
Celine hidup rukun dengan suami dan anaknya, Dirga sangat mencintai istrinya begitu juga dengan Celine juga sangat menyayangi suaminya. Untuk saat ini hubungan mereka masih aman dan tidak terdengar kabar kabar miring, keduanya saling menjaga perasaan masingmasing.
"Mas aku mau kerja lagi boleh gak sih." Tanya Celine tiba tiba.
"Buat apa love, terus Azam siapa yang jagain." Dirga kaget dengan permintaan Celine yang tiba tiba.
"Kita titip ke ibuk aja mas boleh enggak." Tanya Celine hati hati.
"Love dengerin aku ya, bukannya gak boleh apa selama ini uang belanja yang mas kasih gak cukup." Tanya Dirga dengan sabar dan lembut sambil mengelus rambutnya Celine.
"Mas, maaf kalau menyinggung kamu. Aku hanya mau membantu kamu aja mas." Ujar Celine menunduk.
"Udah jangan ya, mendingan kamu jagain Azam dirumah kasian loh anak masih kecil di tinggal tinggal." Dirga berusaha memberikan pengertian.
"Yaudah deh." Jawab Celine pasrah.
Sebenarnya Celine ingin bekerja juga untuk keperluan mereka bertiga, karena Dirga masih belum naik jabatan dan gajinya juga masih sama. Walaupun lumayan tapi kedepannya anak mereka akan sekolah dan hari ke hari keperluannya pasti akan bertambah.
Dia tidak berani berterus terang takut akan menyinggung perasaan suaminya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa kalau Dirga tidak mengizinkannya.
Celine hanya bisa berharap semoga suaminya cepat mendapatkan gaji yang lebih lagi dari yang biasanya. Bukan merasa tidak cukup, tapi semakin hari kebutuhan mereka juga semakin bertambah.
Celine baru bisa merasakan semuanya setelah kehadiran Azam, bukan tidak mensyukuri tapi yang namanya hidup semua butuh biaya.
*
*
*
Lain dengan Celine lain juga dengan Bram juga Nayla, mereka yang sudah masuk kepala tiga namun masih mempublikasikan seorang putri dan umurnya setara dengan anaknya Celine. Bram ingin sekali menambah momongan lagi, tapi Nayla tidak setuju apabila umur Putri mereka saat ini masih sangat kecil.
Dia takut nantik jika akila akan kekurangan kasih sayang dari mereka.
"Sayang ayolah satu lagi aja ya, siapa tau dapat baby boy yakan." Bram memelas.
"Mas, kamu pikir mengandung gampang apa. Kasian akila mas dia masih kecil kamu gak mikirin apa gimana nantinya repot ngurus dua bayi." Tolak Nayla kesal karena Bram terus saja mendesaknya untuk menambah momongan lagi.
"Anak itu rejeki nay, apalagi umur kita udah gak muda lagi ayolah." Bram masih kekeh dengan permintaan nya.
__ADS_1
"Sekali enggak tetap gak ya mas, kalau kamu masih tetap sama penderian kamu nantik malam tidur di luar ya. Ancam Nayla.
"Hah, iya iya deh udah enggak galak amat sih." Cibir Bram dengan wajah kecewanya.
Nayla merasa bersalah, cuma dia juga tidak ingin egois. Kasian anaknya akila apabila mereka menambah satu momongan lagi, tapi melihat wajah kecewa suaminya dia juga tidak tega. Nayla berada di posisi serba salah sekarang.
"Mas sini deh aku mau bicara." Panggil Nayla di saat Bram ingin memasuki kamar.
"HM bicara apa." Jawab Bram cuek.
"Maaf kalau jawaban aku bikin kamu kecewa, liat deh akila dia masih kecil mas. Apa kamu tega sama dia, kasih sayang dari kita pasti akan berkurang mas. Belum lagi saat aku mengandung yang pasti akan lemas dan sakit sakitan." Jelas Nayla perlahan.
"Aku janji umur akila pas setahun kita bisa nambah lagi ya, jangan kecewa mas aku sedih liatnya." Ucap Nayla dengan sendu.
Bram mendongakkan wajahnya untuk melihat Nayla yang hampir menangis, dia pun jadi merasa bersalah dan tidak tega. Apa dirinya sangat egois terhadap istri dan anaknya, Bram memang sangat ingin tapi melihat akila yang masih kecil dia juga sebenarnya kasian.
"Maaf sayang, mas egois tidak memikirkan keadaan kamu dan akila. Maafkan mas jangan menangis." Bram memeluk istrinya yang seperti akan menangis, terlihat dari bola matanya yang sudah berkaca-kaca.
Setelah setuju dengan kesepakatan yang di buat Nayla, kini Bram terlihat sedikit lega. Nayla juga sama, kedepannya mereka memilih untuk merundingkan dulu segala permasalahannya sebelum mengambil keputusan.
*
*
*
"Yakın kamu akan berpakaian seperti ini ketemu orang tua aku." Tanya Same sekali lagi.
"Yaudah lah ribet amat sih mau punya mertua kontrak." Cibir Alena.
Same hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karena apa yang di bilang Alena memang benar adanya, pernikahan yang akan mereka jalani adalah sebatas kontrak tidak lebih.
"Yaudah yuk carik salon sama butik dulu." Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan mencari butik juga salon.
"Iya." jawab Alena cuek sambil memainkan ponselnya.
Setelah selesai mempermaks Alena dengan pakaian yang lebih tertutup, kini mereka memilih ke salon untuk merias wajah Alena biar sedikit calm dari biasanya yang terlihat arogan.
"Nantik setelah sampai disana, kamu cukup tersenyum dan menjawab seperlunya saja oke." Ujar Same memperingatkan.
__ADS_1
Setelah mengemudi lebih dari 35 menit. Mereka sampai di kediaman orang tuanya Same.
Keduanya keluar dari mobil dan memasuki kediaman orang tuanya Same, baru sampai di depan pintu mereka telah di sambut dengan hangat oleh orang tuanya Same.
"Selamat datang calon menantu ku, ya ampun kamu cantik sekali nak." Mama Same sangat antusias menyambut kedatangan Alena dan Same.
Mamanya Same memeluk Alena dan langsung membawanya kedalam, tanpa melihat bahwa Same sudah manyun di belakang sana karena merasa terabaikan.
"Berasa anak tiri aku." Gumam Same.
Papanya hanya tersenyum melihat Same yang manyun karena di abaikan oleh mamanya.
"Sabar boy, namanya juga perempuan." Papanya memeluk Same dari samping dan mengajaknya masuk ke dalam.
Begitu masuk ke dalam mereka malah cengo melihat mamanya yang sangat antusias menyajikan makanan untuk calon menantunya, bagaimana tidak senang jika dari dulu dirinya sudah sangat mengharapkan calon menantu. Namun baru sekarang Same mau untuk di suruh menikah, setelah sekian lama mama dan papanya capek memaksa dan menyuruhnya.
"Mau yang mana cantik biar mama ambilkan, yang ini mau. Ini khas Indonesia loh ada semur jengkol, capcay, banyak loh sayang kamu mau yang mana." Tanya mama Same dengan sumrigah.
Alena sampai garuk garuk kepala melihat keantusiasan mamanya Same, hatinya tersentuh karena sudah lama dia tidak merasakan kehangatan seorang ibu. Alena hanya melihat mama same yang mengambil nasi dan menambah lauk ke dalam piringnya.
"Eh cukup tan, ini terlalu banyak." Cegah Alena karena isi piringnya sudah terlalu penuh dari porsi biasanya.
"Jangan Tante dong sayang mama, panggil mama ya nak ya." Ucap mama same dengan menggenggamnya tangannya Alena dan menatapnya dengan teduh.
Alena hampir berkaca-kaca karena begitu terharu dengan perlakuan mamanya same yang begitu sangat memuliakannya.
"Hiks terima kasih mma." Jawabnya terbata bata.
"Jangan menangis nak, apa mama yang membuat kamu jadi sedih." Tanya mama same panik.
"Bukan ma hiks, saya terharu mama begitu baik dan welcome terhadap saya." Mama same juga terharu kemudian memeluk Alena dengan sayang.
Same yang menyaksikan jadi tercubit hatinya, akankah dia tega membohongi orang tuanya tentang pernikahan pura pura ini. Same jadi merada bersalah dan dia juga bingung harus bagaimana, karena kesepakatan juga sudah dia buat bersama Alena.
"Ayok kita makan dulu, kamu lapar kan." Tanya mama same.
"Ekehm berasa ditirikan akunya." Sindir same kemudian memalingkannya wajahnya.
"Ya ampun anak gantengnya mama sini sayang duduk di samping calon istri kamu." Suruh mamanya.
__ADS_1
Dan mereka akhirnya makan bersama dengan tenang dan tanpa obrolan ringan lagi.
#Bersama