Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
Kepulangan dara dan twins


__ADS_3

Kegundahan masih sama terasa walaupun jiwa telah mencoba untuk melupakan. Namun yang namanya sakit hati tetap sangat sulit untuk terobati, lelah untuk tetap terus berpura-pura tegar. Tetapi ketika melihat senyum kedua malaikatnya dara harus ikhlas dan mencoba untuk tetap tegar. Tidak ada harta yang paling indah di dunia ini kecuali kehadiran mereka berdua, kehadiran kedua buah hatinya yang selalu bisa membuatnya untuk bisa bertahan hidup.


Hari ini twins berangkat kesekolah dari rumah pamannya. Dan dara langsung menuju Bella beauty karena dia merasa jenuh kalau berada di rumah. Walau keadaan hati sedang kacau namun dia masih tetap bisa bersikap profesional sebagai atasan, dara juga berusaha menghilangkan kegundahan hatinya. Bukan arga yang ada dalam pikirannya sekarang, namun kedua buah hatinya. Apakah mereka akan sanggup bila harus melihat perpisahan kedua orang tuanya.


Dara memijat mijat kepalanya yang terasa sangat lelah berpikir. Ujian ini memang sangat berat dan terlalu berat untuk di jalaninya.


Tok tok tok.


"Masuk."


"Permisi buk ada yang bertemu dengan ibuk."


"Suruh masuk aja kebetulan saya sedang free."


Dara memetikan laptopnya dan merapikan meja kerjanya.


"Selamat pagi buk bos." Data sampai melotot ternyata glen yang ingin bertemu dengannya.


"Hei glen sedang apa kamu disini." Dara tersenyum dan menyapa glen.


"Aku baru tau ternyata kamu pemilik bella beauty ini." Glen memutari seisi ruangan dara dan dia sangat takjub melihat setiap dekorasi yang ada di sana.


"Ayo duduk dulu mau aku pesankankopi." Glen menggeleng dan terus menatap ke arahnya tanpa berkedip.


"Hei biasa aja kali natapinnya." Dara merasa risih melihat tatapan Glen.


"Sebenarnya ada yang mau aku tanyakan sama kamu."


"Mau tanya apa hm." Dara terlihat serius ingin mendengarkan pertanyaan glen.


Dengan sedikit ragu glen menyodorkan ponselnya ke arah dara. Walau bingung namun dara mencoba untuk mengambilnya, karena dia juga penasaran sama isinya. Begitu dara melihatnya seketika ia jadi murung dan lemas.


"Ohh aku pikir apa kamu tau dari mana foto itu."


"Kebetulan kami satu apartemen reaksi kamu kok biasa aja sih. Apa jangan jangan ini salah satu penyebab yang membuat kamu pingsan waktu itu hm." Dara mengangguk dan menyuruh glen agar tidak membahasnya lagi.

__ADS_1


"Sudahlah glen biarkan saja mereka berbahagia." Tanggapan dara membuat glen terdiam.


"Kamu yang sabar kalau butuh sesuatu hubungi saja aku." Glen menggoda dara.


"Ahaha kamu bisa aja Glen mentang-mentang aku otw janda."


Mereka tertawa bersama karena dara yang menyebut dirinya sebagai calon janda. Glen merasa prihatin melihat kondisi dara walaupun dia terlihat tegar. Namun Glen bisa melihat raut kekecewaan dari pancar matanya, dia salut melihat ketegaran dara. Namun yang membuat Glen bingung kenapa suaminya tega mengkhianati wanita sehebat dia.


"Mau makan siang bersama catin." Dara mengeryit heran.


"Catin." Ulangnya bingung.


"Iya calon pengantin ahahah." Dara memukul ringan bahunya Glen karena telah usil menggodanya.


"Dasar bujang lapuk kamu mas." Dara membalas ledekan Glen.


Tepat waktunya makan siang mereka berdua memilih makan di cafe yang bersebelahan dengan kantornya dara. Glen merasa begitu dekat dengan dara walaupun mereka harus saja bertemu. Namun entah mengapa perasaannya begitu lain terhadap perempuan yang satu ini.


"Oke catin mau pesan apa." Dara menduduki kursi yang telah di siapkan oleh Glen.


"Apaan bupuk." Tanya Glen heran.


"Bujang lapuk heheheh." Bisik dara sambil ceikikan sehingga Glen memutar malas bola matanya.


"Dasar dadar." Glen tidak menghiraukan plototan dara, karena dia sedang memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan untuk mereka berdua.


"Ih dasar emang." Dara tersenyum sendiri.


Hari ini dia merasa berbeda karena kehadiran Glen. Karena ada saja tingkah Glen yang membuatnya bisa tertawa lepas seperti sekarang ini. Dia jadi sedikit bisa melupakan pengkhianatan suaminya, karena suasana hatinya hari ini begitu berwarna.


"Eh mas itu bukannya mbak dara ya." Karina menunjuk ke arah dara yang sedang tertawa lepas bersama seorang pria.


Dengan emosi arga menghampiri mereka dan menegurnya.


"Oh jadi gini kelakuan kalian di belakang saya." Tanya arga murka melihat istrinya yang bisa tertawa lepas saat bersama dengan laki-laki lain.

__ADS_1


"Kalian disini juga rupanya. Gabung aja saya rasa bagus juga kalau kita double date." Ujar Glen memprovokasi.


"Anda siapa berani beraninya jalan sama istri saya hah." Dara hanya diam dan melanjutkan makannya.


"Wush santai dong bro. Perkenalkan saya Glen pemilik hati selanjutnya untuk dara." Dara sampai melotot mendengar perkataan nyeleneh yang keluar dari mulutnya glen.


"Jangan sembarangan kamu kalau bicara sampai kapanpun dara akan tetap menjadi istrinya saya." Tekan arga dengan mata yang melotot karena murka.


"Terus yang di samping mau di kemanain bro." Arga terdiam melihat karina yang masih berada di sampingnya.


Dara yang melihat suaminya bungkam hanya tersenyum sinis dan menggelegar. Ternyata selama dia berlibur ke rumah abangnya, mereka malah asik berduaan tanpa memikirkan dirinya dan juga anak anaknya.


"Apa sudah selesai perdebatannya kalau sudah kami pamit dulu." Dara membuka suaranya.


"Sayang kamu pulang sama aku." Arga menarik tangannya dara namun segera di tepis olehnya.


"Heuh. Maaf anda siapa ya jangan sembarangan memanggil sayang apa anda tidak memikirkan perasaan istri anda." Dara mengalihkan perhatiannya ke arah karina.


"Sayang please jangan bahas ini sekarang. Ayo kita pulang ada hal yang ingin aku sampaikan sama kamu." Arga kekeh ingin membawa pulang dara.


"Maaf saya datang bersama Glen dan saya juga harus pulang bersama dengan-Nya." Tolak dara tegas dan terlihat tenang.


"Oh jadi gini selama kamu berlibur di tempat bang bram, ternyata kalian berdua selingkuh di belakang saya hah." Dara tersenyum mencemooh mendengar tuduhan Arga untuknya.


"Karina apa dirumah kalian sudah kehabisan cermin untuk berkaca. Tolong ya habis dari sini mampir dulu ke toko jangan lupa belik yang besar biar semakin jelas kelihatannya." Setelah mengatakan itu dara menarik lengan Glen dan mengajaknya untuk segera pergi.


Karina tidak bisa menjawab apa apa dia takut apabila dara akan mempermalukan dirinya. Arga menyugar kasar rambutnya ternyata istrinya yang sekarang sangat berbeda seperti yang dulu. Dia begitu frustasi dan sakit hati melihat kedekatan dara bersama dengan laki-laki lain.


Selera makannya pun sudah hilang, karena kejadian tadi. Dia mengajak karina untuk segera pulang karena emosinya sedang tidak stabil. Walaupun kesal namun karina tetap menuruti dia juga menyesal karena telah mengajak suaminya ke sini.


Guys jangan lupa mampir di novel ku yang di sebelah ya🥰🥰



#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2