
Satu minggu pun berlalu Lian sudah memutuskan untuk memberikan rumah yang selama ini dia tempati untuk Cyra, karena sejak awal rumah itu memang dia sediakan untuk Cyra, dia pun memilih untuk keluar dari rumah tersebut, satu minggu Lian lalu tanpa ada sepatah kata pun dari dia dan Cyra untuk masalah rumah tangga mereka. Lian mengajak Angel dan bik Narni untuk tinggal bersama dengan papi dan maminya.
Hari ini dia pun meminta pengacara untuk mengurus segala persoalan perceraian mereka. Lian terlalu sakit hati untuk melayangkan gugatan.
Sedikit perasaan Lian tersiksa, tetapi juga sakit dia rasa tentu masih melekat apalagi saat ini, karena Cyra sungguh tidak ada satu kalimat pun keluar dari mulutnya.
Lian tau bahwa Cyra menerima perceraian ini.
*****
Sedangkan Cyra, dia merasa lepas, bebas tanpa ada yang membatasi dia lagi, tanpa beban, mau dia bagaimana pun tidak akan ada yang melarangnya bahkan hingga papa Rendy dan mama Desi saja sudah tidak ingin mengurus atau mengambil pusing masalah hidup Cyra, karena Cyra sendiri yang meminta hal ini.
Bahkan dia sudah menanti surat perceraian itu segera datang, karena dia ingin melakukan liburan bersama teman semasa kuliahnya.
Baginya ini sangat menguntungkan dia, jika dia masih bersama Lian, tentu suaminya itu akan melarangnya untuk berpergian dengan alasan anaknya.
Ya, Cyra hingga saat ini pun tidak memperdulikan Angel, bahkan merindukan Angel saja dia tidak terpikirkan. Yang dia pikirkan hanya rencana apa yang akan dia susun dengan baik supaya setelah perceraiannya semua secepatnya terlaksana.
__ADS_1
Dikantor tempat Cyra bekerja.
"Cyra, mengapa kamu tidak mempertahankan rumah tangga mu?" tanya Tias yang sedang duduk berseberangan dengan Cyra di ruangan kerja Cyra.
"Apa yang mau dipertahankan, lagian Lian sendiri yang meminta perceraian ini dan aku hanya mengikuti apa yang dia mau, akhirnya dia sendiri yang enggak tahan sama aku"
"Kamu terlalu egois Cyra, kamu terlalu mementingkan diri mu sendiri" ucap Tias dengan berani tanpa berpikir apakah Cyra akan marah apa tidak, karena dia sendiri merasa kesal mengapa dia bisa mempunyai teman yang seperti ini, mengenal seorang ibu yang seperti ini.
"Anggap saja begitu" jawab Cyra tersenyum.
Ya, Cyra pun memang setidaknya sedikit sadar apa yang dia perbuat, hanya baginya ini sudah terjadi, mau di bagaimana pun sudah tidak bisa lagi.
"Cyra, apa kamu tidak sedih jika akan bercerai dengan Lian?" tanya Tias.
"Enggak, buat apa aku sedih, buat apa aku pusing, lagian selama ini dia sungguh tidak menguntungkan ku" ucap Cyra sambil mengunyah sebuah kripik singkong.
"Kamu akan menjadi janda lo!" cetus Tias.
__ADS_1
"Apa salahnya jadi janda?"
"Tidak ada yang salah, hanya..."
"Agh sudah lah enggak usah dipikirkan, aku saja enggak memikirkannya, malah kamu yang memikirkannya"
"Bagaimana nasib anak mu?" tanya Tias lagi.
"Ah, anak itu sudah pasti ikut papanya, aku juga mana bisa jaga, rawat anak itu, aku kan wanita karir" jawab Cyra sambil tersenyum.
"Kasihan anak mu, harus tumbuh tanpa dampingan seorang mama, orang tua yang lengkap, apalagi Angel anak yang sangat baik sekali" Tias yang merasa prihatin terhadap nasib Angel. Karena Tias juga mempunyai anak, dia pergi bekerja saja anaknya selalu menampilkan raut wajah bersedih. Itu yang membuatnya tidak tahan berpisah dengan anaknya.
"Biar saja, lagian dia masih punya papa, biar saja Lian yang mengurusnya, aku sudah tidak mau pusing dengan mereka" ucap Cyra.
"Lagian dia sendiri yang meminta cerai"
Tias pun akhirnya memilih untuk terdiam menatap wajah temannya itu.
__ADS_1
Cyra tidak seperti orang pada umumnya, jika berpisah dari pasangan yang diperebutkan adalah hak asuh anak ataupun harta gono-gini, bagi Cyra yang terpenting adalah berpisah saja dari Lian.