
Alena sibuk dengan perawatan malamnya, sedangkan same asik mondar-mandir gak jelas di belakangnya. Sejak tadi Alena masih belum mengeluarkan sepatah katapun, same ingin sekali membuka obrolan tapi dia tidak tau harus memulainya dari mana. Kenapa rencananya harus bisa ketahuan hanya dalam beberapa menit saja, kalau dia tau mama dan papanya akan berkata seperti itu. Mungkin same akan mencari istri yang lebih baik lagi dari Alena.
"Apa menyesal, kamu masih punya banyak waktu untuk berpikir lebih dulu." Ujar Alena tiba tiba, dan kemudian dia langsung merebahkan dirinya di kasur tanpa memperdulikan same lagi.
"Maksud kamu." Tanya same dengan bingung.
"Pilihan ada di kamu, mau selesai Sampai disini apa di lanjutkan." Ujar Alena.
Same mengerutkan keningnya, kenapa Alena bisa membaca isi pikirannya. Tapi hati kecil same juga tidak rela bila melepaskannya begitu saja, walaupun dia sangat tau siapa Alena sebenarnya. Tapi hatinya berkata bila Alena dalah perempuan yang baik, haruskah dia mencoba untuk memulainya dulu.
"Akan aku pikirkan." Ucap same kemudian.
Alena tidur dengan membelakangi same, dia tidak ingin bila same melihatnya yang masih belum tertidur.
Hari ini adalah bahagianya dia karena kedua orangtuanya bisa memaafkannya dirinya, namun dia juga sedih mengingat same yang hanya menjadikan dirinya sebagai pajangan yang hanya dibutuhkan dalam sesaat.
Dia tau bila dirinya bukanlah perempuan baik baik, dia perempuan kotor dan hina. Tapi dia juga ingin mengharapkan seseorang yang tulus untuk mencintai dirinya yang hina.
Alena sangat sedih bila mengingat nasipnya yang sangat miris, nasip percintaannya selalu saja tidak berjalan baik.
Sekarang dirinya juga harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak pasti, dia harus menyiapkan hatinya agar selalu tegar dan siap bila kemungkinan buruk akan menimpa dirinya.
Same juga sama tidak tenangnya dengan Alena, hati kecilnya juga tidak tega menjerat Alena dalam permainannya. Tapi semua sudah terlanjur dan mau tidak mau dia juga harus menjalaninya dulu, same benar benar malu sama kelakuannya sendiri.
Akhirnya mereka sama-sama tertidur akibat kelelahan berpikir, mereka tertidur dengan saling membelakangi.
*
*
*
Kini Alexsa sudah kembali ke rumahnya, dia sudah terlihat sehat dan sudah bisa beraktifitas seperti biasanya lagi. Tapi dia juga bingung melihat suaminya yang terlihat sangat gelisah dalam beberapa hari ini.
__ADS_1
Vicky ingin sekali membicarakan hal ini kepada istrinya, tapi dia juga takut bila Alexsa akan kembali salah paham.
"Hon kamu kenapa, aku liatin kamu kayak banyak beban." Ujar Alexsa lembut.
"Hufft aku hanya capek kok sayang." Ujarnya sambil mengecup tangan istrinya.
"Bohong kamu, jujur aja hon ada apa." Alexsa bisa menebak jika Vicky tidak baik baik saja saat ini.
"Sayang, apa kamu masih ingat kalau aku pernah membuat perjanjian sama kamu." Tanya Vicki, dan alexsa pun mengangguk.
"Terus masalahnya apa hon." Tanya Alexsa.
"Aku di tekan sama seseorang sayang." Ucap Vicky dengan menundukkan kepalanya.
"Di tekan gimana, yang jelas dong Han." Ucap Alexsa sangat penasaran.
Vicky menghembuskan nafasnya kasar, kemudian dia menceritakan awal kejadiannya hingga saat dia di datangi oleh elisa. Sampai akhirnya dengan sangat berani elisa menyuruh Vicky untuk menikahinya. Apabila Vicky menolak, maka Alexsa yang akan menanggung amarahnya.
"Aneh sih hon." Ucap Alexsa.
"Gak tau lah sayang, aku harus gimana sekarang HM." Tanya Vicky dengan muka sendunya.
"Kamu yakin ini ulahnya Elisa." Tanya Alexsa pura pura curiga.
"Lah kamu curiga sayang." Tanya Vicky.
"Bisa jadi kan kalian sekongkol buat nyakitin aku lagi." Alexsa membuang mukanya ke samping.
"Sayang aku lagi stres loh ini, please kamu jangan curigai aku dulu ya." Vicky mengatupkan kedua tangannya memohon pada Alexsa dengan serius.
"Bwahahahaha becanda hon." Alexsa jadi tidak tahan saat melihat Vicky yang begitu imut dengan puppy eyesnya.
Vicky pun menjadi sedikit lega setelah menceritakan semua kronologinya kepada alexsa. Dan mereka akan mencari jalan keluarnya sama sama, Vicky hanya butuh dukungan istri juga kerjasamanya. Dia juga tidak ingin menyakiti wanita yang tulus mencintainya untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Kamu tenang aja hon, aku pasti bantu. Ini hanya trik wanita licik itu." Jelas alexsa menyakinkan Vicky.
"Iya sayang, tapi yang dia incar dari aku apanya cobak. Kalau soal materi dia lebih cukup sayang." Ujar Vicky.
"Iya sih, ada maksud lainnya mungkin hon." Jawab alexsa.
Mereka menyusun rencana untuk mengelabui Elisa biar dia kapok, rencananya Vicky akan mencari tau dulu tentang kehidupan Elisa. Dia juga tidak ingin gegebah dalam mengambil resiko, dia akan mencari tau mengapa Elisa sampai memilihnya untuk bisa menutupi aib yang dia perbuat.
Walaupun tidak sekaya Elisa, tapi Vicky juga punya koneksi yang luas. Dia juga mempunyai beberapa orang kepercayaannya yang bisa dia andalkan.
Vicky mencoba menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari tau seluk-beluknya Elisa, setelah mendapatkan hasil, baru dia akan menjalankan misinya bersama alexsa.
Vicky hanya mempunyai waktu dua kali dua puluh empat jam, jadi dia harus segera bisa menemukan hasilnya. Kali ini pernikahannya yang akan di taruhkan, setelah menghubungi orang kepercayaannya. Vicky terlihat sangat gelisah dia berharap semoga mereka bisa menemukan hasilnya.
"Hon, calm down okey." Tutur alexsa yang bingung melihat suaminya yang mondar-mandir terus.
"Sayang aku kalut, perusahaan papa juga bakal di pertaruhkan kali ini. Bisa aja kan dia mencabut sahamnya dia perusahaan kita." Jelas Vicky.
"Enggak segampang itu hon, semuanya ada tertulis diatas kertas hitam putih. Saham juga punya orang tuanya kan bukan punya dia." Jawab alexsa.
Vicky merasa ada benarnya juga apa di bilang sama alexsa. Walaupun begitu tetap saja dia tidak tenang sebelum semuanya terselesaikan.
"Mendingan sekarang kamu istirahat dulu gih, biar rileks." Ujar Alexsa.
"Yaudah lah aku istirahat, kalau ada apa-apa kasih tau aku ya." Ucap Vicky sebelum masuk ke kamarnya.
Alexsa hanya mengangguk, dan kembali ke dapur melanjutkan membuat cemilan untuk dirinya sendiri. Dia jadi terus kepikiran sama Elisa dan suaminya, tapi hatinya juga tidak menaruh rasa curiga. Cuma alexsa merasakan seperti ada yang janggal, apakah ada orang yang senekad Elisa. Ternyata masih ada gadis yang lebih parah dari dirinya dulu, alexsa jadi tersenyum geli saat mengingat bagaimana caranya dia dulu saat mendapatkan Vicky.
Kali ini saingannya beda tipis dengan dirinya sendiri, pasti akal akalan yang di pakai sama Elisa tidak beda jauh dari dirinya dulu. Alexsa sangat yakin akan hal itu, ternyata masih ada gadis bodoh yang tersisa setelah dirinya.
"Ternyata aku tidak bodoh sendirian hihi." Dia cekikan sendiri di dapur.
#Bersambung
__ADS_1