
Bram sedang memandikan buah hatinya, dulu dia begitu sangat ingin menambah momongan lagi. Tapi sekarang dia paham kalau Azam masih butuh kasih sayang mereka, efek umur yang sudah berkepala empat membuat ambiusnya begitu kuat untuk memiliki anak lagi.
Tapi sekarang dia tidak lagi memikirkan hal itu, karena melihat kondisi Azam yang masih sangat kecil. Akan sangat egois bila dia tetap mengedepankan egonya tanpa memikirkan azam sama sekali.
"Mas, aku kepasar dulu ya. Kalau udah selesai mandiin Azam, sekalian tolong kasih sarapan ya mas." Ujar Nayla sebelum keluar dari kamar.
"Iya istriku." Jawab Bram.
"Makasih mas, cup." Nayla mengecup pipinya Bram juga Azam.
Nayla sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah sendirian, dia tidak ingin bila semuanya harus di serahkan kepada ARTnya. Kalau soal masak memasak Nayla sendiri lah yang akan turun tangan, jika soal mencuci dan beberes baru dia akan menyerahkan sebagian pekerjaannya kepada ARTnya.
Bram merasa sangat beruntung memiliki Nayla, karena dia wanita yang begitu cekatan dalam segala hal. Apalagi dia selalu dimasakin makanan enak oleh istrinya, setiap mau pergi ke kantor pasti dia selalu di bekalin sama Nayla.
Karena selain punya usaha bengkel, Bram juga mengelola perusahaan peninggalan orangtuanya. Tapi masalah waktu dia selalu bisa mengaturnya sesuai schedule, apalagi Nayla juga sering membantunya menyelesaikan pekerjaan kantornya.
Nayla berangkat ke pasar dengan menggunakan motor matic miliknya, walaupun punya mobil tapi dia lebih suka menggunakan motor miliknya. Karena selain bisa menghemat waktu dia juga bisa menyelip nyelip di gang yang sempit.
Nayla memang sangat sederhana apalagi dulunya dia juga berasal dari keluarga yang sederhana juga. Walaupun kini dirinya sudah menikahi pria yang mampu, tapi kebiasaannya tetap tidak bisa dia ubah. Nayla tidak begitu memanfaatkan fasilitas yang Bram kasih, dia hanya memakai seperlunya saja.
Setelah selesai berbelanja bahan dapur, dia kembali mengendarai motornya dan meninggalkan pasar. Karena hari ini weekend maka dia akan memasak menu yang banyak, dia akan mengajak anak dan suaminya untuk bersantai di kebun belakang rumah.
Nayla juga banyak menanam beberapa sayuran di belakang rumahnya, dia sangat suka berkebun dan merawat tanaman hias.
"Assalamualaikum mas." Ucap Nayla.
"Waalaikumsalam salam mama, udah Puyang ya ma." Jawab Bram dengan menirukan suara anak-anak.
"Iya sayangnya mama." Ucap Nayla mencubit gemas pipi gembulnya Azam.
"Belanjaannya mana sayang." Tanya Bram.
"Ada di dapur lagi di cuciin sama onah." Jawab Nayla.
Sebelum lanjut memasak dia akan menidurkan Azam dulu biar nantinya dia fresh dan tidak rewel.
"Yaudah aku ke ruang kerja dulu ya, mau ngecek email." Ujar Bram dan berlalu keruang kerjanya.
Setelah Azam pulas, Nayla kembali ke dapur dan menyiapkan semua bahan dan bumbu yang akan dia masak. Nayla begitu semangat membuatkan semua menu, akhir akhir ini dia sangat senang bila sering berada di dapur. Masakannya juga selalu pas lidah suaminya, Nayla juga selalu membuatkan sambel kesukaan mereka.
Selesai mengecek email, Bram menuju dapur karena mencium aroma masakan yang begitu menggoda Indra penciumannya.
"Hmmm enak banget wanginya, masak apa sayang." Tanya Bram mendekati Nayla.
"Sayur asem mas, ikan goreng, sambel, lalapan, ini ada sate ampela sama hati ayam." Tunjuk Nayla pada Bram.
"Terus ini apaan." Tanya Bram.
__ADS_1
"Ayam serundeng sama sama sayur SOP hehe." Jelas Nayla yang membuat Bram geleng geleng kepala.
"Ya ampun, campur adur begini masanya. Siapa yang bakal habisin sayang." Tanya Bram lemas.
"Ih, kita ngeliwet mas pakek daun pisang seru tau. Aku juga ajakin semua ART kita." Jawab Nayla manyun.
"Yaudah iya jangan manyun juga kaki yang." Bram mencubit bibirnya Nayla.
"Buk, ini Pete sama jengkolnya udah Mateng." Ujar onah yang membuat Bram membulatkan matanya.
"Ya ampun pewangi mulut lagi, sayang udahan dong makan Pete sama jengkolnya." Ucap Bram memelas.
"No, aku pengen mas. Kamu kalau gak suka ya jangan makan mas." Jawab Nayla tidak terima.
"Sama aja yang, kamu juga makan kan." Ucap Bram.
"Lah terus apa hubungan mas." Tanya Nayla kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Nanti kalau mau nyium jadi gak bisa." Ucap Bram spontan yang membuat onah memalingkannya mukanya kesamping.
"Cium apa sih, kamu sana dulu deh ngelantur aja ngomongnya. Jangan di dengerin ya onah." Ujar Nayla malu karena ucapan suaminya.
Begitu Azam bangun, semua masakan juga sudah pada matang. Onah dan art yang lain sibuk menata semua masakan di atas daun pisang, mereka makan di bawah pohon mangga yang ada di belakang rumah mereka.
Azam duduk bersama papanya, sedangkan Nayla sibuk melahap makanan yang ada di depannya. Bram hanya menerima suapan dari istrinya, karena kedua tangannya memegang Azam.
"Enak buk." Jawab onah.
"Iya buk enak pisan." Jawab art lainnya.
Mereka sangat menikmati masakan majikannya, Nayla begitu humble dengan para ARTnya. Di sama sekali tidak membedakan mereka, karena dia juga sama seperti mereka sebelum menikah dengan Bram.
*
*
*
Ternyata Elisa benar benar mendatangi Vicky kerumahnya, dia datang dengan berang dan marah marah tidak jelas. Alexsa hanya diam menyaksikan Elisa yang berteriak-teriak memanggil Vicky.
"Vicky keluar kamu, aku tau kamu ada di dalam." Ucapnya berang.
"Heh dimana kamu sembunyikan suami kamu hah." Tanyanya pada Alexsa.
"Hei nona apa anda sama sekali tidak mempunyai etika." Tanya Alexsa sinis.
"Ck. Tunjukin dulu dimana Vicky, biar kamu tau seperti apa etika suami kamu." Ucap Elisa dengan muka memerah.
__ADS_1
"Hon ada tamu." Teriak alexsa memanggil suaminya.
Vicky pun keluar dari kamarnya dan menemui alexsa, begitu melihat Vicky keluar. Elisa segera menghampirinya dan menampar Vicky di depan alexsa.
Plak. .
"Kamu harus tanggung jawab vic." Ucap Elisa dengan berang.
"Tanggung jawab seperti apa nona Elisa." Tanya Vicky santai sambil berjalan mendekati Elisa.
"Aku hamil." Ucapnya.
"Lalu apa hubungannya denganku." Tanya Vicky seakan tidak perduli.
Alexsa hanya menyunggingkan senyum sinisnya melihat perdebatan Elisa dengan suaminya.
"Ini anak kamu, dan kamu harus bertanggung jawab vic. Kalau tidak_."
"Kalau tidak apa hah. Dasar anak kurang ajar, plak." Elisa di tampar oleh papanya.
Ternyata Vicky dan alexsa telah menghubungi orangtuanya Elisa, mereka telah bersekongkol untuk menjebak Elisa hari ini.
"Pa_pa." Ucapnya gugup.
"SIAPA LAKI-LAKI YANG MENGHAMILI KAMU HAH." Tanya papa Elisa dengan marah.
Elisa gemetaran dan hanya bisa menunduk. Ternyata Vicky lebih cerdik dari dirinya, dia hanya bisa menahan marah dan malu sekarang.
"Jawab papa Elisa." Bentak papa Elisa kembali.
"Hiks maafin aku pa, hiks."
"Ikut papa pulang sekarang." Sentak papanya dengan menarik Elisa keluar dari rumahnya Vicky.
Vicky baru bisa bernafas lega setelah Elisa dan papanya keluar dari rumahnya, alexsa menghampiri Vicky dan memeluknya.
"Kamu tenang sekarang." Tanya Alexsa lembut.
"Iya sayang, makasih udah mau bantu." Jawab Vicky.
"Bobok yok udah malam." Ajak alexsa.
Karena telah mendapatkan kode dari sang istri, Vicky tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia segera menggendong alexsa dan membawanya masuk ke dalam kamar, setelah merebahkan istrinya di atas kasur mereka melakukan pemanasan dulu sebelum terjun ke Medan pertempuran 😅.
Dan terjadilah aksi tempur dari keduanya yang membuat kasur mereka jadi acak acakan dan amburadul.
#Bersambung
__ADS_1