Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan

Suami Dan Anak Yang Tak Diinginkan
17. Pertama Kali Berada Dekat Dengan Anak Dalam Perut


__ADS_3

Lian mencoba menaiki ranjang dimana Cyra sedang berbaring. Sedari tadi Lian memperhatikan Cyra gelisah diatas ranjangnya.


"Kamu kenapa?" tanya Lian.


"Aku sulit tidur, ke kanan salah, ke kiri salah, kesal aku sama perut ini" ucap Cyra.


"Cyra cukup itu anak kita" ucap Lian dengan sedikit marah karena tidak menganggap anak ini.


"Tapi ini membuat ku tersiksa tau, badan ku melar, perut ku pecah-pecah dan kaki pegal saat ini, punggung ku sakit" ucap Cyra dengan galaknya.


"Kasih tahu aku jika kau mengalami masalah, sini aku pijitin kaki mu" ucap Lian.


Lian pun mendekati Cyra dan duduk di bagian tepi kaki Cyra, Lian mulai memijit betis hingga telapak kaki Cyra. Dengan perlahan Lian terus memijit kaki istrinya. Cyra tidak memberikan penolakan terhadap apa yang dilakukan Lian.


"Kalau bisa setiap hari begini" batin Cyra tersenyum nakal.


Cyra hanya memejamkan matanya sebagai tanda dia menikmati dipijit oleh Lian.


Hampir 1 jam Lian terus memijiti kaki Cyra. Hingga dia kelelahan sendiri.


"Punggungnya mau dipijit?" tanya Lian.

__ADS_1


"Enggak" ucap Cyra secara langsung.


"Aku enggak mau kau menyentuh tubuh ku yang lain" Cyra melotot kearah Lian.


"Cyra" panggil lembut Lian.


"Apa" jawab Cyra ketus.


"Boleh aku memegang perut mu, aku ingin mendengar detak jantung anak kita, geraknya anak kita" ucap Lian penuh harap.


"Hmm" lama sekali Cyra berpikir untuk menjawab apa yang menjadi keinginan dari suaminya.


Bahkan nafkah batin saja tidak dia berikan untuk suaminya. Lian selalu menghormati istrinya, tidak ingin memaksa istrinya, dia ingin semua dilakukan bersama-sama dengan hati yang gembira.


"Baik lah, aku izinkan" jawab Cyra.


Sedari tadi gerak anak didalam perut Cyra sangat lah kuat.


Lian mendekatkan pelan-pelan tangannya dan meletakkan diatas perut istrinya.


"Hai nak, ini papa!" sapa Lian kepada anaknya.

__ADS_1


Anak tersebut terasa bergerak lebih teratur daripada yang tadi dirasakan oleh Cyra.


"Kamu baik-baik saja kan, papa menunggu mu terlahir kedunia ini ya" ucap Lian, dia pun terharu dengan ucapan dia sendiri.


Cyra hanya diam memperhatikan Lian yang terus berbicara didepan perutnya ini. Sedikit, sangat merasa bersalah yang Cyra rasakan atas perlakuan dia terhadap Lian, hanya saja egoisnya lebih tinggi, harga dirinya, rasa kecewa pada hidupnya lebih tinggi.


"Kamu jangan nakal ya diperut mama, biar mama enak tidur, jangan banyak gerak kasihan mama" ucap Lian menasehati anak yang masih dalam perut istrinya.


Terdapat tendangan atau gerakkan kecil sebanyak satu kali dari dalam perut itu di rasakan oleh Cyra dan Lian karena dia menempelkan pipinya pada perut Cyra. Lian terkejut dengan gerakkan anaknya, tetapi dia tentu tersenyum senang.


Kemudian Lian menciumi perut Cyra.


"Sudah-sudah jangan lama-lama lebaynya, aku mau tidur" ucap Cyra.


"Iya, aku mengerti, terima kasih" jawab Lian sambil tersenyum.


Tentu Lian sangat bahagia malam ini, dia merasakan seperti seorang suami bersama istrinya yang sedang berbicara dengan anaknya didalam perut sang istri.


Memang tidak terasa saat ini perut Cyra sudah membesar, tinggal dua bulan lagi, Lian akan bertemu malaikat kecilnya secara langsung, walau selama ini dia meminta Cyra untuk memeriksa kandungan bersama, tetap Cyra tidak pernah mau untuk pergi bersama Lian, dengan beribu alasan Cyra menghindari Lian.


Lian hanya bisa pasrah menerima apa yang dikatakan Cyra, bagi Lian yang terpenting saat ini Cyra dan bayi mereka sehat-sehat saja.

__ADS_1


Lian sungguh harus mempunyai kesabaran yang sangat tinggi untuk menghadapi Cyra.


__ADS_2