
Malam tiba ternyata arga memilih pulang kerumahnya dara. Sudah dua hari dia tidak bertemu dengan kedua anaknya, rasanya dia sangat merindukan mereka. Namun saat berpamitan dengan karina dia menjadi lesu melihat wajah murung istrinya ini.
"Mas hanya rindu sama anak anak sayang."
"Iya mas aku ngerti, tapi awas jangan sampai kelepasan saat bersama dara." Karina mengalungkan tangannya di leher arga.
"Kalau gitu mas pergi dulu, cup." Mereka berciuman mesra.
Karina begitu agresif saat bersama suaminya dia begitu menikmati kebersamaan sesaat mereka.
Selepas kepergian arga dia tersenyum senang dan kegirangan. Dia tidak perduli walaupun dirinya adalah istri kedua.
Yang terpenting dia sangat menikmatinya karena suaminya juga begitu menyayangi dirinya.
Arga memarkirkan mobilnya di garasi. Dia langsung menuju kamar anak anaknya untuk melihat keadaan mereka.
Tok tok tok. . .
"Masuk." Ujar bella dari dalam.
Cek lek. . . . Betapa bahagianya dia saat melihat kedatangan papanya. Bella langsung berlari ke pelukan papanya sambil menangis.
"Hiks hiks papa kemana aja." Arga mengelus ngelus rambut putrinya dengan sayang.
"Papa kerja sayang kakak kamu kemana nak." Arga tidak melihat adanya kehadiran brian di sana.
"Kakak di kamarnya pa. Ayok duduk di sana dulu pa aku kangen banget sama papa."
"Papa juga cup." Arga mencium lembut kening putrinya.
"Kamu udah makan sayang." Bella mengangguk, Arga tersenyum melihat putrinya yang begitu menggemaskan.
__ADS_1
Bella menceritakan banyak hal kepada papanya. Arga juga mendengarkan dengan baik cerita putrinya, namun pikirannya masih memiliki akan bagaimana nasip rumah tangganya bersama dara. Dia telah melangkah begitu jauh sehingga sekarang hubungannya bersama dara sudah tak se harmonis dulu lagi.
Arga menemani Bella hingga ia terlelap dalam tidurnya. Tanpa terasa matanya berembun karena menahan tangis, pasti kedua anaknya akan terluka jika mengetahui perlakuannya yang telah tega mengkhianati mama mereka.
"Maafkan papa sayang hiks hiks maafkan papa." Arga mencium kening putrinya dan menyelimutinya.
Setelah menutup pintu kamarnya Bella. Dia beranjak ke kamar putranya, dilihatnya brian yang sudah terlelap. Hatinya kembali sakit saat melihat putranya yang masih kecil tapi harus mempunyai seorang ayah seperti dirinya.
"Apa yang telah aku lakukan hiks hiks. Bukan hanya hati dara yang aku sakiti namun juga kedua malaikat kecilku yang tidak bersalah." Arga terisak di dalam kamarnya brian.
Dia menumpahkan segala rasa sesaknya sambil bergumam pelan.
"Maafkan aku ya Tuhan. Maafkan papa nak semoga kalian akan tetap baik baik saja kedepankan." Arga mengelus dah menciumi pucuk kepalanya brian dengan sayang.
Kemudian dia meninggalkan kamar brian dan beranjak ke kamarnya sendiri. Ternyata brian hanya berpura-pura tertidur saat mendengarkan ada yang membuka pintu kamarnya. Begitu mendengarkan suara papanya dia tersenyum senang dalam hati.
Namun senyumnya hilang saat mendengarkan keluhan papanya. Walaupun dia tidak mengerti namun dia sedikit memahami apa yang dimaksud oleh papanya.
Brian terbangun dan menangis sendirian di dalam kamarnya. Dia berpikir apakah suatu saat mereka akan di tinggalkan oleh papa mereka. Dia tidak bisa menerima semua ini, dia juga tidak mengerti mengapa papanya berbicara seperti itu.
Arga memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
'Kenapa matanya sembab ya! apa dia habis menangis.'
Dara membuang rasa ibanya dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Setelah selesai memakai cream malamnya dia melanjutkan untuk mengecek pekerjaannya.
Dara terlihat sangat sibuk dengan laptopnya. Arga yang telah selesai mandi pun mencari sendiri piyama tidurnya.
Dia masih segan untuk membuka obrolan dengan dara. Dilihatnya dara sangat sibuk dengan pekerjaannya dan masih saja mengabarkan kehadirannya.
Karena tidak tahan terus menerus di cuekin. Akhirnya dia memulai obrolan di antar mereka, sudah lama dia tidak berbicara dengan istrinya.
__ADS_1
"Aku mau bicara." Ujar Arga dingin.
"Emm." Jawaban singkat dara membuat Arga kesal.
"Aku serius dara jangan pancing keributan malam malam begini." Dara menutup laptopnya dan menyimpannya di atas nakas.
"Kalau begitu jangan bicara." Ketus dara semakin membuat Arga emosi.
"Aku masih suami kamu apa kamu paham itu. Tolong hargai aku dan dengarkan omongan ku." Arga menarik tangannya dara dengan muka yang memerah.
"Heuh sekasar itulah kamu yang sekarang." Arga terdiam dan menyadari kesalahan.
"Maaf." Dara mencemooh ternyata kata maaf lah yang selalu di andalkan oleh suaminya.
"Kata kata maaf udah gak berarti lagi buat aku mas. Minggir aku mau istirahat karena besok banyak hal yang harus aku urus."
"Kamu anggap aku apa sekarang hah. Aku mau bicara baik-baik dara tolong duduk dan dengarkan aku dulu."
"Seharusnya aku yang bertanya begitu mas bukan kamu. Sadar gak apa yang telah kamu perbuat untuk aku dan anak anak kamu."
"Aku sudah menjelaskan semuanya sama kamu lalu apalagi yang ingin kamu dengar."
"Penjelasan kamu sama sekali gak masuk di akal mas. Gini aja deh aku juga malas berdebat, kamu tunggu aja surat cerai dari aku." Arga tidak menyangka jika dara akan berkata seperti itu.
"Tidak semudah itu kamu akan bercerai dari aku. Aku tidak akan pernah mau menandatanganinya."
"Heuh aku bukan perempuan bodoh mas. Kamu tunggu aja tanggal mainnya dan setelah itu kamu rasakan sendiri akibat dari perbuatan kamu."
Arga tercengang dan terdiam, ternyata dara sudah berubah dan tidak selembut dulu lagi.
Ingin marah marah juga tidak ada gunanya. Arga pusing dan tidak tau harus apa, dara juga memilih tidur dan tidak memperdulikannya.
__ADS_1
**Akibat dari kesenangan semata maka kehancuran adalah jalan akhirnya.
#Bersambung**