
Suasana pagi yang begitu sejuk membuat badan terasa begitu nyaman berada di atas tempat tidur. Apalagi perbedaan cuaca yang sangat terasa dingin sungguh perbedaan yang jauh dengan suasana di ibu kota. Arga masih mendekap dara dalam pelukannya, mereka baru saja selesai melakukan olahraga ranjang yang sempat tertunda semalam.
Arga kembali merasakan hangatnya sentuhan dara di pagi ini, tapi tidak dengan dara dia bahkan tidak menikmatinya. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai istri tidak sepenuhnya ikut terbuai dalam permainan tersebut.
Karena hati kecilnya masih teringat akan pengkhianatan suaminya yang masih belum terbongkar hingga saat ini. Ingin sekali dia menanyakan tapi waktunya kurang pas dan bukti juga masih belum terkumpul banyak.
Dara ingin sekali melabrak suaminya secara terang terangan dia ingin melihat akan seperti apa reaksinya nantik. Namun itu semua hanya keinginan hati yang tidak bisa di ucapkan dengan kata kata.
Tok tok tok
"Mama papa bangun udah pagi." Kedua malaikat kecilnya asik menggedor pintu.
"Mas bangun mas."
"Hemm hoamm kenapa sayang."
"Anak anak udah rekcok, aku mandi dulu kamu bukain pintu ya." Dara mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi.
Dengan malasnya Arga bangun dan membuka kantor pintu untuk kedua buah hatinya.
"Good morning papa."
"Morning kesayangan papa." Arga mendekatkan wajahnya kepada anak-anak namun mereka langsung menjauh sehingga membuat Arga bingung.
"Ihh papa bauk."
"Iya bell papa belum sikat gigi."
Songak membuat Arga terkekeh mendengar penuturan mereka, dia pun tersenyum dan menyentil keningnya bella.
"Hei papa baru bangun gimana mau wangi hm."
"Yaudah papa mandi gih kami tunggu di bawah sama uncle." Bella mengajak brian untuk turun bersama.
Arga kembali masuk ke dalam kamar, dia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan mengecek pesan dan juga email yang masuk. Begitu ponselnya di aktifkan pesan yang pertama kali muncul adalah milik karina.
"Hufft. Andai aja aku tidak salah ambil langkah pasti semuanya tidak akan seperti ini." Arga menaruh kembali ponselnya dan menuju ke kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang udah belum mas kebelet ini."
"Udah mas aku handukan dulu."
Cek lek. . . Begitu pintu kamar mandi terbuka Arga langsung masuk karena sudah tidak tahan ingin segera menuntaskan hajat kecilnya.
Disaat sedang mengeringkan rambutnya ponsel milik suaminya berdering namun dara hanya mengabaikan saja. Tapi ponselnya kembali berdering terus terusan karena penasaran dia pun mengambil dan melihat nama si penelepon.
"Karina." Dengan hati yang panas dara mengangkatnya.
📞"Halo ada yang bisa di bantu."
__ADS_1
Karina begitu kesal karena yang mengangkat bukanlah Arga melainkan istrinya.
📞"Ha_ halo maaf buk pak Arga nya ada."
📞"Suami saya sedang mandi ada apa telpon pagi pagi."
📞"Ti_tidak buk saya hanya ingin melaporkan kegiatan di kantor. "
📞"Di sana masih ada atasan kamu yang lain kan, bisa dong kamu konfirmasikan ke mereka tidak harus ke suami saya."
Karina sangat geram mendengar dara yang terus terusan menyebut Arga sebagai suaminya.
📞"Iya maaf buk kalau begitu saya tutup telponnya."
📞"Seperti itu lebih baik."
Tuttt
Dara tersenyum sinis setelah menerima telpon dari karina, pasti saat ini dia sedang uring uringan tidak jelas di sana. Akan sangat menyenangkan bila dara bisa sejenak bermain main dengannya.
Cek lek. . .
"Sayang tolong ambilkan kemeja mas ya." Dia mengambil handuk kecil dan mulai mengeringkan rambutnya.
"Ini mas, oiya barusan sekretaris kamu nelpon." Ucapan dara membuat Arga sedikit panik dan gugup.
"Em bahas apa dia."
"Em." Hanya itu yang bisa di ucapkan Arga.
Selesai mengenakan pakaian mereka turun ke lantai bawah untuk bergabung bersama yang lain.
"Morning mama." Bella menyambut hangat kedatangan mama dan papanya.
"Morning sayang umahh." Dara menciumi pipinya Bella dan brian.
"Dek hari ini abang sama mbak nay pamit ya."
"Kenapa buru buru bang." Tanya dara sambil meminum air putihnya.
"Iya dara lusa azam masuk sekolah. Kapan kapan kita pasti nginap kok." Ujar nayla.
"Yaudah deh mbak, kapan kapan datang lagi ya pintu rumah selalu terbuka untuk kalian."
Hari ini dara akan ke Bella beauty mengajak kedua anaknya karena mereka masih libur sekolah. Sedangkan Arga langsung ke kantor karena harus mengecek beberapa berkas penting miliknya.
"Arga ke kantor."
"Iya bang soalnya ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tanganku."
Bram hanya mangut mangut mendengar penjelasan Arga.
__ADS_1
*
*
*
Karina benar-benar sangat kesal pagi ini karena ulahnya dara, dia terus saja menggerutu tidak jelas di dalam ruangannya. Dari tadi penglihatannya tidak pernah lepas dari ponsel dan juga jam tangan miliknya. Dia masih menunggu kedatangan Arga yang masih juga belum menampakkan batang hidungnya.
"Mas Arga kemana lagi." Ucapnya kesal.
Cek lek. . . Pintu terbuka dari luar.
Arga masuk kedalam ruangannya tanpa melihat siapa yang telah berkacak pinggang di belakangnya.
"Bagus ya mentang mentang lagi liburan sama keluar tercinta aku sampai di lupain." Omel karina sambil berkacak pinggang.
Arga sampai kaget mendengar suara karina yang secara tiba-tiba sudah berada dalam ruangannya.
"Ya ampun karina kamu ngapain di sini hah."
"Waw ngapain kamu bilang mas, aku nungguin kamu mas. Dari kemarin kamu tidak ada kabar sama sekali."
"Kamu kan tau aku lagi liburan sama keluarga aku seharusnya kamu paham dong."
"Aku terus yang harus memahami kamu, kapan mas kamu bisa paham sama perasaan aku hah." Teriak karina kesal dan memukul dadanya Arga.
"Karin jaga sikap kamu." Karina tersentak mendengar bentakan Arga, baru kali ini dia dibentak oleh Arga.
"Mas kamu bentak aku." Tanyanya dengan suara lirih.
"Aku baru datang kamu udah marah marah, apa kamu sudah lupa siapa aku hah."
"Hiks jahat kamu mas."
"Kamu yang egois karin, seharusnya kamu sadar sama posisi kamu saat ini. Tidak seharusnya kamu bersikap begini dan ini kantor bukan rumah harus berapa kali aku peringatkan."
"Mas aku sadar diri dan aku tau ini kantor, bahkan kamu tidak pernah pulang kerumah bagaimana aku bisa mengungkapkan semuanya sama kamu." Karina masih berteriak dan meluapkan emosinya yang sedari kemarin dia pendam.
"Tolong ingat sama perjanjian awal kita, ini semua permintaan kamu bukan ke inginan aku karin." Arga kembali meneriaki karina.
"Hiks hiks hiks kamu jahat." Karina ingin keluar dari sana namun tangannya di cekal oleh Arga.
"Jangan keluar dengan keadaan seperti ini, banyak karyawan yang berlalu lalang di luar. Akan ada banyak pertanyaan nanti jika kamu keluar sambil menangis."
Hati karina semakin sakit mendengar Arga yang hanya mementingkan imagenya dari pada perasaannya.
Dengan hati yang terluka karina memilih masuk ke kamar pribadi milik Arga dan membasahi wajahnya agar tidak kelihatan sembab karena habis menangis.
"Keterlaluan kamu mas hanya perasaan mbak dara yang kamu pikirkan hiks, aku menyesal telah memilih kamu."
#Bersambung
__ADS_1