Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan

Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan
61. Keputusan Yang Berat


__ADS_3

Sehari sebelum Lian mengatakan jika dia ingin bercerai dengan cyra, Lian sudah menyampaikan keputusannya kepada orang tuanya serta kedua mertuanya.


Lian pada waktu itu merasa sangat berat untuk mengambil keputusannya ini. Tetapi dia merasa dia terjebak di pernikahan ini.


Flashback On


Di rumah orang tua Lian.


"Lian kog kamu pulang langsung kesini?" tanya mami Luci yang secara tiba-tiba mendapatkan kehadiran sang anak dan cucunya.


"Omaaaaa" panggil Angel lari memeluk omanya.


"Opaaaa" Angel juga memeluk papi Bram.


"Angel sudah dulu ya kangen-kangenannya, nanti lagi!" Seru Lian kepada anaknya.


"Angel ke kamar oma dulu ya istirahat" ucap Lian kepada Angel yang masih sangat bersemangat bergerak itu.


"Ok pa" jawab Angel.


"Mi, pi, aku mau ngomong sebentar" ucap Lian kemudian dia mengajak orang tuanya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa Lian?" tanya mami Luci yang kian penasaran.


Lian tidak ingin berbicara kepada orang tuanya jika Angel masih berada disekitarnya.


"Mi, pi" Lian menarik nafasnya.


Papi Bram terus menatap Lian, menunggu Lian melanjutkan omongannya.


"Lian ingin bercerai dengan Cyra" ucap Lian dengan tegas.


Tentu sesaat mami Luci dan papi Bram terkejut. Tetapi para orang tua ini setidaknya sedikit banyak mengetahui sikap Cyra kepada Lian, anaknya. Tetapi mereka tidak berpikir Lian akan sejauh ini.


"Aku sudah tidak tahan untuk menjalani rumah tangga ini" ucap Lian dengan nada yang lemah karena setidaknya ini sungguh berat dia ambil keputusannya, selama berada di desa lah Lian terus berpikir bagaimana untuk melepaskan Cyra


"Apa salah Cyra terlalu dalam nak?" tanya mami Luci yang masih tidak ingin jika rumah tangga anaknya berakhir begitu saja.


"Kamu sudah pikirkan baik-baik nak? Kamu yang melamar Cyra, kamu yang memilihnya. Apa kamu tidak mengecewakan orang tua Cyra?" tanya papi Bram.

__ADS_1


Akhirnya Lian menceritakan sedikit banyak rumah tangga dia bersama dengan Cyra. Sebenarnya Lian tidak ingin ini sampai terjadi tetapi ini sudah sangat berat baginya.


"Kamu harus mempertanggung jawaban semuanya Lian" ucap papi Bram dengan tegas.


"Aku akan menghadapi orang tua Cyra pi, mi" ucap Lian dengan nada datar.


Mami Luci dan papi Bram merasa sangat kasihan terhadap Lian yang selama ini menanggung beban hatinya sendiri. Tetapi mereka juga memikirkan cucu mereka. Bagaimana nanti mentalnya Angel.


"Lalu bagaimana dengan Angel?" tanya mami Luci.


"Apa kamu tidak kasihan dengan Angel?" tanya mami Luci. Karena menurut dia, Angel dengan usia segitu sudah harus berpisah dengan mamanya atau papanya.


"Aku sudah membicarakan ini dengan Angel pi, walau aku tidak menjelaskan secara rinci bagaimana hubungan kami" ucap Lian.


Papi Bram hanya dapat menarik nafas panjang mengenai masalah rumah tangga anaknya. Dia berserta istrinya pun tidak dapat membantu banyak karena ini sudah menjadi pilihan hidupnya, ini adalah hidup anaknya.


"Papi dan mami mu tidak bisa meminta mu untuk bertahan dengan Cyra atau melarang mu untuk tidak bercerai, semua kami serahkan pada diri mu sendiri" ucap papi Bram.


"Mami, tidak ingin kalian bercerai nak" ucap mami Luci.


"Maaf mi, ini juga sudah menjadi keputusan Lian" Lian pun menceritakan semua yang dia alami selama bersama Cyra tetapi tidak secara detail dia menceritakannya karena bagi Lian, dia juga tidak baik mengumbar aib rumah tangganya.


"Lian mohon doa restunya pi, mi" ucap Lian kepada orang tuanya.


Mereka pun hanya dapat mengangguk sebagai jawabannya.


*****


Dirumah orang tua Cyra, Lian pun bertemu dengan kedua mertuanya. Tentu orang tua Cyra kebinggungan mengapa Lian baru saja pulang dan langsung malam-malam kerumah mereka.


Lian menitipkan Angel kepada mami Luci sehingga dia tidak ikut kerumah nenek dan kakeknya.


Wajah Lian terlihat serius menatap kepada mertuanya. Dia sedikit merasa takut menghadapi mertua laki-lakinya.


Jantungnya berdebar cepat, tubuhnya terasa bergetar. Dia pun sedikit merasakan keringat dingin terus bercucuran.


"Nak Lian, kog malam-malam kesini?" tanya mama Desi.


Lian menatap kearah mertuanya, dengan mengumpulkan niat dia kembali untuk mengutarakan sesuatu yang terpendam selama ini.

__ADS_1


"Maaf ma, pa!"


"Maaf sebelumnya jika Lian tidak bisa menjadi menantu yang baik, suami yang baik untuk anak papa dan mama" ucap Lian sendu.


"Ada apa ini nak?" tanya papa Rendi.


"Iya, ada apa Lian?" tanya mama Desi.


"Kamu kenapa nak?" tanya papa Rendi lagi kepada Lian. Yang sesungguhnya sudah terlihat terdiam.


"Pa, ma, maaf sekali lagi. Sa-ya" suara Lian terdengar terputus.


"Sa-ya ingin bercerai dengan Cyra" ucap Lian lega karena kata-katanya telah terkeluar dari mulutnya yang hampir tidak bisa berbicara.


Tentu kedua orang tua ini pun menarik nafas panjang, karena mereka juga tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi. Mama dan papanya Cyra tahu ini semua akibat perbuatan putrinya sendiri. Malahan orang tua Cyra lah yang malu terhadap Lian dan keluarganya.


"Apa keputusan mu sudah bulat?" Papa Rendi bertanya demikian bermaksud menanyakan apakah keputusan Lian sudah sangat-sangat tidak bisa di ganggu.


"Iya pa" jawab Lian.


"Mama tahu ini pasti terjadi, tetapi sebagai orang tuanya Cyra, mama masih berharap kamu bisa mempertahankan rumah tangga kalian" ucap mama Desi yang terlihat sedih.


Bagaimana pun bagi orang tua Cyra, mereka lebih menginginkan kehidupan rumah tangga anaknya, akan baik-baik saja hingga maut memisahkan keduanya.


Para orang tua tentu sangat berat hati mendengar perceraian ini, hanya para orang tua tidak dapat berbuat banyak karena anaknya sudah dewasa dan kehidupan masing-masing sudah di jalankan.


"Mama, papa apa tidak marah terhadap saya. Yang meminta berpisah dengan Cyra?" tanya Lian.


"Mama dan papa yang seharusnya meminta maaf kepadamu, karena ulah, sifat, sikap, kelakuan Cyra yang tidak baik terhadap mu selama ini" ucap papa Rendi.


"Mama berharap yang terbaik untuk kalian, kalian pikirkan lagi tetapi keputusan tetap ditangan mu dan Cyra" ucap mama Desi yang hatinya kian merasakan sakit.


"Mama dan papa tidak bisa menyalahkan atau membela kalian berdua, ini semua sudah jalannya" ucap papa Rendi.


Papa Rendi dan mama Desi sebenarnya merasakan kecewanya yang kini kian membesar kepada Cyra, anak sulungnya.


Tetapi mereka tidak pernah menyalahkan ini semua terhadap Lian.


Setelah perbincangan panjang yang Lian lakukan dengan orang tua Cyra, dia merasa sedikit lebih lega. Dan dia kini lebih memikirkan ulang untuk keputusannya ini.

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2