
Secara perlahan kini vicky berhasil mengambil hatinya alena. Padahal bagi seorang vicky sebetulnya tidak ingin ribet dengan urusan perempuan. Namun entah mengapa disaat bersama alena dia merasa sedikit nyaman. Entah karena alena yang selalu menolaknya makanya membuat vicky merasa tertantang, atau malah memang vicky yang mulai terpikat dengan alena.
Tepat setelah hari kedua mereka menikah, kini vicky membawa alena untuk tinggal di apartemennya. Awalnya sempat terjadi percekcokan juga, karena alena menolak untuk tinggal di apartemennya vicky. Apalagi disana juga pasti ada istri pertama vicky yaitu alexsa. Alena takut akan merusak hubungan mereka dengan adanya dia disana, namun setelah mendengar penjelasan vicky akhirnya Alena menyetujuinya.
"Apa ini tidak akan menyakiti alexsa? " tanya Alena ragu.
"Kamu hanya perlu mengikuti apa yang saya katakan" tegas vicky.
"Tapi dia istri sah kamu juga vic. Aku gak mau di bilang pelakor" marah Alena.
"Itu biar jadi urusan saya. Kamu cukup mengikuti arahan saya jangan banyak membantah".
" Aku gak mau. Lagian kita jugak baru sekali berhubungan gak mungkin kan bakalan ada benih kamu disini ".
" Maksud kamu? " tanya vicky heran.
"Ya sebelum terlambat. Sebaiknya kita bercerai" ucap Alena tanpa memikirkan perasaan vicky.
"Tidak segampang itu elen" tekan vicky.
"Asal kamu tau elen, pernikahan saya bersama alexsa hanya sebatas pernikahan kontrak saja. Saya tidak pernah mencintai dia" tegas vicky. Bahkan mukanya sekarang merah padam karena menahan amarah.
"Tapi pernikahan kalian berdua tercatat, tidak seperti aku".
" Ingat elen, jangan pernah berkata tentang perceraian lagi. Walaupun hanya sekali, saat itu saya tidak memakai pengaman apapun ".
Alena tersentak. Dia meraba-raba perutnya yang datar, dia memikirkan bagaimana nasip dia kedepannya jika sampai dia benar-benar mengandung. Vicky yang mengerti jalan pikiran alena, mencoba memberi pengertian.
"Jangan takut itu tanggung jawab saya. Jangan pernah memikirkan alexsa, kamu juga berhak atas saya" tegas vicky tanpa mau menerima bantahan lagi.
Selesai dengan percekcokan singkat. Sekarang mereka menuju ke apartemennya Vicky.
* * *
Vicky mengeluarkan kartu akses dan membuka pintu apartemennya. Sebelah tangannya menggenggam tangan Alena dan sebelahnya lagi menarik koper milik Alena. Sepertinya alexsa tidak berada di sana, karena apartemen vicky terlihat kosong.
__ADS_1
"Ayuk aku tunjukin kamar kita" ajak vicky.
"Kita? maksud kamu kita satu kamar" tanya Alena.
"Terus!! apa kamu pikir kita akan tidur secara terpisah? " vicky balik ternyata.
"Jangan vic, terus alexsa gimana? " tanya Alena cemas.
" Sudah saya bilang kan, jangan pernah memikirkan alexsa. Pikirkan saja dirimu sendiri" ucap vicky memperingatkan.
Alena hanya pasrah. Ingin membantah juga gak ada gunanya, dia memasuki kamar yang di tunjukkan oleh vicky dan mulai membereskan barang barangnya. Sedangkan vicky merebahkan badannya di kasur yang ada dalam kamar mereka.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20:00 namun alexsa masih belum juga pulang. Vicky hanya merasa bodo amat, tapi tidak dengan Alena dia sangat gugup dan juga khawatir. Entah akan seperti apa respon alexsa nantinya.
Disaat mereka sedang menikmati makan malam, alexsa muncul di dapur dengan kening yang mengkerut.
"Kamu sekretaris nya vicky kan? kon bisa ada disini" tanya alexsa heran.
"Emm sa_ saya . . . "
Alexsa masih menanggapi dengan santai. Dia menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya hingga hanya tersisa setengahnya saja.
"Maksud kamu apa honey, tinggal sementara apa gimana? " alexsa lembut.
"Alena sekarang sudah sah menjadi istri aku" ucap vicky spontan.
Alexsa terkejut dan bangun dari duduknya. Kedua bola matanya melotot tak percaya dengan apa yang barusan vicky katakan.
"Jangan bercanda vic, ini gak lucu" ucap alexsa.
"Terserah kamu mau percaya atau enggak. Yang jelas Alena akan tidur satu kamar dengan aku makan ini". Tegas vicky, dia mengatakan semuanya tanpa melihat ke arah alexsa.
Alena sangat khawatir sekarang. Apalagi alexsa belum bereaksi apapun, dia meremas jemarinya karena gugup.
" Apa kamu puas sekarang sekretaris kurang ajar? " alexsa ingin menampar alena, namun di cegah oleh vicky.
__ADS_1
"Lepasin vic, dia harus di beri pelajaran. Dasar perempuan gak tau malu" ucap alexsa dengan amarah yang mengebu gebu.
"Jangan pernah menyentuh Alena dengan tangan kotor kamu alexsa. Atau kamu akan tau akibatnya" tegas vicky dengan menekankan kata katanya.
Alexsa sangat terkejut mendengar pembelaan dari vicky. Kini pandangan beralih ke arah Alena yang sedang menunduk tak berani menatap wajahnya.
"Ingat Alena kamu sudah masuk ke dalam rumah yang salah" ucap alexsa dengan kedua bola mata yang melotot karena menahan amarah.
Setelah mengucapkan itu. Alexsa memasuki kamarnya dan membanting pintu secara kasar. Dia baru mengeluarkan seluruh isi hatinya dengan cara menangis di dalam kamar, hatinya benar-benar sakit sekarang. Ternyata vicky sangat kejam kepadanya, alexsa tidak tau harus apa sekarang. Yang jelas saat ini dia hanya ingin menangis dan meluapkan segala kesedihannya.
Alexsa bukanlah perempuan yang mudah menyerah. Dia akan tetap mencari cara agar Alena segala tersingkirkan dari kehidupan vicky.
"Apa kamu liat vic? alexsa sakit hati dan aku di tuduh merebut kamu dari dia" jelas Alena.
"Itu tidak penting. Sekarang lebih baik kamu istirahat dan jangan banyak bicara" vicky berkata santai.
Alena pun tidak banyak berkata lagi. Sekarang dia juga memilih tidur karena dia juga sudah sangan mengantuk. Tapi tidak dengan alexsa, walaupun vicky membencinya. Dia tidak ingin menyerah begitu aja, apalagi perjuangan untuk mendapatkan vicky selama ini tidak lah mudah. Dan sekarang di tambah dengan hadirnya alena. Alexsa harus lebih bisa bersikap tegas dan tidak mudah terpancing dengan adanya dia.
Belajar menjadi wanita tangguh, memanglah sangat sulit. Namun ketangguhan seorang perempuan bisa datang sendiri dari pembelajaran hidup, yang pernah dia hadapi. Hati perempuan mudah tersentuh dan juga mudah di bentuk. Namun apabila sudah retak ataupun hancur, maka juga akan susah untuk di perbaiki lagi. Alexsa sedang meratapi nasip pernikahannya yang baru beberapa hari di bangun. Namun kini harus bercabang dengan adanya alena sebagai orang ketiga.
Alexsa tidak tau bagaimana jalan pikirannya vicky. Apakah sebegitu bencinya dia terhadap dirinya, sampai harus membawa perempuan lain ke dalam rumah tangganya. Vicky salah jika menganggap alexsa akan mundur, walaupun setiap hari harus ikut perang batin. Alexsa tetap akan memegang teguh pendiriannya.
"Liat aja vicky. Aku bukan perempuan lemah yang akan mudah di tindas begitu saja. Tunggu aja permainannya" gumam alexsa dengan amarahnya.
* * *
"Sayang besok mas ada meeting pagi. Kita kontrolnya habis jam makan siang aja ya". Ucap arga pada istrinya.
" Iya mas gak papa. Oiya besok aku mau ketemu alexsa bentar, boleh ya".
"Ketemuan dimana" . Tanya arga dengan muka cemberutnya.
"Ihh yang ikhlas dong mas. Kita ketemuan di cafe kok bukan dirumahnya". Jawab dara menjelaskan.
Arga pun mengizinkan dara untuk bertemu dengan alexsa besok. Kini alexsa dan juga dara menjadi teman yang baik. Awalnya alexsa hanya iseng mencari tau tentang kehidupan masa lalunya vicky, namun setelah tau jika dara adalah mantan yang di maksud vicky. Dia sedikit merasa lebih tenang, apalagi dara juga sudah menikah. Jadi tidak mungkin bila dara akan kembali bersama vicky, apalagi dara terlihat sangat mencintai suaminya.
__ADS_1
Akhirnya alexsa mendekati dara dan sedikit mencari tau tentang masa lalunya vicky. Mulai dari apa yang di sukai oleh vicky, hingga apa yang di benci oleh vic