
Alexsa masih di rawat di rumah sakit karena keadaan fisiknya selama mengandung begitu lemah. Vicky juga dengan setia dan sabar menunggui istrinya, dia bergantian menjaga alexsa dengan ibu mertuanya juga ibunya.
"Hon, kamu gak kerja HM." Tanya alexsa di sela sela makannya.
"Enggak sayang, aku libur dulu sampai keadaan kamu kembali membaik." Ucapnya tulus dan mengecup tangannya alexsa.
"Aku gak papa Hon, kamu kerja aja." Ujar alexsa.
Namun Vicky tidak menghiraukan dia masih menyuapi alexsa dengan telaten, hingga saat ini kedua orang tua mereka masih belum ada yang tau dengan masalah biduk rumah tangga anaknya. Alexsa sangat menjaganya dari mereka, dia tidak ingin membuat suaminya dalam masalah.
"Hon, aku kapan di bolehin pulang. Udah bosen disini." keluh alexsa.
"Kondisi kamu masih sering lemas sayang, disini aja dulu ya." Ucap Vicky lembut.
Alexsa sangat senang dengan perlakuan Vicky yang sekarang, dia berharap semoga kali ini Vicky benar benar berubah dan tak berulah lagi seperti dulu.
Alexsa sedang istirahat karena dokter baru saja memberikan vitamin untuknya, karena Vicky merasa bosan dia memilih untuk membuka ponsel dan bermain game. Sesekali dia juga melihat ke arah istrinya yang sedang tertidur dengan sangat damai, dia juga tertawa sendiri saat mengingat awal kehamilan istrinya. Niat ingin memberikan surprise untuknya, namun malah berakhir dengan kesal karena Vicky tidak mengenali benda tersebut.
Vicky jadi tertawa geli dan geleng-geleng kepala, saat tengah melamunkan kejadian yang memalukan itu. Dia menerima telpon dari asisten nya, dia pun keluar dari ruangan dan mengangguk telpon dari beni.
📞"Gimana ben." Tanya Vicky.
📞"Bos, besok ada pertemuan penting dengan memegang saham." Ucap beni di seberang sana.
📞"Apa kamu bisa menghandle nya." Tanya Vicky.
📞"Ngak bisa bos, harus bos sendiri yang turut andil."
📞"Oh oke, nanti saya kabarin lagi." Vicky menutup telponnya.
Vicky menghela nafasnya berat, sebenarnya dia sangat malas menghadiri meeting tersebut, karena di sana ada seseorang yang sangat dia hindari. Tapi tidak bisa di wakilkan juga, Vicky menyugar kasar rambutnya.
"Gimana ya caranya menghindar dari dia." Gumam Vicky.
Pada saat alexsa di bawa masuk ke rumah sakit, Vicky mendapat suatu musibah. Dia tidak sengaja menabrak seorang gadis saat melintasi lampu merah, kejadiannya begitu cepat. Dan saat itu Vicky lengah karena panik dengan keadaan sang istri, dan ternyata gadis tersebut membuntutinya sampai kerumah sakit dan juga meminta pertanggungjawaban.
__ADS_1
Vicky hanya mengiyakan saja karena dia juga tidak sempat berpikir jernih saat itu. Sekarang dia bingung harus ngapain, apalagi gadis tersebut adalah anak dari salah satu pemegang saham di perusahaannya.
*
*
*
Begitu keesokan harinya tiba, Vicky sudah terlihat rapi dengan pakaian formalnya. Dia sangat tampan dengan balutan jas yang semakin membuatnya terlihat berwibawa. Sebelum berangkat ke kantor, dia menyempatkan diri terlebih dulu untuk menyuapi makan sang istri.
"Sayang, aku ngantor dulu ya." Ucap Vicky sambil membelai rambut istrinya.
"Iya hon, hati hati ya. Pulangnya bawain aku tapokki ya." Ujarnya dengan girang.
Vicky tersenyum dan kemudian mengangguk, baru kali ini alexsa memintanya untuk membelikan sesuatu selama kehamilan nya.
Vicky pun berangkat ke kantor dengan di jemput oleh asistennya, dia merasa tidak tenang dan gelisah. Beni yang melihat bosnya seperti sedang memikirkan sesuatu pun bertanya.
"Bos baik baik aja." Tanya beni.
"Maaf bos gak bisa." Jawab beni.
Karena tidak ada pilihan lain, Vicky pun hanya bisa mengikuti prosedur perusahaan. Dan sekarang dia telah masuk keruangan meeting dan mengikuti meeting yang sedang berlangsung.
Ternyata gadis yang dia tabrak kemarin, sedang menatapnya sedari tadi tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya. Vicky berusaha tetap bersikap cool tanpa merasa gentar, dia mencoba untuk tetap tenang walaupun sebenarnya dia merasa serba salah dan sedikit menciut karena tatapan dari si gadis.
Begitu meeting selesai semua pemegang saham telah keluar, dan kini tinggallah Vicky dan juga si gadis yang masih berada di dalam ruangan tersebut. Vicky hendak bangun, namun dengan cepat gadis tersebut menahan tangannya.
"Apa kabar Vicky Khan." Tanyanya dengan menebar senyum jenakanya.
"Mau apa kamu." Jawabnya cuek.
"Mau bicara sama anda, apa bisa kita bicara." Ucap gadis tersebut.
"Bicara sekarang saja, saya tidak punya banyak waktu." Balasnya cuek.
__ADS_1
"Kenapa terburu-buru sekali HM, bisa bicara di ruangan anda." Tanya si gadis dengan suara lembutnya.
Vicky merasa resah dengan keberadaan gadis ini, apalagi dia terlihat begitu seksi dan sangat menggoda iman. Dari cara bicaranya saja sudah membuat jakun Vicky naik turun, Vicky takut akan kebablasan lagi dan kembali menyakiti alexsa.
"Silahkan mau bicara apa." Ucap Vicky, kini mereka sudah berada dalam ruangannya Vicky.
"Anda sudah menabrak saya pak Vicky yang terhormat, apa anda sudah lupa." Tanya gadis yang bernama Elisa.
Gadis tersebut bernama Elisa, dan dia adalah anak sulung dari pak Rangga pemilik saham terbesar dalam perusahaan Vicky.
"Iya, dan saya sudah membayar biaya rumah sakit kamu. Apa masih ada yang tertinggal." Tanya Vicky santai.
"Pertanyaan yang tepat, apa anda tau. Gara gara anda saya sampai terlambat menghadiri pertemuan penting dengan clien saya." Tanyanya kesal.
"Terus apa saya perlu membayar kerugian anda." Tanya Vicky.
"Tepat, anda harus membayar lebih dari sekedar uang." Ujarnya dengan senyum penuh arti.
Vicky mengeryit heran dengan penuturan Elisa, dia bingung dengan maksud dan ucapan Elisa. Elisa bangun dan mendekati Vicky sambil membisikkan sesuatu yang membuat Vicky sampai melotot tak percaya.
"Apa kamu sudah gila hah." Tanya Vicky murka.
"Terserah sih kamu mau terima apa enggak, yang jelas jika kamu sampai menolak. Kamu akan tau akibatnya." Kemudian dia beranjak dari sana dan meninggalkan Vicky yang terlihat sangat emosi.
"Sialan." Vicky memukul meja kerjanya dengan sangat emosi.
Elisa tidak mau memperdulikan bagiamana statusnya Vicky yang sekarang, karena dia hanya ingin Vicky mau menerima persyaratan darinya. Elisa akan menemui Vicky kembali bila dia tidak datang menemuinya dalam waktu 3 hari ini.
Vicky benar benar frustasi dengan keadaannya yang sekarang, baru saja dia ingin membangun kembali kepercayaan istrinya, tapi sekarang malah hancur karena kesalahannya kemarin.
"Akhhhh sial, Alexsa maafkan aku." Ujarnya frustasi.
Vicky memukuli apa yang ada di depannya, dia juga menjambak rambutnya sendiri karena begitu geram dan juga kesal. Ternyata Elisa adalah wanita yang begitu agresif dan juga berani, dia tidak menyangka jika Elisa akan memberikannya persyaratan seperti ini. Jika dia tidak menuruti, dia takut bila Elisa akan mendatangi Alexsa ke rumahnya, Vicky sangat kalut dan serba salah.
#Bersambung
__ADS_1