
Alena merasakan sakit di seluruh badannya, dan kepalanya begitu pusing akibat terlalu banyak minum semalam. Dia terbangun dan mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan yang tampak asing baginya, ternyata teman temannya hanya meninggalkan dia disana . Alena meringis merasakan sakit di bagian *nt*mnya, dia pun jadi kaget entah apa yang sudah terjadi pada dirinya semalam.
"Aww kenapa sakit ya? oh my god apa yang udah terjadi sama aku" tanya alena pada dirinya sendiri.
Byurrr . . . . . . . .
Alena semakin terkejut mendengar suara air di kamar mandi. Setelah di rasa kepalanya agak sedikit enakan, Alena berniat ingin mengetuk pintu kamar mandi. Namun alangkah terkejutnya dia setelah menyibakkan selimutnya dan mendapati tubuhnya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.
"Hah?? apa yang udah terjadi!! aku kenapa ini" Alena merasa bingung dengan keadaannya sendiri. Hatinya benar-benar tidak tenang apalagi kini dirinya sudah seperti seorang bayi, apakah ini ulah teman temannya?? alena hanya bisa menerka-nerka, namun amarahnya juga tidak bisa di pendam.
Alena mengutip semua pakaiannya yang berceceran di lantai. Dan berjalan ke arah kamar mandi dengan nafas terengah-engah, dan menggedor gedor pintu kamar mandi tanpa memikirkan apapun. Karna pikirannya blank saat ini hatinya sangat panas karena memikirkan nasipnya akan seperti apa kedepannya, apalagi hal yang paling berharga yang selama ini dia jaga hancur dalam satu malam saja.
Tuk tuk tuk "Buka pintunya sialan, buka? " teriak Alena geram.
"BUKA BUKA BUKA" Alena berteriak dengan nafas ngos-ngosan dan muka yang merah padam.
Ceklek. . . Pintu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki tampan yang tidak asing baginya.
Alena terkesiap dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Apa??? jadi semalam saya tidur d_dengan pak vicky?" tanya Alena marah.
Vicky hanya menatap heran ke arah Alena, yang terlihat seperti sedang menahan sesuatu.
"Saya tidak perduli mau anda bos saya atau anda presiden sekalipun, yang saya mau anda harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah anda lakukan terhadap saya" tekan Alena dengan gigi yang bergelutuk karna sedang menahan amarahnya.
"Saya harus bertanggung jawab dengan cara apa nona Alena? " tanya vicky santai.
Alena mendekati vicky dan menatapnya dengan marah.
"Anda sudah mengambil harta yang paling berharga dalam hidup saya tuan vicky" jawab Alena dengan menekankan kata katanya.
__ADS_1
Vicky hanya tersenyum dan menatap Alena dengan santai. Sedangkan Alena semakin geram melihat sikap santainya vicky yang seolah mengabaikan perkataannya. Vicky memegang dagunya Alena dan berkata.
"Saya akan menikahi kamu besok" jelas vicky dengan singkat.
Sontak Alena terbelalak dengan ucapan spongan vicky, 'Menikah'? vicky bahkan sudah punya istri laku bagaimana dengan dirinya? Alena tidak Terima.
"Hei tuan apa anda pikir pernikahan adalah bahan lelucon?? lalu bagaimana dengan istri anda yang pertama? " tanya Alena geram.
"Lalu apa kamu tidak memikirkan nasip kamu sendiri? " tanya vicky sambil mengambil pakaiannya yang ada dalam paper bag.
"Apa maksudnya saya akan jadi istri kedua? " tanya Alena.
"Yap seperti itu tepatnya" jelas vicky. Alena melotot tak percaya dengan ucapan vicky yang bahkan terlihat tanpa ada beban sedikitpun.
"Satu lagi kamu juga harus berhati-hati dalam membedakan kawan dan juga lawan" ucapan vicky memperingati.
"Maksud anda apa? " tanya Alena ketus.
Alena memilih duduk di samping vicky dengan rasa kecewanya karena mengingat apa telah vicky katakan barusan. Apa mungkin sekejam itukah permainan teman-temannya? setau Alena selama ini dia tidak pernah punya masalah dengan mereka, lantas kenapa teman-temannya malah menjebak dirinya sampai dengan cara menjijikkan seperti ini.
"Kenapa kamu kaget! gak percaya?" Vicky mengambil rekaman CCTV dan menunjukkan kepada Alena.
"Apa mereka teman teman kamu? " tanya vicky. Dan Alena mengangguk dan tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat.
Terlihat teman temannya membawa masuk Alena kedalam kamar yang salah. Dan kemudian ada yang membuat minum untuknya dengan mencampur sesuatu yang Alena tidak tau apa isinya. Kemudian mereka membuka mulut Alena secara paksa dan menuangkan minuman tersebut ke dalam mulutnya.
"Hiks hiks apa salahku? kenapa kalian tega" tanya Alena dengan tidak kuasa menahan rasa sedihnya.
Vicky merasa iba melihat Alena yang begitu terlihat kecewa dengan kelakuan teman temannya, Dia terlihat sangat terpukul.
"Terus kenapa pak vicky melakukan semua ini kepada saya hiks" tanya Alena dengan marah. dan memukul mukul dadanya vicky dengan kesal.
__ADS_1
"Saya laki-laki normal, apalagi kamu terus meronta seperti cacing kepanasan semalam dan sampai melepaskan semua pakaian kamu di depan saya".
" Jadi kamu pikir sekarang, apa saya tidak akan tergoda? apalagi semalam saya juga sedikit mabuk" jelas vicky lugas tanpa merekayasa.
Alena sangat malu mendengar penjelasan vicky yang secara tidak langsung telah mengatakan bahwa dirinyalah yang telah menggoda vicky.
"Terus saya harus gimana pak?? ini bukan kemauan hati saya hiks hiks saya harus bagaimana? " tanya Alena dengan begitu sedih dan sangat terluka.
"Seperti yang saya katakan barusan, besok kita akan menikah kamu siapkan diri kamu aja" jelas Vicky.
Alena terisak pelan, apakah harus sesingkat ini perjalanan hidupnya? bahkan rasa cinta nya untuk arga sama sekali tidak pernah di gubris olehnya. Dan sekarang dia harus menikah dengan atasannya sendiri yang bahkan sudah beristri. Pikiran Alena sangat kalut apakah dia benar-benar akan menikah dengan seseorang yang bahkan tidak pernah dia bayangan sebelumnya.
Vicky melirik ke arah Alena yang seperti sedang memikirkan sesuatu, bahkan bahunya sedikit tergoncang karna berusaha menahan tangisnya. Vicky hanya bisa menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Dan Alena hendak bangkit ingin ke kamar mandi namun karna terlalu banyak pikiran dan sedikit merasa pusing akhirnya dia terjatuh dan pingsan.
Vicky terkesiap dan langsung mengangkat tubuh Alena membawanya ke atas tempat tidur. Vicky juga merasa bersalah atas apa yang sudah menimpa mereka, namun dia juga tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Apalagi semalam dia juga sedang mabuk dan pikirannya juga sedang kacau karena memikirkan nasip rumah tangganya sendiri.
Vicky mencoba untuk membuat Alena segera sadar, namun dia juga bingung harus dengan cara apa dia membangunkan Alena.
"Kasih nafas buatan aja kali ya? tapi kan dia pingsan, telpon beni aja lah" vicky menelpon asistennya dan menyuruh untuk membeli minyak angin atau sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membangunkan Alena yang sedang pingsan.
Tak berapa lama setelah beni datang dan vicky langsung mengoleskan minyak angin di kepala dan hidungnya Alena. Akhirnya dia pun tersadar, namun Alena malah menagis dan memukul mukul dirinya sendiri dengan brutal.
"Waduh bos Alena kenapa? " tanya beni panik.
"Nanti aja ceritanya, sekarang kamu bantu saya buat antar Alena kerumahnya" .
"Oke bos".
Vicky lebih dulu membujuk Alena agar dia tidak terus menerus menyakiti tubuhnya sendiri. Dan vicky berjanji akan segera tanggung jawab dan Alena sedikit tenang mendengar penjelasan vicky, mereka pun segera mengantarkan Alena kerumahnya.
Beni di buat bingung melihat kondisi Alena, dia terus menerka-nerka apa yang telah terjadi antara bosnya dan juga sekretaris bos nya itu. Namun beni hanyalah seorang asisten dia tidak berani menanyakan hal yang bisa membuatnya kehilangan pekerjaannya. Namun apabila vicky ingin bercerita atau ingin bantuannya maka beni hanya bisa bersiap.
__ADS_1
#Bersambung