Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
Kemarahan Bram


__ADS_3

Kepergian arga dari apartemen karina membuatnya semakin histeris dan merasa hancur, ternyata semua usahanya gagal dalam memperjuangkan arga. Karina sangat mengagumi bosnya itu semenjak pada pertemuan awal mereka ketika dia baru di Terima di perusahaannya arga, namun sekarang dia baru mengetahui sifat asli bosnya itu. Akan seperti apa nasipnya jika dia sampai di perlakukan seperti tadi saat mereka bercinta, tidak hanya fisik yang akan terluka namun batinnya juga ikut terluka.


Karina meratapi nasipnya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini, dia berpikir ulang tentang rencananya. Walau harus dengan cara licik dia bertekad akan tetap membuat arga untuk mencintai nya, karina di butakan dengan cinta. Dia bahkan tidak ingin perduli dengan perasaan dara dan juga anak anaknya, yang dia inginkan sekarang hanyalah membuat arga jatuh ke dalam pelukannya.


"Pokoknya kamu harus menjadi milikku mas." Karina masih belum jera untuk menaklukkan arga.


Sedangkan di luaran sana arga merasa sangat frustasi mengingat sikap dara yang sangat begitu dingin terhadapnya sekarang. Dia juga merasa bersalah namun waktu juga tidak bisa di ulang, mau menyesalinya juga percuma karena semua telah terjadi. Arga juga tidak menyangka jika dia bisa menyakiti dara seperti ini, dia telah gagal memegang amanah dari bram. Sekarang istrinya kembali terluka karena perbuatannya dara kembali menjadi korban karena kenaifan laki-laki.


"Ya Tuhan apa yang aku lakukan, hiks jalan apa yang akan aku ambil untuk sekarang. Dara maafkan aku kamu harus kembali tersakiti karena perbuatanku."


Arga menepikan mobilnya di sebuah restoran, karena kelelahan dia pun tertidur di dalam mobil. Saat ini dia tidak bisa berpikir dengan jernih karena keadaannya sedang kacau, banyak hal yang membuatnya begitu merasa bersalah. Dulunya dia adalah seorang laki-laki yang begitu menyayangi seorang perempuan namun sekarang dia telah berubah. Entah apa yang salah dengan dirinya arga pun juga merasa asing dengan dirinya sendiri.


Begitu pagi menjelang arga bergegas mengemudi mobilnya untuk pulang, dia harus bisa bertemu dengan istrinya. Sesampainya di sana ternyata rumahnya kosong, arga baru kepikiran bahwa istri dan juga anak anaknya sedang menginap di rumah bram.


Arga terduduk lemas di sofa ruang tamunya, dia merasa jauh dengan keluarganya sekarang. Bahkan sifatnya yang sekarang sangat berbanding terbalik dengan sifatnya yang dulu, arga memejamkan mata mengingat momennya saat bersama dara dulu.


Saat lagi melamun ponselnya berdering dan ternyata karina menelponnya, arga menyunggingkan senyum sinisnya.


"Enggak kapok juga dia ternyata, dasar perempuan murahan." Arga sangat kesal karena dia masih saja menelponnya.


Arga tidak memperdulikan panggilan telpon dari karina, pikirannya masih kacau karena memikirkan istri dan anak anaknya. Ingin menyusul tapi dia takut apabila dara sudah melaporkan perbuatannya pada bram. Karena stres memikirkan masalah yang tak kunjung selesai, Arga memutuskan untuk pergi ke kamar dan memilih tidur.


Dara dan kedua anaknya sedang berlibur dan menginap di rumah abangnya, karena hari ini kebetulan hari minggu jadi mereka bisa sepuasnya bermain dengan sepupunya. Dara juga sedikit bisa melupakan rasa sakit hatinya pada Arga, walaupun hanya sedikit namun dara bisa lega.


"Dek ngelamunin apa hm."


"Enggak ada apa apa kok bang." Dara tersenyum, namun bram dapat melihat jika adik semata wayangnya sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Boleh ikut abang sebentar."


"Kemana bang." Dara bingung karena bram mengajaknya untuk menjauh dari anak anak.


"Udah ikut aja, ada mbak mu juga di sana."


Dara hanya pasrah mengikuti abangnya, mungkin ada sesuatu hal yang akan bram bicarakan. Dara juga sedikit was was apa mungkin bram sudah tau tentang permasalahan rumah tangganya.


Begitu sampai di ruang kerjanya bram menyuruh dara untuk duduk di samping nayla istrinya. Dara hanya manut sama kata bram dia juga tidak terlalu berpikir, mungkin saja ada hal penting yang ingin bram sampaikan.


"Dek boleh abang tanya sesuatu."


"Tanya aja bang gak perlu minta izin jugak kali." Dara berusaha bersikap santai.


"Apa ada masalah serius yang sedang kamu pikirkan."


"Apa ada hal yang kamu sembung dari abang. Dek kamu itu tanggungjawab abang kalau ada sesuatu yang pernah simpan sendiri." Bram berusaha memancing dara.


"Abang sama mbak jangan berlebihan deh, aku enggak kenapa napa kok." Dara meyakinkan Bram dan nayla.


Bram mengeluarkan sebuah foto dan memperlihatkannya pada dara sehingga membuat wajah tegarnya jadi sedih dan menunduk. Bram bangun mendekati adiknya dia menghela nafas perlahan sebelum berbicara dengan dara.


"Abang sudah tau semuanya dek, apa gunanya abang sama mbakmu kalau kamu tidak menceritakan masalah seberat ini pada kami." Bram berbicara tenang karena dia tau persis seperti apa sifat adiknya.


"Hiks hiks hiks." Bahunya bergetar karena menahan tangis.


Dengan sayang nayla segera merengkuh dara ke dalam pelukannya, hatinya juga ikut sakit melihat penderitaan dara adik iparnya.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak kuat menangislah dek, jangan di pendam ada kami yang siap mendengar keluh kesah kamu." Dara mengeratkan pelukan kakak iparnya.


"Aku capek mbak hiks hiks kenapa aku selalu di khianati sama laki-laki. Apa salahku sama mereka kenapa aku gak bisa bahagia hiks hiks aku lelah." Dara mengeluarkan semuanya di bahu nayla, dia memang sangat membutuhkan sandaran.


Bram merasa sesak melihat keadaan adiknya saat ini, ternyata Arga tidak bisa di pegang omongannya. Bram begitu murka mengingat pengkhianatan Arga terhadap adiknya, dia juga sedih kenapa dara tidak memberi taunya tentang masalah ini.


"Dek sudah jangan nangis lagi, untuk saat ini kamu tinggal di rumah abang dulu. Untuk Arga akan abang kasih dia pelajaran." Ujar Bram dengan murka.


"Jangan bang hiks hiks jangan, biarkan ini jadi urusan adek." Cegah dara yang membuat Bram semakin geram.


"Dek dia itu suami yang abang pilihkan untuk kamu, jadi semuanya salah abang dek. Biarkan abang yang selesaikan semua ini, percaya sama abang ya." Bram menangkup pipi dara dan berusaha meyakinkannya.


"Dara, mbak hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kamu. Yang kuat ya dek semoga cepat terselesaikan hiks kamu wanita hebat." Pecah sudah tangisnya dara, walau setegar apapun dia mencoba untuk tetap kuat. Tapi perasaannya juga lemah, karena sejatinya dia juga seorang perempuan yang memiliki perasaan lembut dan hati yang mudah tersentuh.


"Terima kasih mbak hiks hiks." Dara menangis hingga tanpa sadar dan terlelap di bahunya nayla.


Bram begitu miris melihat keadaan sangat adik yang begitu rapuh, tanpa sadar dia juga meneteskan air matanya.


"Mas sepertinya dara Tertidur, ya Allah mas kenapa ini harus di alamin dara." Nayla sedih melihat dara yang begitu kelelahan dan terlihat sangat rapuh.


"Mungkin dia lelah yang, biar mas angkatin dara dulu ya." Bram menggendong dara dan membawanya ke kamar.


Setelah menidurkan dara, Bram kembali menjumpai nayla dan menyuruhnya untuk menjaga anak anak sebentar.


"Mas jangan sampai membuat keributan, kamu juga harus memikirkan perasaan anak mereka." Nayla mengingatkan suaminya


"Aku tau apa yang harus aku lakukan."

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2