakan"
"Mama dan papa sudah sangat kecewa pada mu, mama dan papa berharap setelah kamu nikah kamu bisa jadi lebih baik, menghargai suami mu serta merawat anak mu dengan baik tapi selama 4-5 tahun ini kamu malah banyak membuat kami kecewa" ucap papa Rendi dengan nada suara yang sedikit lemah syirat kekecewaan terhadap anak perempuannya ini.
Mama Desi dan papa Rendi sebenarnya sudah menyimpan kekecewaan ini sudah lama, hanya mereka masih berusaha bersabar, menasehati Cyra agar dia dapat berubah, tetapi mereka merasa semuanya sia-sia.
__ADS_1
"Mama tau, sekarang pasti kamu tidak tahu jika Lian dan anak mu pergi, kamu tidak mencarinya dari awal kan" ucap mamanya Cyra.
Membuat Cyra terdiam.
"Kamu ini sudah sebagai istri sepatutnya menghargai suami yang menghargai mu, menyayangi mu, juga sebagai seorang mama yang seharusnya mengutamakan anaknya bukanya pekerjaan, teman atau orang lainnya" ucap mama Desi dengan sangat kecewa.
"Kamu harusnya bisa bersyukur karena mendapatkan suami yang begitu baik selama ini kepada mu, pengertian, menghargai kamu walau kamu selama ini enggak menghargai dia, mama tau ini dari cara kalian di rumah. Walau Lian tidak pernah menceritakan masalah rumah tangganya tapi kami sebagai orang tua tahu"
Cyra merasa sangat tersudutkan saat ini. Dia memang mengingat bahwa selama ini Lian tidak pernah menyakitinya, bahkan berkata kasar seenaknya tanpa sebab akibat.
"Kasihani mertua mu, mereka sudah sangat baik terhadap mu, merawat dan membesarkan anak mu" ucap papa Rendi.
"Cukup ma, pa. Ini juga semua salah kalian meminta Cyra menikah cepat walau Cyra tidak siap hanya karena usia Cyra yang sudah mau kepala 3, Cyra masih menginginkan karir, kebebasan pa" ucap Cyra dengan datarnya.
"Kamu sekarang seharusnya sudah sadar Cyra, usia mu sudah lah tidak muda. Hidup itu tidak lama Cyra" ucap mama Desi.
"Jika kamu terus menelantarkan Angel, di usia tua mu siapa yang akan menjaga mu jika bukan anak mu sendiri" ucap mama Desi.
Cyra pun terdiam lagi mendengar perkataan mamanya.
__ADS_1