
Kemudian Lian pun mengambil kembali kain yang dilempar Cyra ke lantai. Dengan hati yang masih bisa di bilang tenang, Lian merendam kembali kain itu kedalam air hangat dan mengompres kening Cyra. Dilakukannya berulang kali hingga ada setengah jam lebih. Mau tidak mau pun Cyra menerima apa yang dilakukan Lian kepadanya.
Cyra memandang Lian dari dekat dengan jelas. Cyra tau jika selama menikah Lian tidak pernah menunjukan raut wajah bahagia didepan Cyra atau sedang berduaan dengan Cyra.
Lian pernah sangat bahagia hanya pada saat Cyra melahirkan Angel, itu lah hari terbahagia bagi Lian, selama berumah tangga dengan Cyra. Itu adalah kebahagian tertulus Lian.
"Kamu enggak kerja?" tanya Cyra dengan nada yang masih tidak bersahabat.
Hanya untuk berbasah basi dengan Lian. Karena dia merasa suasana kamar ini sangat sepi. Padahal memang selama ini, rumah ini sangat dirasakan oleh mereka adalah kondisi sepi, tidak adanya pasangan suami istri yang bercanda, atau duduk santai sambil mengobrol. Suasana rumah akan terasa ramai bila Angel menangis saja.
"Itu perusahaan ku, aku mau masuk kapan saja terserah aku" jawab Lian.
Cyra terdiam seperti sedang berpikir "perusahaan apa yang dia punya"
Cyra selama ini memang tidak tahu, perusahaan apa yang Lian punya, karena tidak ingin tahunya dia. Baginya dia hanya seperti menumpang tinggal di rumah Lian.
"Ah, untuk apa aku pikiran perusahaan orang lain" batin Cyra.
"Mending aku pikiran, kerjaan ku akan tertumpuk jika aku satu hari saja tidak mau!" batin Cyra terkelana ke perusahaan tempat dimana Cyra bekerja.
__ADS_1
Cyra hanya bisa menikmati dunianya, jika berada di kantor, jika sedang bersama teman-temannya. Berbanding terbalik jika Cyra sudah pulang kerumah atau berada dirumah milik suaminya ini, dia merasa terkurung, sangat tidaknya.
Semua itu adalah Cyra yang membangun suasananya, dia yang tidak terbuka, dia yang selalu menghindar. Bagi rumah tangga istri adalah sebuah jantung rumah. Tetapi itu tidak berlaku untuk Cyra.
"Sudah, aku mau kebawah dulu lihat Angel, nanti aku minta mami atau bik Narni membawakan mu sarapan" ucap Lian segera bangkit dari samping Cyra.
"Hm" jawab Cyra.
Lian pun keluar dari kamar, setelah bertemu hanya dengan maminya, Lian meminta mami Luci untuk mengantarkan Cyra sarapan.
Kemudian Lian pun bermain dengan anaknya.
Angel hanya tersenyum mendengar apa yang papanya katakan, karena tentu dia belum mengerti apa yang barusan dikatakan oleh papanya.
Angel anak yang sangat lucu, dengan pipi gembulnya, mata yang bulat, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung serta bibir yang tipis mungil.
*****
"Cyra, ini mami buatkan bubur, kamu makannya!" ucap mami Luci ketika sudah berada dalam kamar Cyra.
__ADS_1
"Ah, iya mi" ucap Cyra masih dengan sedikit lemah.
"Kog mami repot-repot sih siapin aku sarapan, nanti aku bisa pergi ambil sendiri mi!" ucap Cyra.
"Enggak apa-apa, kamu lagi sakit harus banyak istirahat ya, mami enggak mau melihat kamu sakit lebih lama!" ucap mami Luci dengan lembutnya.
"Maaf mi" ucap Cyra pelan.
"Maaf kenapa?" tanya mami Luci.
"Ah, sudah kamu makan dulu ya, mami mau lihat Angel lagi" ucap mami Luci.
Seorang ibu mertua yang sangat lembut, perhatian terhadap menantunya. Cyra disini tidak kekurangan kasih sayang dari seorang ibu, karena telah diberikan oleh mami Luci.
Setelah mami Luci menemui Lian, sekarang giliran Lian lagi ke kamar untuk memberikan Cyra obat demam.
"Sudah selesai makan kan"
"Itu obat di minum, setelah itu istirahat" perintah Lian tegas.
__ADS_1
Cyra hanya diam lalu mengambil 1 butir obat itu, terus meminumnya.