
Cyra masih berada dirumah mami Luci, walau berada disana tetap saja dia lebih banyak diam. Dia masih belum bisa untuk mengambil posisi sebagai seorang mama yang baik dan menantu yang baik walau sebenarnya dia sudah menjadi mantan menantu.
"Ma, mama kenal sama tante Vika?" Celoteh Angel.
Cyra hanya menggeleng lemah, walau dia memang sudah melihat Vika dari jauh.
"Orangnya baik ma, Angel sayang sama tante Vika seperti Angel menyayangi mama" ucap Angel membayangkan ketika bermain dengan Vika.
Cyra hanya bisa terdiam menatap datar anaknya, dia merasakan sebuah sakit didalam dirinya yang sulit dikatakan keluar saat ini.
"Angel, kog cerita tante Vika sama mama, cerita yang lain saja" ucap mami Luci kepada cucunya.
"Angel mau mama kenal tante Vika juga oma!" Protes Angel.
"Nanti mamamu pasti berkenalan kog sama tante Vika, sekarang cerita yang lain ya!" nasehat omanya.
"Iya oma" Angel menuruti apa yang omanya katakan.
"Tidak apa-apa mi, biar saja Angel bercerita tentang Vika, tapi Cyra memang tidak mengenal Vika siapa" ucap Cyra dengan nada datar.
Mami Luci tau jika saat ini Cyra merasa cemburu, karena dia sendiri sudah datang menemui anaknya, anaknya bakhan bercerita tentang orang lain kepadanya.
"Siapa sebenarnya Vika" batin Cyra kembali membayangkan wanita muda yang pernah dia lihat kemarin.
Tidak berapa terdengar suara kaki melangkah mendekati mereka dari arah belakang.
Jantung Cyra kini berdetak lebih kuat lagi dari yang sebelumnya sudah stabil, dia tidak berani menoleh ke arah belakang, karena dia takut jika yang sedang mendekati mereka adalah Lian, maka dia sangat takut akan di usir. Atau Lian sedang datang berdua dengan wanita yang bernama Vika. Membayangkan kedatangan Lian dengan wanita yang bernama Vika, tiba-tiba dia merasakan sulit bernafas dan ingin menangis saja.
__ADS_1
"Untuk apa kamu kesini" tanya suara itu begitu tinggi, Cyra pun langsung menoleh ke belakang, suara wanita yang begitu dia kenal.
"Mama" panggil Cyra.
"Sabar ma" ucap papa Rendi yang juga mendampingi istrinya.
"Nenek, kakek" panggil Angel dengan riangnya.
"Angel ke kamar dulu ya" usul oma Luci karena dia tahu jika besannya kali ini ingin memarahi Cyra.
"Tapi oma, Angel juga kangen nenek sama kakek" bantah Angel.
"Nanti nenek sama kakek ke kamar Angel ya, Angel tunggu disana biar lebih enak kita kangen-kangenannya" ucap mama Desi kepada cucunya ini dengan lembut.
"Ok, dha-dha semua" jawab Angel dengan polosnya karena memang mengetahui bakal ada keributan pas bik Narni lewat, jadi dia yang menemanin Angel didalam kamar sementara ini.
"Kamu ngapaen kesini, apa kamu tidak malu dengan dirimu sendiri?" tanya mama Desi yang terlihat raut wajah emosi.
"Bukannya kamu tidak perduli dengan anakmu jadi untuk apa kamu kesini" bentak mama Desi.
"Duduk dulu" ajak mami Luci kepada besannya.
"Enggak usah mbak, aku ingin anak ini sadar dulu" jawab mama Desi.
"Sabar, tenang ma!" ucap papa Rendi menenangkan istrinya.
"Cyra, kamu kesini mau apain?" tanya papanya datar.
__ADS_1
"Cyra hanya ingin bertemu dengan Angel pa, Cyra kangen sama anak Cyra"
"Kangen, anak! Baru sadar kamu punya anak?" cerca mama Desi.
"Dulu kemana saja kamu, anak dan suami dia sia-sia kan begitu" mama Desi nampak masih tidak menerima Cyra.
"Mama malu melihat kamu kesini" ucap mama Desi dengan nada yang lebih mengecil tetapi seperti tersirat rasa kecewa yang sangat besar kepada Cyra.
"Mama sangat kecewa Cyra, mama kecewa" ucap mama Desi sedih.
"Sudah dek, enggak apa-apa sudah terjadi dan sudah berlalu" mami Luci memberikan ketenangan kepada mama Desi dengan memegang bahu mama Desi.
"Tapi mbak, sudah enggak apa-apa. Kita lupakan saja kejadian yang telah lalu" ucap mami Luci.
"Maaf pa, ma, mi! Maafin Cyra" ucap Cyra dengan menunduk.
Cyra mengetahui jika dia bersalah dalam hal ini tapi semua sudah terlambat walau dia berusaha memperbaikinya, tetap saja tidak akan sama lagi.
"Mami sudah memaafkan mu dari dulu nak!" jawab mami Luci yang memang menyayangi Cyra, walau dia tau menantunya ini bukan lah menantu yang baik.
"Sebaiknya kamu pulang saja dulu Cyra" ucap papa Rendi.
"Iya pa"
Cyra pun berpamitan kepada orang tuanya dan mami Luci.
Papa Rendi dan mama Desi menatap kecewa terhadap anaknya. Mereka juga malu terhadap mami Luci yang masih begitu baik memperlakukan Cyra.
__ADS_1