Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
Dara keguguran


__ADS_3

Kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi kita, memang sangat menyakitkan. Apalagi sesuatu yang sangat kita tunggu tunggu kehadirannya, namun harus pergi dengan cepat tanpa menunggu waktunya dia datang dan menyapa.


Rasa sakit kehilangan pasti semua akan merasakannya, namun bagi yang terluka hatinya tetap harus tanah dan harus bisa mengikhlaskan. Suporter orang-orang terdekat adalah hal yang paling di butuhkan, saling menguatkan dan saling melengkapi biar bisa menghilangkan sepi yang menyelimuti hati.


"Apa dengan keluarganya pasien yang bernama dara." Tanya dokter perempuan yang menangani dara.


"Saya suaminya dok, bagaimana dengan keadaan istri saya dok." Tanya Arga dengan suara yang lirih.


"Maafkan saya pak, janin yang ada dalam kandungan istri anda harus kami angkat." Jelas dokter dengan terpaksa.


Deg. . .


Seakan dunianya runtuh saat itu juga, Arga kembali mengingat masa lalunya dulu. Kini dia harus kembali merasakan kehilangan orang yang dia sayangi. Dan yang paling membuatnya takut adalah keadaan dara istrinya, pasti dara sangat terpukul dengan kebenaran ini.


"Apa dok, istri saya gimana keadaannya apa dia sudah tau." Tanya Arga dengan wajah kecewanya.


Bram dan istrinya berusaha menguatkan Arga yang sedang terpuruk.


"Pasien belum sadar pak, mungkin masih pengaruh bius." Jelas dokter.


"Apa kami sudah bisa masuk. " Tanya Nayla, dan dokter mengangguk.


Arga segera masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. Hatinya sangat sakit melihat keadaan dara yang begitu memilukan, entah akan seperti apa reaksinya setelah bangun nantik, jika dia tau calon anak mereka telah tiada.


"Sayang yang kuat ya, hiks semoga kamu bisa Terima kenyataan ini sayang." Arga mengenggam tangannya dara dan menciumnya.


"Yang sabar ga, dara pasti kuat." Bram juga sama terpukul nya dengan Arga.


"Arga, mbak yakin kalian pasti bisa. Kamu harus ikhlas dan tabah." Bujuk Nayla berusaha menguatkan adik iparnya.


Bahu Arga bergetar karena menahan tangisnya, ternyata sangat buah hati yang mereka nantikan tidak ingin melihat dunia yang fana ini. Allah lebih sayang terhadapnya, dia hanya berharap semoga istrinya bisa tabah dan ikhlas.


Dara perlahan mulai mengerjakan matanya, dan yang pertama dilihatnya adalah sang suami yang menunduk sambil memegang jemarinya. Terlihat bahu suaminya yang bergetar seperti sedang menangis.


"Mmas kamu kenapa." Tanya dara lemah.


"Sayang kamu sudah sadar." Dara mengangguk.


Dara ingin bangun untuk duduk, namun dia merasakan perih dan sakit di bagian *int*mnya. Dan dia juga merasakan seperti ada yang aneh dengan dirinya, seperti ada yang kurang namun dia belum sadar dengan apa yang terjadi padanya saat ini.

__ADS_1


Arga yang melihat istrinya seperti sedang kebingungan dan ingin duduk segera mencegahnya.


"Sayang.Kamu istirahat dulu aja ya jangan banyak gerak." Ujar arga berusaha untuk tetap tenang.


"Mas aku haus." Ucap dara.


"Ini minum dulu sayang, kamu rebahan aja ya." Dara mengangguk patuh. Tapi dia masih memikirkan hal yang masih mengganjal di pikirannya.


"Bang bram kemana mas sama mbak nayla." Tanya dara karena tidak melihat keberadaan abangnya.


"Mereka lagi beliin kita makan sayang, kamu mau buah. " Tanya arga lembut.


"Enggak usah mas, oiya tadi kan perut aku sakit banget mas sekarang kenapa udah enggak lagi ya. " Tanya dara.


Arga gelagapan mendengar pertanyaan dari dara. Harus kah dia menjelaskan yang sebenarnya, atau dia harus berbohong demi kebaikannya. Namun cepat atau lambat dia pasti akan tau, Arga bingung harus bagaimana apakah dara akan siap mendengar kenyataan bahwa calon anak mereka telah tiada.


"Mas kenapa diem." Dara merasa heran dengan sikapnya arga.


Dara baru teringat dengan badannya yang sudah berbeda dari sebelumnya. Dia meraba raba perutnya jantungnya terus berpacu disaat dia menyadari bahwa perutnya sudah datar tanpa ada benjolan lagi.


"Mas ini kok perut aku rata mas, bayiku kemana mas, aku kenapa mas." Dara meraung-raung dan menangis dengan histeris.


Arga segera membawa istrinya ke dalam pelukannya, dia mencegah dara agar tidak terus memberontak. Karena bisa membahayakan bekas jahitan di bagian intimnya.


Dara tercengang mendengar kenyataan dari suaminya.


"ENGGA MUNGKINNN." Teriak dara dengan histeris, dia terus memukuli dada suaminya.


Bram dan nayla lari tergesa-gesa saat mendengar teriakan dari dalam kamarnya dara.


"Dek. Jangan menangis kamu harus kuat dek ini adalah kehendak yang di atas." Ujar bram yang tak kuat melihat dara yang sangat rapuh akan kepergian calon anaknya.


Nayla memeluk dara dan mereka menangis bersama. Dia bisa merasakan bagaimana sakitnya dara saat ini, pasti dia akan sama bila berada di posisi dia.


"Mbak. Anakku mbak hiks, kenapa harus secepat ini mbak hiks hiks aku gak kuat mbak." Setelah mengatakan itu pada nayla, dia jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Arga dan bram kembali di buat panik, nayla segera menekan bel yang menghubungkan ke dalam ruangan dokter yang menangani dara. Setelah dokter tiba, dia segera mengecek kondisinya dara.


"Gimana dok keadaan istri saya." Tanya Arga dengan suara paraunya.

__ADS_1


"Istri anda hanya mengalami syok, tenang saja setelah di kasih obat penenang mungkin sebentar lagi pasien akan berangsur membaik." Jelas dokter.


Arga dan bram merasa sedikit lega, begitu juga dengan nayla.


"Ga, kamu yang kuat semoga dara bisa ikhlas dan tabah." Tutur bram.


"Iya bang." Pandangan Arga hanya fokus pada istrinya yang masih terbaring lemah di atas brankar dengan selang infus yang terpasang di tangannya.


*


*


*


Celine dan kekasihnya masih berlibur di pulau dewata, dirinya sangat bahagia karena sang kekasih baru siap melamarnya tadi malam.


"Sayang, aku jadi kangen sama dara." Ujar celine dengan sendu.


"Kenapa tidak kamu hubungi aja love." Dirga memberi saran.


"Oiya kenapa aku bisa sebodoh ini ya, hehe. " Celine cengengesan karena merasa bodoh di depan Dirga.


"Kamu ini." Dirga mengelus pucuk kepala celine dengan gemas.


Tut tut tut. . .


"Enggak ada jawaban sayang." Ucapnya dengan cemberut.


"Yaudah nantik kamu hubungi lagi, mungkin dia lagi sibuk." Ucap Dirga dengan lembut.


Celine mengiyakan tapi hatinya juga sedang tidak nyaman. Dia terus saja kepikiran dengan dara, apakah sahabatnya baik-baik saja saat ini. Celine sangat gundah dan tidak tenang.


"Sayang kita jadi pulang hari ini kan. " Tanya celine memastikan. Dan Dirga mengangguk dan tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang seperti sedang gundah.


"Ternyata ikatan sebuah sahabat sangat melekat ya love pada kamu dan dara." Tebak dirga.


"Enggak tau sayang, tiba-tiba aja perasaan aku enggak enak." Ucap celine jujur.


Dan tepat pada jam 10: 00 celine dan Dirga terbang ke ibu kota jakarta.

__ADS_1


Celine tidak langsung pulang ke rumahnya, dia menyuruh Dirga untuk mengantarkannya ke rumah abangnya dara. Mungkin di sana dia bisa mendapatkan jawaban sesuatu.


#Bersambung


__ADS_2