
"Aku ingin kau berhenti kerja!" ucap Lian dengan tegas tanpa sedikit pun raut diwajah dia yang terukir.
Seperti orang biasa saja raut wajah yang Lian tampilkan ketika berbicara dengan Cyra saat ini. Tetapi dengan raut wajah seperti ini lah, Lian sulit ditebak bagaimana aslinya Lian.
"Seenaknya saja mulut mu berbicara meminta aku berhenti kerja?" jawab Cyra dengan judesnya.
"Aku katakan pada mu, aku tidak akan berhenti kerja sebelum aku puas dalam karir ku" ucap Cyra sambil memandang wajah Lian dari dekat.
"Aku ingin kamu berhenti kerja untuk lebih fokus merawat Angel, sudah lama Angel kehilangan waktu dengan mamanya dan semua fasilitas mu akan tetap tercukupi dengan ku!" ucap Lian dengan lembut berharap agar Cyra dapat mengerti dan mau menurutinya.
"Aku sudah katakan, aku tidak akan berhenti kerja!" jawab Cyra.
"Dan satu lagi, aku tidak suka mengurus anak, lagian Angel sudah besar apa yang perlu di urus?"
"Angel masih butuh kasih sayang yang sangat banyak" jawab Lian.
"Dan satu lagi, Aku tidak butuh apa-apa dari mu, aku hanya ingin kebebasan!" jawab Cyra dengan santainya.
"Cukup sudah Cyra, kau menguasai semua yang ada disini, saat ini kau harus bisa menurut apa kata ku!" ucap Lian dengan tegas.
__ADS_1
"Kau memang siapa?" tanya Cyra dengan mudahnya sambil memiringkan sedikit kepalanya.
Lian sudah menahan tangannya yang ini bergerak maju menuju pipi mulus Cyra hanya dia bertahan untuk tidak sekali pun memukul istrinya. Dia mengingat pesan dari mertua laki-lakinya hal tersebut jangan lah sampai terjadi, jika tidak ingin melihat Cyra, mertua laki-laki Lian meminta Lian untuk mengantar Cyra kembali ke rumah dalam keadaan sehat.
"Aku, SUAMI mu" ucap menekan kata suami.
"Kau lupa, aku tidak pernah menganggap kau suami ku" ucap Cyra dengan santainya.
Walau sebenarnya Cyra saat ini mengingat kembali kebaikan apa yang Lian perbuat untuknya.
"Cyra kau" Lian sudah terlihat sangat geram dengan kata-kata dari Cyra.
"Mengapa?" tantang Cyra.
"Ini pipi ku sudah siap!" ucap Cyra meledek Lian.
"Tapi ingat, satu kali saja tangan mu melayang ke pipi ku, kau tidak akan pernah melihat ku berada di rumah ini lagi" jawab Cyra dengan tersenyum menang.
Cyra pun tau jika Lian tidak mungkin akan menamparnya maka dengan berani dia menantang Lian. Cyra ingin membuat Lian emosi. Dia ingin melihat sampai kapan Lian mau bertahan dengannya, dengan sifat, sikap dia sekarang terhadap Lian.
__ADS_1
"Tuhan, sabarkan diri ku" batin Lian mengingat kepada sang pengcipta agar dirinya tidak sampai kelepasan dengan Cyra.
Ketika Cyra menjauh darinya, Lian menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan, karena dari tadi diam menahan emosi, hingga badannya pun ikut bergemetar.
"Cyra, kau harus berhenti kerja. Aku tidak mau tahu alasan kau yang lainnya" ucap Lian dengan tegas menatap Cyra dengan tajam.
Cyra tahu kali ini Lian tidak main-main dengan ucapannya.
"Iiiihhhhhhhhh" ucap Cyra dengan kesal menghentakkan kedua tangan berserta kakinya. Cyra merasa emosi dia yang kini menaik, merasa emosi dia tidak terbalaskan.
Dia pun memasuki kamar mandi dengan emosi.
Karena Cyra merasakan usaha dia sia-sia membuat Lian untuk emosi tinggi terhadapnya, kalau Lian bisa sampai emosi itu menguntungkan untuk Cyra.
Sedangkan Lian menyelesaikan masalah dia dengan kepala yang dingin.
Cyra pun menatap Lian dengan tatapan penuh emosi, wajahnya tentu berubah dengan raut wajah yang sangat jelek.
Lian pun memilih untuk keluar dari kamarnya, mencari keberadaan anaknya, Angel.
__ADS_1
Karena dengan melihat wajah Angel lah hati dia akan lebih cepat tenang serta bahagia.
Apalagi ketika Angel berlari memanggilnya papa dengan suara ceria dari Angel.