
Setelah mengantarkan kedua buah hatinya kesekolah, dara kembali mengendarai mobilnya menunu bella beauty glow. Hari ini dia tidak terlalu sibuk rencananya siang ini dia akan mengunjungi suaminya ke kantor.
Dia akan membuktikan sendiri firasatnya yang tidak baik akan suaminya. Dia juga bukan perempuan bodoh yang hanya melihat bekas tanpa mencari tau kebenarannya terlebih dulu, dia tidak ingin hanya karena kesalahan kecil ini bisa membuat rumah tangganya hancur.
Dara memasuki kantornya dengan menebar senyuman keseluruh karyawan yang menyapanya. Walaupun hatinya sedang tidak baik baik saja namun dia selalu bisa bersikap profesional ketika sedang berada di luar.
"Moza keruangan saya sekarang ya."
"Baik buk."
Ceklek. . . Dara menduduki kursi kerjanya sambil melepas lelah.
Tok tok tok
"Permisi buk." Moza mengetuk pintu ruangan dara.
"Masuk za. Silahkan duduk dulu." Moza pun duduk di sofa dekat meja kerjanya dara.
"Nanti siang saya mau keluar karena ada sedikit urusan, kalau nanti ada sesuatu kamu aja yang handle bisa." Tanya dara pada Moza.
"Bisa buk."
"Terima kasih ya Moza." Ujar dara tersenyum.
Moza merasa sangat beruntung karena memiliki bos yang begitu menghormati dan menghargainya. Hampir 2 tahun dia bekerja sebegai tangan kanannya dara, dan tidak pernah sekalipun dia mendapatkan perlakukan tidak baik dari bos-nya.
"Haduh ternyata begini kalau rasanya di bohongi, mau apa apa aja aku gak tenang huft." Dara menghembuskan nafasnya perlahan.
Begitu jam makan siang tiba, dara langsung meluncur ke kantor suaminya. Urusan anaknya dia telah menelpon supir rumah untuk menjemput mereka.
Setengah jam dalam perjalanan kini dara telah tiba di kantor suaminya, setelah memarkirkan mobilnya di basemen kantor. Dara langsung masuk dan menaiki lif khusus CEO, semau karyawan sudah tidak asing lagi dengan dara.
Ceklek. . .
Pintu di buka dari luar oleh dara, Arga begitu kaget melihat kedatangan sang istri yang sangat tiba-tiba.
"Hai mas." Sapa dara sambil menciumi pipi suaminya.
"Eh sa_ sayang kamu ada disini." Tanya Arga sedikit gugup.
"Iya emang kamu gak liat aku lagi ada disini." Jawab dara sambil mendudukkan bokongnya di sofa.
"Hehe bukan gitu sayang maksud aku tumben aja kamu main ke kantor." Arga duduk di samping istrinya.
__ADS_1
"Lagi pengen aja mas, aku bosen di kantor terus." Dara memainkannya dasi milik suaminya.
"Dulunya pengen sekarang kenapa bosen HM."
"Kalau lagi free ya bosen mas. Udah ah jangan bahas itu terus."
Ceklek. . .
Kamar pribadi milik suaminya terbuka dari dalam dan keluar lah seorang gadis yang sangat di kenal oleh dara.
Gadis tersebut begitu kaget melihat istri dari bos-nya sedang berada di dalam ruangan tersebut.
Dara bangun dari duduknya dan mendekati gadis tersebut.
"Hei Karina kan." Tanya dara santai namun mampu membuat keringat dingin Karina begitu mencuat.
"I_Iya buk." Jawabnya gugup melihat tatapan mata dara yang begitu mendominasi.
"Mas kenapa sekretaris kamu bisa seenaknya keluar masuk kamar pribadi kamu."
"Maaf buk ini kesalahan saya." Ucapnya menunduk.
"Saya bertanya pada suami saya." Tekan dara.
"Apa sebelet itukah dia sampai tidak bisa izin pamit keluar Sebentar." Sinis dara yang membuat Arga dan Karina gelagapan.
"Maafkan kelancangan saya buk."
"Kamu keluar." Dara menatap suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Karina segera keluar dari ruangannya Arga dengan wajah yang menunduk.
"Jelaskan apa yang sebenarnya sedang kamu sembunyikan." Tegas dara tanpa melihat ke arah suaminya.
Arga benar-benar kehabisan kata kata sekarang, dia juga tidak tau harus berkata apa pada istrinya.
"Sayang ayolah apa pernah aku berbohong sama kamu, kamu cuma salah paham." Arga berusaha meyakinkan istrinya.
"Aku tunggu penjelasan kamu di rumah." Dara mengambil tasnya dan keluar dari ruangan Arga.
Hatinya sangat sakit melihat adanya wanita lain di kamar pribadi milik suaminya, semua wanita pasti akan berpikiran negatif bila melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Dara masuk ke dalam mobil dan memukuli setir mobilnya berkali kali sambil menumpahkan rasa sesak yang semenjak tadi dia tahan.
__ADS_1
"Hiks hiks ada apa sebenarnya mas, ada dengan kamu hiks." Dara meratapi kesedihannya.
*
*
*
Malam tiba Arga baru pulang dari kantor dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya bersama dara. Begitu sampai di dalam kamar dia melihat dara yang sedang duduk manis di atas kasur dengan tangan yang di lipat di dada.
Arga menghela nafas melihat dara yang tidak seperti biasanya, perlahan dia mendekati istrinya dan memegang bahunya.
"Lepaskan tangan kamu dari bahuku." Ketus dara menatap horor suami.
"Hufft sayang maaf kalau hari ini aku membuat kamu jadi marah. Tapi please tolong percaya sama aku, jangan salah paham." Arga masih meyakinkan istrinya.
Dara ingin sekali menanyakan tentang kemeja itu, namun dia masih menahannya. Dia juga masih ingin mengumpulkan semua bukti terlebih dulu sebelum menuduh yang macam-macam.
"Mas istri mana yang tidak akan salah paham bila melihat adanya wanita lain yang keluar dari kamar kamu." Teriak dara Dengan marah.
"Kamu cuma salah paham dar, dia hanya numpang sebentar kamu juga tau kan kalau aku tidak sekejam itu."
"Heuh. Baik boleh mas tapi jangan bodoh, apa kamu gak mikir kalau sampai ada karyawan lain yang lihat. Itu bisa jadi fitnah mas, mikir gak kamu." Tanya dara menggebu-gebu.
Arga hanya menunduk dan tidak banyak menjawab lagi, yang dikatakan sama dara memang benar adanya.
"Ingat gak dulu kamu juga pernah mau di goda sama perempuan lain, ingat gak mas." Tanya dara mengingatkan Arga kejadian beberapa tahun silam.
"Jangan diam mas jawab dong." Arga mengangkat wajahnya dan melihat ke arah dara, dia mengambil kedua tangan dara yang sudah sangat dingin karena menahan amarah.
"Aku mohon percaya sama aku sayang, aku akan buktikan kalau ini hanya salah paham." Ucapnya pasrah.
Dara melepaskan tangannya yang di genggam oleh Arga, dia berlalu keluar dari kamar. Arga hanya menatap kepergian istrinya dengan tatapan lesu, dia juga tidak ingin berdebat karena aktivitas hari ini begitu membuatnya lelah.
Dara menghampiri kamar anak anaknya, ternyata mereka sudah terlelap dia mendekati ranjang dan menciumi kening mereka. Walaupun dia tidak memperpanjang masalah tadi, namun dara masih mempunyai rencana di balik diamnya.
Dia menutup rapat-rapat pintu kamar anaknya dan menggunci dari dalam. Dara segera menelpon orang suruhannya dan menyuruh orang tersebut untuk datang ke kantor suaminya malam ini.
Dara ingin memasang penyadap suara dan juga kamera tersembunyi di ruangan dan di dalam kamar pribadi milik suaminya.
Dia juga menyuruh mereka untuk melakukan hal yang sama pada ruangannya Karina sekretaris suaminya.
Selesai menelpon dara baru membukakan pintu kamar anaknya, dia segera keluar dari sana dan menuju dapur.
__ADS_1
#Bersambung