
Sesampainya dikantor Cyra benar-benar terlihat pucat.
"Cyra, kamu enggak apa-apa?" tanya temannya yang bernama Tias.
"Aku merasa sangat lelah" ucap Cyra lelah.
"Kenapa juga ya aku merasa mual terus?" tanya Cyra kepada temannya ini.
"Kau apakah masih datang bulan setelah menikah?" tanya Tias.
Tias yang memang sudah berpengalaman mempunyai anak, dia pun memperkirakan saat ini Cyra kemungkinan sedang mengandung.
"Datang bulan" batin Cyra, dia merasa terkejut dengan dirinya sendiri, karena selama ini dia terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan hingga melupakan diri sendiri.
"Datang bulan, yak ampun ini tanggal berapa?" tanya Cyra pada Tias.
"Astaga Cyra, kamu ini terlalu fokus kerja dan kerja sampai tanggal berapa pun lupa dan yang di tahu hanya hari saja?" ucap Tias sambil menepuk jidat dia sendiri.
Cyra pun mengambil kalender di sudut meja, ketika dia melihat kalendernya. Dia melotot menatap tanggal di kalender.
"Tias, apa aku bisa hamil?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Cyra.
__ADS_1
"Apanya tidak bisa hamil, ada-ada saja kamu, kamu sudah nikah dan berhubungan ya bisa" jawab Tias tanpa basah basi.
"Sini" kata Cyra lalu membisikan kepada Tias apa yang ingin dia katakan supaya orang lain tidak mendengar.
"Apa?" Tias kaget mendengar apa yang Cyra bisikan.
"Kamu gila ya?" tanya Tias.
"Aku sudah katakan pada mu, aku belum ingin nikah, aku masih ingin bisa travelling, ingin karir ku lebih bagus, masih ingin menikmati masa gadis" ucap Cyra.
"Cyra, usia mu sudah segini dan jabatan mu sudah sangat ok, masih ingin lebih?"
"Apa sih yang mau kamu cari terus" tanya Tias.
"Terus bagaimana?" tanya Cyra.
"Setahu aku, kalau dalam masa subur itu sih bisa saja terjadi" terang Tias.
"Pastinya pulang kerja kamu ke dokter kandungan deh" usul dari Tias yang melihat temannya ini yang sungguh tidak perduli akan diri sendiri.
"Kamu apa enggak senang jika kamu hamil?" tanya Tias.
__ADS_1
"Aku biasa saja, mau tidak mau juga harus melahirkan jika sudah hamil" jawab Cyra.
Tias saat ini hanya bisa terdiam tanpa berkata mendengar jawaban dari Cyra.
Setelah selesai dari pembicaraan mereka, Cyra dan Tias pun melanjutkan tugas masing-masing sebagai pekerja dikantor tersebut.
Cyra sebenarnya merasa tersiksa dengan kondisi badannya, dia merasakan sangat lelah hanya dia tetap ingin profesional dalam bekerja hingga dia tidak membiarkan tubuhnya untuk beristirahat lebih lama.
Hingga waktunya pulang kerja, Cyra pun pergi ke sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar hanya untuk memeriksakan dirinya sesuai dengan apa yang dikatakan Tias.
Kini Cyra berdiri didepan sebuah pintu yang berwarna putih bertuliskan dokter Lala. Spog.
Lama Cyra mengantri didekat pintu ruangan sang dokter. Disamping kanan kiri Cyra adalah ibu-ibu hamil yang datang didampingi suaminya, Cyra yang melihatnya pun tidak merasa iri sama sekali, bagi dia datang sendiri kesini lebih leluasa.
"Silakan masuk" ucap seorang suster saat Cyra sudah mendapat gilirannya.
"Terima kasih" jawab Cyra sambil tersenyum.
Cyra menatap kedalam ruangan terdapat gambar-gambar alat reproduksi, bayi, cara lahir bayi, serta alat-alat canggih milik sang dokter.
Setelah suster menanyakan segala tentang kehadiran haidnya dan segalanya suster tersebut pun berkata
__ADS_1
"Silakan ibu Cyra berbaring, dokter akan memeriksa, dan mari saya bantu untuk memberikan gel dulu sebelum di usg" lalu membantu Cyra berbaring disebuah ranjang yang cukup untuk satu orang.
Cyra pun menunggu dokter melakukan tindakan selanjutnya pada diri dia.