Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
Surat Panggilan


__ADS_3

Selesai sarapan dan mengantar kedua anaknya kesekolah, arga segera berangkat ke kantornya. Kehidupan yang ia jalani sekarang benar-benar hampa tanpa adanya kehadiran dara yang menemani hari harinya.


Dengan lesu dia memasuki ruangannya, dia menatap sebuah foto yang selalu menjadi penyemangat kerjanya di setiap waktu.


Namun ketika dia mengambil bingkai foto tersebut ternyata bukanlah foto keluarga kecilnya, melainkan foto pernikahannya bersama karina.


Arga marah dan memanggil sekretarisnya.


"Bapak memanggil saya." Tanyanya dengan gugup.


"Siapa yang menggantikan foto di meja saya, jawab." Bentak Arga dengan suara yang di tekan.


"Ss_saya pak." Jawabnya gemetaran karena melihat wajahnya Arga begitu merah karena menahan amarah.


"Siapa yang menyuruh kamu."


"Buk karina pak, maafkan saya pak. Saya hanya menerima amanah saya gak tau kalau bapak akan marah."


"Kamu keluar." Titah arga yang membuat sekretarisnya langsung keluar terburu buru.


"Akkhhhh makin berani aja dia." Arga tidak habis pikir sama kelakuan karina yang sudah mulai semena mena.


Belum juga siang namun badannya udah mulai panas karena masalah, arga melonggarkan dasinya yang serasa mencekik leher.


Saat mau mendudukkan bokongnya di kursi, pintu ruangannya kembali di ketuk.


"Masuk."


"Maaf menganggu pak, ini ada titipan surat."


"Tarik di situ, kamu silahkan keluar." Arga mengambil surat tersebut, detik kemudian dia langsung mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Ini gak mungkin gak mungkin secepat ini dia mengurus semuanya." Gumam Arga sambil berlari.


Seluruh karyawan kantornya merasa heran melihat Arga yang terbirit-birit seperti itu, mereka tidak biasanya melihat bos mereka yang tampak sangat gelisah dan ketakutan.


Namun tak ada dari mereka yang berani menegur ataupun sekedar menyapanya.


Arga akan menuju kantornya dara, dia akan membahas soal surat panggilan yang barusan dia Terima. Dengan secepat kilat mobilnya melesat dan meninggalkan kantornya.


Dia tidak bisa hanya diam dan menunggu, karena tidak akan mungkin jika dara akan menemuinya dan membahas soal surat tersebut.


Begitu tiba di area kantornya dara, Arga langsung turun dengan terburu-buru, bahkan dia tidak memarkirkan mobilnya.


"Maaf pak, buk dara sedang tidak bisa di ganggu." Ucap seorang sekretarisnya dara.


"Minggir kamu." Arga tidak mau mendengarkan sekretaris istrinya, yang ingin dia temui adalah dara bukan yang lainnya.


Brak. . . Dara bersama glen terlonjak kaget mendengar gebrakan pintu yang di buka secara kasar oleh Arga.


"Lepa mas, kamu apa apaan sih." Dara menghentikan Arga yang hendak memukuli glen.


"Kamu yang apaan, maksudnya apa ini." Arga melemparkan surat tersebut ke atas meja.


Dara melihat surat tersebut dah memejamkan matanya, dia mengisyaratkan glen agar keluar meninggalkan dirinya untuk bersama Arga dulu.


Glen pun paham dengan isyarat yang di berikan oleh dara, dia keluar dan menutup pintu ruangannya dara.


Tinggallah mereka berdua di dalam sana dengan saling memendam amarah masing-masing.


"Kamu baca surat itu, dan jangan lupa untuk hadir besok." Arga merobek surat tersebut, sehingga membuat dara melotot ke arahnya.


"Mas kamu jangan egois dong."

__ADS_1


"Kamu yang egois dara, kita punya anak dua. Kamu mikir gak gimana perasaan mereka kalau kita sampai berpisah."


"Seharusnya kamu yang mikir mas, mikir gak kamu sebelum menikahi perempuan itu hah. Mikir gak, jangan asal menuding aku mas semua kekacauan ini kamu yang ciptakan bukan aku." Arga terdiam, karena apa yang dara katakan semuanya benar.


"Aku tau aku salah dar, tapi bercerai bukan solusinya. Aku juga menunggu kamu untuk memintaku meninggalkan karina, tapi kamu tidak pernah hadir untuk itu." Dara tersenyum sinis mendengar ucapan bodoh yang keluar dari mulutnya Arga.


"Heuh, hadir untuk apa. Untuk menyaksikan percintaan kalian berdua, aku bukan penjilat mas. Untuk apa aku berharap kepada seorang laki-laki pengkhianat seperti kamu hah untuk apa." Dara berdebat dengan santai namun terkesan tegas dan berani.


"Aku suami kamu dara, seharus kamu lebih bisa mempertahankannya aku."


"Aku tidak bisa mempertahankan seseorang yang tidak pernah mencintai aku dengan tulus, apalagi seseorang itu selalu mengenang kisah masa lalunya tanpa memikirkan bagaimana perasaan aku."


"Maafkan aku."


"Aku sibuk mas, kamu tau pintu keluar kan jadi tolong pergi dan jangan lupa untuk hadir besok." Arga menatap dara tanpa berkedip, dia ingin merengkuh dara ke dalam pelukannya.


Rasanya masih seperti mimpi, tatapan yang di berikan dara untuknya juga sudah berbeda dari yang sebelumya.


"Tolong pergi saya sibuk." Tegas dara sekali lagi dengan suara yang di tekan.


Arga tersadar dari lamunannya.


"Aku akan hadir besok." Arga berbalik dan meninggalkan dara.


Arga berniat dalam hati akan membantah semua tuduhan dara besok, dia akan memperjuangkan rumah tangganya. Nasip anak anaknya akan di pertaruhkan jika mereka sampai benar-benar berpisah.


Arga akan menyelesaikan masalahnya bersama karina dulu, hanya dia biang dari semua masalah ini.



#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2