Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan

Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan
44. Lian Vs Cyra


__ADS_3

Sesampainya Cyra dirumah, dia langsung memasuki kamarnya tanpa mau berkomunikasi dengan siapa pun yang dirumah. Tujuannya hanya mencari keberadaan Lian.


"Aghhhhh, pakai handuk mu" teriak Cyra saat tidak sengaja melihat handuk Lian terlepas, karena Lian baru saja mandi.


Lian pun terkejut dengan suara Cyra yang nyaring tersebut. Hingga membuatnya salah tingkah. Dengan cepat Lian membungkuk dan mengambil handuk yang terlepas dari pinggangnya.


"Maaf" ucap Lian sambil menatap Cyra.


"Bagaimana bisa kau berada di tempat yang sama dengan ku?" tanya Cyra tanpa basah basi.


"Apanya?" tanya Lian binggung sambil memakai pakaian santainya.


"Masih bertanya atau memang pura2 tidak tahu?" sindir Cyra.


"Kau mengapa bisa ditempat yang sama dengan ku, bersaing proyek dengan ku" sergap Cyra dengan muka emosinya, walau tidak begitu besar emosi yang terlihat.


"Apa salah ku berada disana?" jawab Lian.


"Salah, karena kau merugikan aku, aku akan di nilai kurang mampu bekerja setelah ini oleh bos di perusahaan, tentu kau tau itu"

__ADS_1


"


"Dimana ada rejeki ku disitu tentu aku berada" ucap Lian dengan datarnya.


"Tapi kau mengambil keuntungan ku, hingga aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan" ucap Cyra dengan galaknya, mata menatap Lian dengan tajamnya.


"Aku mengambil keuntungan untuk kita, untuk keluarga kita dan itu halal" jawab Lian. Dengan menekan kata halal di akhir katanya.


"Cihh, sungguh sial aku bertemu kau disana" jawab Cyra dengan kasarnya.


Memang baru pertama kali ini lah Cyra kalah dalam mendapatkan proyek, biasanya jika proyek besar seperti ini dia lah pemenangnya, tetapi sayang saat ini dia benar-benar harus kalah ditangan Lian.


Cyra hanya dapat terdiam mendengar jawaban dari Lian, karena itu memang kenyataannya. Lagi pula dia sendiri pun tidak tahu siapa lawannya pada saat itu dan meremehkan Lian ketika melihat lawannya didepan. Cyra sebenarnya sangat tidak bisa menerima kekalahan dia hari ini.


Bagi Lian hari ini adalah keberuntungannya, hingga dia bisa menabung lebih banyak untuk masa depan sang anak.


Lian berpikir sejenak, dia ingin menyampaikan hal ini sejak lama untuk Cyra hanya dia tidak dapat memberanikan dirinya untuk berbicara.


"Cyra" panggil Lian dengan suara santainya.

__ADS_1


"Apa?" jawab Cyra sedikit kasar karena saat itu Cyra sedang meletakkan tasnya di lemari khusus tas.


"Bisa tidak kamu kalau berbicara sedikit lebih lembut, sama seperti kamu berbicara terhadap mami dan papi?" tanya Lian.


"Lalu apa masalah mu, itu hak ku, cara berbicara ku, ya terserah pada ku" jawab Cyra seenaknya saja tanpa memikirkan apa yang dia jawab benar atau salah.


Disini Cyra terlihat tidak seperti wanita yang berpendidikan bagus, yang tau berbicara sopan santun terhadap orang lain.


"Sudah, aku tidak ingin membicarakan hal itu" potong Lian mendengar Cyra terus berkata semau dia.


Lian sudah merasa kesal dengan cara Cyra menghadapinya. Lian sungguh merasakan sebagai manusia yang tidak dianggap, tidak ada harganya.


"Lalu kau mau bicara apa?" tanya Cyra balik seperti mengejek.


"Cepat katakan, aku mau mandi!" ucap Cyra kasar.


"Aku enggak suka orang yang bertele-tele seperti mu" padahal Cyra tau jelas jika Lian bukan orang yang begitu.


Lian mencoba bersabar atas ucapan dari Cyra yang sungguh buruk ini.

__ADS_1


__ADS_2