
Semakin hari hubungan dara bersama glen malah semakin dekat dan mereka juga sering bersama. Arga juga sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan dia sampai lupa diri jika sedang bersama dengan karina.
Dara sudah kebal dengan perlakuan arga, dia bahkan sudah tidak ingin perduli lagi. Namun terkadang dia juga sedih bila anak anaknya sering menanyakan keberadaan arga.
Hanya brian yang tidak pernah menanyakan keberadaan papanya. Membahas saja dia tidak mau dara sampai heran dengan anak laki-laki nya yang satu ini.
Kisah hidupnya benar-benar hancur dalam sekejap, tidak pernah terpikirkan olehnya jika suaminya akan bertindak sejauh ini. Arga yang dulunya pendiam dan sangat sayang padanya tapi kini berubah total.
Memang definisi cinta tidak akan seindah seperti hayalan saja. Cinta tumbuh dengan sendirinya dan pergi dengan meninggalkan benci di dalam hati. Sangat mudah untuk mencintai seseorang bila kita sering di perlakukan dengan baik.
Dan juga akan sangat mudah membenci bila hati sering tersakiti dan teraniaya oleh kelakuan pasangan kita sendiri. Karena setiap perempuan yang lembut juga akan menjadi kasar bila sering di kasarkan.
Tidak perlu bermain fisik bila ingin menyakiti, karena secara perlakuan dan juga tindakan bisa saja melukai seseorang tanpa kita sadari.
Setelah semua berkas dan bukti sudah terkumpul dara segera mengajukan gugatan cerainya ke pengadilan agama. Dia sudah tidak tahan terus terikat dalam pernikahan ini, sudah muak rasanya hidup bersama seorang pengkhianat.
Pagi ini setelah membereskan keperluan anak anaknya dia menyuruh sopir untuk mengantarkan mereka.
"Belajar yang rajin ya kesayangan mama ummah."
"Kamu juga boy jangan nakal ya sayang ummah."
"Dada mama."
Kini dara juga sedang bersiap untuk mengurus masalahnya yang belum juga terselesaikan.
"Oke dara huuff pokoknya tidak lama lagi kamu akan bebas." Ujarnya sambil menatap dirinya di depan cermin.
Dengan sekali hembusan nafas dia melangkah begitu percaya diri tanpa ingin memikirkan konsekuensinya lagi.
Dia berangkat dengan di temani glen sebagai pengacaranya, dia sangat berharap agar perceraiannya segera terselesaikan.
__ADS_1
Glen masih mengurus segala keperluan yang di perlukan oleh hakim, dara masih menunggu di luar dengan cemas.
Tak lama glen pun keluar, dara segera menghampirinya dan bertanya tanpa sabar.
"Glen gimana di Terima gak." Glen mengabaikan dara dan duduk dengan lesu.
Dara tercengang dan harap cemas, dia masih belum puas jika Glen belum bersuara. Dengan tatapan sendu Glen menatap dara sehingga membuatnya lemas.
"Dar maaf aku gak bisa berbuat banyak. Gugatan kamu emm gugatan kamu di Terima hakim." Dara berjingkrak kesenangan dan tak sengaja memeluk Glen karena saking senangnya.
"Aaa aku bahagia Glen. Kamu ih pakek becandaan mulu hampir aja aku jantungan." Dara memukul lengannya Glen karena kesal di jahili olehnya.
"Ahahahaha lagian nunggu sampek segitunya kamu." Glen melepaskan pelukan dara sehingga membuat dara tersipu dan merasa tidak enak.
"Hehe maaf aku kelepasan." Ujar dara cengengesan, rasanya dia ingin sembunyi karena saking malunya.
Glen yang mengerti langsung mengajak dara keluar dan mereka memilih untuk nongkrong di cafe sebelum balik ke kantor.
Glen masih tenang menyimak tanpa berkomentar apapun, dia hanya menjadi pendengar terbaik untuk dara.
Sedangkan di sekolahan anaknya, kelas brian sedang mengunjungi sebuah cafe untuk melakukan study tour.
Brian dan teman temannya begitu senang karena hari ini mereka bisa belajar di alam terbuka. Tak hanya itu mereka juga di ajarkan berbagai macam hal seperti membuat ice cream, lava cake dan berbagai macam lainnya.
Saat sedang asik tertawa dengan teman temannya brian seperti melihat keberadaan papanya yang juga sedang makan di sana. Karena begitu penasaran dia pun meninggalkan kerumunan temannya, dan berjalan mendekati meja yang di duduki oleh papanya.
Brian terdiam dan bingung karena melihat papanya yang sedang menyuapkan ice cream ke seorang perempuan.
"Papa." Ujarnya yang membuat arga kaget dan menjatuhkan sendok yang sedang di pegangnya.
"Bb_brian sedang apa kami disini." Arga memutari tubuhnya dan berjongkok di hadapan brian.
__ADS_1
"Aku lagi studytour pa sama teman-teman jugak. Papa suapin siapa tadi siapa tante itu pa." Tanyanya polos melihat ke arah karina yang menatap malas ke arahnya.
"Em itu kawan papa sayang." Arga hampir tidak bisa menjawab karena begitu gugup.
"Kawan papa kok perempuan sih pa." Arga semakin bingung dan tidak tau harus menjawab apa.
"Iya kalau teman kantor itu tidak semuanya laki-laki sayang. Nanti kamu juga paham kok, yaudah papa anterin ke teman-teman kamu ya." Dengan senang brian mengangguk dan kembali bergabung dengan teman temannya.
Karina sangat kesal karena momen romantis mereka di ganggu oleh anaknya Arga.
"Belajar yang rajin ya sayang." Arga mencium kening putranya.
"Papa nanti jemput aku sama bella ya, kami kangen sama papa. Soalnya papa udah lama gak pulang kata mama, papa lagi di luar kota." Arga terenyuh mendegar pengakuan putranya, ternyata sejauh ini dara masih menyimpan kebohongan ini pada anak-anaknya.
"Iya nanti papa pulang." Arga tersenyum dan meninggalkan brian bersama teman-temannya.
Brian kembali bergabung dengan teman-temannya dengan perasaan gembira.
Setelah mengantarkan Brian, dia kembali menemui karina dan langsung mengajaknya untuk pulang.
"Apa sih mas."
"Itu anak aku ayo kita pulang, dia masih kecil untuk memahaminya semua ini karin." Arga menarik tangan karina dan membawanya keluar dari sana.
Setelah masuk ke dalam mobil, karina sama sekali tidak membuka suaranya. Dia kesal karena acaranya menikmati ice cream kesukaannya harus terganggu dengan kehadiran anaknya Arga.
"Kamu kenapa hm."
"Tau ah. Udah anterin aku pulang aja udah gak mood buat keluar." Arga menghembus nafas pelan karena bingung harus berbuat apa.
Memiliki dua istri bukanlah perkara yang mudah dan tidak semua suami bisa berbuat adil kepada mereka.
__ADS_1
#Bersambung