Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
Same dan alena


__ADS_3

Setiap kejadian masa lalu mengajarkan kita untuk bisa melatih masa depan yang indah dan cerah, karena setiap pembelajaran pasti ada ganjarannya. Arga malah bersyukur karena sekarang lengkap sudah kebahagiaan nya, walau sebenarnya dulu dia sempat ingin berhenti di tengah jalan. Ternyata Tuhan lebih memilihnya untuk tetap berada di samping sang istri hingga saat ini.


Hal yang sama juga dirasakan oleh dara, mereka larut dalam bayangan masa lalu mereka masing-masing. Memang skenario tuhan lebih indah dari segalanya, hadirnya Beby twins di kehidupan mereka. Membuat hubungan mereka malah semakin harmonis dan romantis, Arga semakin menyayangi nya.


"Terimakasih ya mas sudah mau mempertahankan rumah tangga kita." Ucap dara.


Saat ini mereka berdua sedang berada di balkon kamarnya baby twins. Arga memeluk istrinya dari belakang, dara sangat menikmati pelukan suaminya yang begitu hangat.


"Iya sayang, kamu juga semoga kedepannya kita tetap saling sayang jangan pernah berubah." Ujar Arga.


"Tapi juga gak selamanya indah mas, yang namanya biduk rumah tangga pasti akan ada badai topan nya." Ucap dara mengingatkan.


"Iya makanya kita jangan sampai terhempasnya sayang." Ucap Arga tersenyum.


"Bukan kitanya yang terhempas mas, tapi hati loh mas makanya kamu jangan main hati." Ucap dara manja dan menunjuk Arga dengan jemarinya.


"Iya sayang yaudah masuk yuk, udah malam banget ini." Mereka pun masuk dan menutup jendela balkonnya.


Walaupun tidak memakai jasa baby sitter, tapi kenyamanan baby twins tetap terjaga. Karena art yang berada di rumahnya Arga lumayan banyak, dan mereka masing-masing sudah ada tugasnya.


Jadinya Arga dan dara bisa tetap istirahat dengan tenang, dara selalu cepat terlelap karena siangnya dia sangat capek mengurus kedua buah hatinya.


Arga menatap wajah istrinya saat tertidur, begitu damai dan cantik. Dia mengelus ngelus pucuk kepalanya dan mencium keningnya, kemudian dia pun segera menyusul ke alam mimpi.


*


*


*


"Uek Uek." Alexsa memuntahkan semua isi dalam perutnya.


"Uek uek uek, ya ampun aku lemes banget." Tepat tengah malam dia bangun karena merasa mual dan perutnya terus bergejolak.


Vicky meraba raba kasur di sebelahnya, namun tidak menemukan keberadaan istrinya. Vicky segera bangun dan mencari, namun dia mendengar suara orang muntah muntah dari kamar mandi. Dia pun langsung membuka dan menemukan istrinya yang sudah lemas di dalam sana.


"Ya ampun sayang, lexsa kamu kenapa hei lexsa." Vicky menepuk nepuk pipinya alexsa dengan panik.


"Aku lemes hon." Ucap alexsa dengan lemas.


"Yaudah aku gendong, kamu istirahat ya kenapa gak bangunin aku sih sayang." Vicky menggendong alexsa dengan panik dan membawanya ke tempat tidur.

__ADS_1


Dia mengoleskan minyak kayu putih di badannya alexsa dan kemudian mengurut tengkuknya.


Vicky merasa kasihan ternyata menjadi ibu hamil memang sangat sulit, alexsa sampai harus bangun tengah malam karena perutnya yang terus bergejolak. Akan sangat jahat bila dirinya tidak terbangun tadi, mungkin alexsa bisa pingsan di dalam kamar mandi.


"Kamu istirahat lagi ya sayang, cup." Vicky mengecup keningnya alexsa dengan sayang.


*


*


*


Seorang wanita cantik yang dulunya sempat hadir menjadi orang ketiga di dalam kehidupannya Vicky dan alexsa, kini tengah terbaring di sebelah seorang pria yang baru saja menemaninya menuntaskan hasrat bersama.


Keduanya tidur dalam keadaan polos tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Alena kembali menjadi dirinya yang dulu lagi setelah Vicky resmi menceraikannya. Terpukul memang iya, karena dia juga sempat menaruh hati pada mantan suami sirinya dulu .


Tapi ya dia juga harus menanggung resikonya, ini kemauannya sendiri dan pilihannya. Sempat kecewa dan sedih, tapi tidak berlangsung lama karena sejatinya dia adalah Alena si player yang tidak ada kapoknya dalam mengambil sebuah keputusan dalam hidupnya.


Begitu pagi menyingsing suara shower dari kamar mandi mulai terdengar, dan tandanya ada seseorang yang sedang menggunakan kamar mandinya. Dan Alena tau orang tersebut adalah partner nya semalam, Alena mengutip semua pakaiannya dan duduk di tepi ranjang dengan menyesap sebatang rokok yang dia ambil dari nakas.


Ceklek. . . pintu kamar mandi terbuka dan keluar seorang laki-laki yang tak kalah tampan dari mantan suaminya.


Laki laki tersebut hanya menaikkan sebelah alisnya, ternyata pagi ini dia menemukan karakter asli dari si player yang bernama Alena.


"Eitss tunggu dulu." Tahan si lelaki yang bernama Same.


"Apa lagi sih, aku buru buru mau mandi terus kerja." Ucapnya semakin kesal karena Same menghentikan langkahnya.


"Aku enggak bayar." Ucapnya singkat namun berhasil membuat Alena melotot dan murka.


"What, hei Tuan apa anda pikir saya boneka hidup mainan anda." Tabya Alena menggebu.


"Enggak jugak ."


"Makanya jangan sok ngajak wik wik kalau kere, untung sama sama butuh pergi lu Sono." Usir Alena.


"Aku belum habis ngomong nona player." Ujarnya lagi.


"Mau ngomong apa lagi hah, mau mintak ronde pagi hayuk aku ladenin CK." Alena kesal karena di katai player.


"Mulut mintak di bungkam ya, makanya dengar dulu Elen." Tegasnya.

__ADS_1


Alena baru bisa diam setelah Same menyuruhnya untuk duduk.


"Aku punya penawaran bagus buat kamu, tenang aja ada bayarannya kok. Kalau bisa aku transfer sekarang." Ujarnya sebelum Alena kembali memori pembicaraannya.


"Yaudah cepat aku mau mandi." Ucap Alena.


"Aku butuh istri kontrak, jangan salah paham dulu. Ini urgent dan aku terpaksa karna mamaku terus mendesak aku buat nikah." Jelas Same panjang lebar.


Alena mendekati Same lalu memutar bola mata jengah.


"Ogah." Jawabnya.


"Elen plis bantuin aku, gini deh aku transfer tanda jadi dulu. Gimana mau enggak kamu mau aku bayar berapa." Ujar Same memohon.


"Emm berapa ya." Alena memutari tubuh Same sambil menimbang bimbang tawaran darinya.


"Ayolah come on help me Elen." Mohon Same dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Oke, tapi aku mau kamu bayar tiap bulannya sejumlah 30 juta sanggup enggak." Tawar Elen.


"Oke deal ya." Tanya Same sumrigah, ternyata Alena tidak terlalu materialistis. Uang segitu mah tidak ada apa apa baginya, jika di bandingkan dengan harta yang akan dia warisi.


"Deal." Keduanya berjabat tangan.


"Okelah aku mau mandi, sana pulang dan jangan lupa transferannya." Alena mengingatkan.


"Iya iya, giliran uang aja enggak lupa." Cibir Same.


"Jelas dong." Ketus Alena.


Dan sekarang Alena memilih untuk mandi karena seluruh tubuhnya sangat terasa lengket dan risih.


"Apa takdir hidupku seburuk ini ya, jadi istri kedua sama di nikahin kontrak CK." Keluh Alena di bawah guyuran shower.


"Mungkin ini balasan buat aku, huff lelah sih tapi apa boleh buat nasip baik lagi gak berpihak sama aku." Gumamnya lagi, tapi tidak sedikit pun ada air mata yang keluar.


Kini dirinya sudah kebal dengan yang namanya kehidupan, jadi wanita murahan demi bisa bertahan hidup. Bukan tanpa alasan karena dirinya sudah sangat malu untuk pulang dan mengadu pada kedua orangtuanya.


Padahal kedua orangtuanya adalah keluarga yang mampu, tapi karena Alena yang sudah terlanjur jauh mengikuti pergaulan hidup. Dia sangat malu untuk pulang, karena semua titah dan perintah kedua orangtuanya dia sama sekali tidak mendengarkan nya.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2