
Langit tampak begitu cerah karna sang mentari telah menampakkan kembali wujudnya setelah hujan deras melanda ibu kota. Dara mengajak kedua anak anaknya untuk ikut bersamanya ke bella beauty, karena hari ini dia tidak di sibukkan dengan kegiatan.
Bella begitu senang di ajak berkeliling oleh mamanya, tapi tidak dengan brian dia begitu murung karena di sini sangat banyak ibu ibu dan juga penghuninya semua rata rata adalah perempuan.
"Ma aku di ruangan mama aja ya." Brian sangat malas karena sedari tadi mengekor di belakang mamanya.
"Kenapa boy bella aja sukak mama ajak keliling."
"Bella kan cewek ma, pokoknya aku gak mau ikut." Brian menghentikan langkahnya dan melipat kedua tangannya di dada.
Seketika dara dan juga Bella menoleh ke belakang bersamaan, dia pun menghela nafasnya.
"Yasudah kamu balik aja ke ruangan mama ya boy." Brian mengangguk senang dia pun segera pergi dari sana.
"Ma aku mau dong di pijitin kayak gitu." Ujar bella yang asik melihat seorang gadis yang masih perawatan di dalam.
"Kamu mau." Bella pun mengangguk.
Dengan tersenyum dara mengajak putrinya untuk treatment di dalam kamar perawatan khusus yang ada di Bella beauty.
Bella begitu senang karena permintaannya di kabulkan oleh mamanya, weekend kali ini benar-benar sangat membuatnya happy.
*
*
*
Arga sangat frustasi saat ini namun dia juga tidak bisa meninggalkan tanggung-jawab nya begitu saja terhadap karina. Dia merasa sangat bersalah terhadap dara kesucian cinta istrinya dia balas dengan pengkhianatan.
Dia masih teringat saat pertama kali mereka menikah dulu, dara bahkan enggak untuk melihatnya. Tapi setelah hubungan mereka membaik dan kebahagiaan mereka bertambah dengan kehadiran anak anak mereka, sekarang Arga malah mengkhianati pernikahannya.
"Aku sangat bodoh hiks, maafkan aku dara maafkan papa nak. Aku harus bagaimana sekarang hiks aku tidak sanggup bila dara akan mengetahui semuanya."
Ceklek. . .
__ADS_1
"Mas ayo pulang." Ajak karina pada arga.
"Kamu pulang aja aku lembur malam ini." Tolak Arga tanpa melihat ke arah karina.
"Mas jangan pancing emosiku terus ya, mau sampai kapan kamu giniin akau hah. Ini juga pilihan kamu mas seharusnya kamu ingat sama perjanjian kamu jugak." Karina meneriaki Arga karena kesal ajakannya selalu di tolak oleh Arga.
"Karin stop, bisa tidak kalau sedang bicara tidak usah teriak teriak. Aku sedang pusing jangan kami bikin semakin pusing." Balas Arga dengan emosi.
Karina memalingkan wajahnya ke arah lain, yang dia mau pokoknya Arga harus ikut pulang bersamanya malam ini.
"Aku gak mau tau mas pokoknya kamu ikut aku pulang, aku juga berhak atas kamu mas. Kalau kamu menolak maka aku akan membocorkan semuanya ke mbak dara." Ancam karina yang membuat Arga Memplototin karina dengan marah.
Ingin sekali Arga memarahinya habis habisan namun itu tidak mungkin karena apa yang di ucapkan karina memang benar adanya. Karena tidak punya pilihan lain akhirnya Arga mengiyakan permintaan karina.
"Aku beritahu dara dulu." Arga pun menelpon istrinya untuk memberi tahu kalau dia tidak pulang malam ini karena ada sedikit urusan mendadak di perusahaan cabang.
Dara pun mengiyakan perkataan suaminya karena tanpa di beri tahu dia mengetahui semunya.
Malam ini dara menitipkan kedua anaknya pada pengasuh mereka, karena dia akan melabrak suaminya kerumah sekretarisnya. Kesabaran dara telah habis dia tidak sudi bila terus terusan harus menerima bekas dari perempuan lain.
"Sus titip anak anak ya, saya ada keperluan di luar." Setelah menidurkan anak anaknyaa dara mengambil kunci mobil dan melaju ke sebuah apartemen yang berada tidak jauh dari kantor suaminya.
Sangat mudah bagi dara untuk mencari tau tentang alamat sekretaris suaminya, bahkan dia telah menyuruh orang untuk mengcopy password apartemen milik si karina.
Begitu sampai di lobi dara menarik nafasnya dalam dalam sebelum bertindak, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan kaki dan tangannya sangat dingin karena menahan emosi yang terpendam, hatinya yang terasa panas karena membayangkan apa yang sedang suaminya lakukan di dalam sana.
"Apakah ini akhir dari pernikahan kami. Kuatkan hamba ya Allah, semoga engkau memberi jalan yang terbaik."
Dara menekan password apartemen milik karina begitu aksesnya berhasil, dia segera masuk tanpa permisi. Tujuan utamanya adalah kamar pribadi milik karina, ternyata kamarnya tidak terkunci dan dengan sangat mudah dara Memasukinya.
Susana di dalam kamar yang begitu temaram tidak membuat mereka sadar jika sedang ada orang lain di dalam sana. Karina masih asik membuat rangsang untuk Arga, sedangkan Arga hanya pasrah menerimanya karena karina juga sudah berhak atas dirinya.
Dara menutup kedua mulutnya agar suara isak tangisnya tidak terdengar oleh mereka, dia begitu hancur sehancur hancurnya. Ternyata suami yang dia bangga banggakan selama ini telah berani mengkhianatinya.
Dara sudah tidak kuat mendengar suara laknat mereka, dengan memantapkan hati dan keberaniannya dia mencoba untuk mencari saklar lampu. Begitu ketemu dia segera menghidupkannya, dan alhasil karina dan juga Arga terkejut Siapakah yang telah menghidupkan lampu.
__ADS_1
"BAJINGAN KAMU MAS." Teriak dara sambil melemparkan beberapa botol parfum ke arah mereka.
Sontak membuat karina dan juga Arga gelagapan, mereka segera mengutip pakaiannya dan mencoba untuk menghindari serangan dari dara.
"Jangan kabur kalian, dasar perempuan tidak tau malu ternyata kamu tidak lebih dari seorang p*lac*r di luaran sana." Caci dara dengan muka yang memerah dan juga nafas yang memburu.
"Sayang maafkan aku, tolong dengar penjelasan mas dulu." Ucap Arga ingin menggapai tangannya dara namun segera di tepis dengan kasar olehnya.
"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu pengkhianat." Tekan dara dengan perasaan yang hancur saat menatap suaminya.
Dengan segala kesadarannya dara menghampiri karina dan menjambak rambutnya, kemudian dia melemparkannya ke dinding sehingga membuat karina mengeluh kesakitan.
Tidak berhenti di situ dara bangkit dan mencekik karina dengan brutal, Arga benar-benar kaget melihat sifat temperamen dara saat ini. Baru kali ini dia melihat dara bisa berbuat sekasar itu, dia pun mencoba untuk memisahkan mereka.
"Dara cukup jangan menghakimi sendiri, ternyata kamu sangat berbahaya." Ucap Arga tanpa sadar.
"Apa kamu bilang aku berbahaya, lalu perbuatan kalian bagaimana apa kalian tidak berfikir sebelum masuk ke kubangan dosa ini, JAWAB MAS JAWAB." Teriak dara di depan mukanya Arga.
Arga hanya bisa terdiam dan menunduk dia sudah salah dalam berucap, dia bisa mengerti seperti apa perasaan istrinya saat ini. Arga ingin membawa dara ke dalam pelukannya namun dengan kasar dara mendorong Arga hingga dia terjatuh ke samping.
"Jangan pernah menyentuhku lagi mas hiks hiks kalian jahat mas sangat jahat. Dan kamu mulai hari ini kamu saya pecat." Tunjuk dara pada karina yang melotot tak percaya dengan ucapan dara.
"Kamu tidak bisa seenaknya memecat saya mbak dara. Itu perusahaan milik mas arga dan dia juga suami saya bukan cuma suami kamu."
"Ahahahaha ternyata kalian sangat bodoh, apa kalian pikir saya akan diam saja setelah mengetahui kelakuan busuk kalian di belakang saya hah. " Dara melemparkan sebuah surat hasil foto kopi kepada Arga dan karina.
Dengan begitu penasaran mereka membaca semua isinya dan kemudian karina terdiam dan lesu. Tapi tidak dengan Arga dia hanya bisa pasrah karena semua ini memang untuk anak anaknya kelak.
"Tidak mungkin, licik kamu dara."
Dengan murka dara mendekati karina dan mencekram dagunya.
"Kamu yang licik bukan saya, saya bukan perempuan bodoh asal kamu tau itu. Dan camkan baik baik saya hanya mengambil apa yang seharus menjadi milik saya paham." Dara melepas cengkramannya dengan kasar sehingga wajahnya karina terhempas ke samping.
#Bersambung
__ADS_1