
Seminggu setelah kedatangan abangnya dara, tepat minggu ini mereka akan berlibur ke vila milik keluarga bram dan dara. Arga juga ikut bersama mereka karena dia tidak ingin membuat istrinya curiga, walau bagaimanapun dia juga sangat menyanyanginya keluarganya.
Dara juga mencoba melupakan kebohongan tentang suaminya untuk sementara waktu, dia memenuhi kebahagiaan kedua anaknya dulu. Walaupun hatinya sedang di goncang tapi dia harus tetap kuat dan bisa lebih sabar lagi, semua ini hanya untuk keutuhan keluarga kecilnya.
Akan tiba waktunya nanti dara akan menanyakan semuanya kepada arga, untuk saat ini biarlah dia bersenang-senang dulu dengan kebohongannya sendiri.
"Mama aku senang banget hari ini." Bella memeluk mamanya.
"Benarkah, brian gimana sayang."
"Aku juga sama ma. Oiya nanti kita bobok berempat ya ma." Bella mengangguk menyetujui permintaan kakaknya.
"Iya sayang." Dara mencium kening kedua anaknya.
Arga masih menjawab telpon dari karina, dia sedikit menjauh dari istri dan anak anaknya. Dara tau jika suaminya sedang menerima telpon dari selingkuhannya, tapi dia tetap memilih untuk abai akan ada waktunya dia bertingkah. Bukan untuk sekarang karena akan membawa dampak buruk untuk anak anaknya, apalagi disini juga ada keluarga abangnya juga sahabatnya.
"Ma, kita ke tempat azam dulu ya." Dara mengangguk dan tersenyum.
Perlahan dara berjalan mendekati arga dan berdiri tepat di belakangnya.
"Karin, aku lagi liburan bersama keluargaku kamu jangan aneh aneh ya."
"Ekhemm." Sontak arga langsung menutup telponnya dan menoleh ke belakang.
"Eh_ Sayang kamu disini."
"Iya mas dari tadi aku diaini." Jawab dara dengan tersenyum tenang.
"Sa_sayang ini semua gak seperti yang kamu pikirkan." Arga jadi salah tingkah dan sangat gugup.
"Salah paham gimana mas, aku kesini mau manggil kamu." Dara bisa melihat kegugupan dari suaminya, dia juga menjawab pertanyaan suaminya dengan lembut dan tenang.
"Oh kemana sayang." Arga menetralkan perasaannya, dia juga tidak yakin bila dara tidak mendengarkan obrolannya barusan.
"Awas mas jangan suka bermain api nanti ke bakar perih tau." Dara berucap santai sambil Menggandeng lengan suaminya.
"Maksud kamu sayang." Arga masih bingung.
"Engak papa kok, ayuk kita di panggil dari tadi." Dara mengalihkan pertanyaan suaminya.
Kini mereka semua berkumpul di taman belakang rumah untuk melakukan acara bakar bakaran. Anak anak juga sangat menikmati acara ini, mereka paling semangat mengumpulkan ceker, sosis juga marshmello untuk di bakar.
__ADS_1
Sedangkan untuk dara dan yang lainnya sedang membumbui ayam, ikan, daging dan juga jagung untuk di bakar.
"Gimana perkembangan proyek baru kamu ga." Bram membuka obrolan pertama dengan arga.
"Em aman bang. Bengkel gimana bang."
"Masih seperti biasa alhamdulillah lumayan dari bulan bulan lalu."
Mereka asik mengobrol seputaran bisnis, sedangkan vicky hanya menyimak tanpa mau berkomentar. Dirga sedikit masuk ke dalam topik karena mereka satu perusahaan, vicky tidak ingin memperkeruh suasana hanya karena dirinya.
"Vic kenapa diam aja." Arga menegur vicky yang terlihat banyak diamnya.
"Em kenapa." Vicky tersadar dari lamunannya.
"Engak apa apa kok, udah nyala arangnya." Arga membantu vicky untuk menyalakan arangnya.
*
*
*
"Ihh nasip jadi istri kedua, mau ngapain aja harus ngumpet dulu ck." Karina membanting poselnya ke kasur.
Karina ingin menyusul mereka ke villa tapi dia takut bila ketahuan Arga dan istrinya, sekarang dia jadi uring-uringan di dalam kamar karena memikirkan suaminya.
Karina pun tertidur setelah mengoceh ngoceh tak jelas sendirian di dalam kamar. Dia dan Arga baru menikah selama kurang lebih 7 bulan, dalam waktu 7 bilang tersebut Arga selalu menomor duakan dirinya.
Dia bahkan bisa menghitung berapa kali Arga menginap di tempatnya, tapi dia juga tidak bisa berkutik karena mengingat perjanjian awal mereka sebelum menikah.
Karina terpaksa menyetujui persyaratan tersebut supaya Arga bisa di milikinya, namun ternyata sangat sulit menerima kenyataan jika setiap harinya dia harus selalu berperang dengan perasaannya.
Lelah berkelut dengan pikirannya akhirnya karina tertidur.
Lain dengan Arga dia baru merasakan ternyata rasa yang dia miliki untuk dara masih begitu besar, tidak seperti untuk karina. Hati kecilnya masih belum bisa mengukir nama karina di sana, walau setiap hari bertemu nyatanya yang namanya hati juga perasaan tetap tidak bisa di paksakan.
Arga menyesal sekarang dia sangat menyesalinya karena dulu dia lebih mementingkan egonya dari pada memikirkan keinginan hati yang sebenarnya.
Dia hanya merasa terabaikan bukan berarti benar-benar di abaikan. Dia sangat bodoh dalam menilai, penilaiannya terhadap cinta dara begitu keliru. Sekarang baru terasa ternyata dara adalah wanita yang hebat selain bisa mengatur waktu dengan baik dia sangat bisa memanjakan dirinya.
Namun nasi telah menjadi bubur yang namanya kenyataan tetap tidak bisa di ubah seperti semula lagi. Dia telah mengkhianati cinta suci istrinya, entah akan seperti apa reaksi istrinya jika kebenarannya akan terkuak.
__ADS_1
Ingin sekali Arga berteriak sekarang, namun tidak mungkin dia lakukan di waktu seperti ini. Ingin sekali dia memeluk istrinya agar suatu saat jika kebenarannya terungkap dara tidak meninggalkannya.
Semuanya hanya rasa ingin tapi mustahil untuk di lakukan. Dia hanya bisa menatap istrinya dari kejauhan, dia bisa melihat senyuman istrinya yang begitu merekah tanpa adanya beban. Akankah senyuman itu sirna jika sampai dara mengetahui tentang kebohongannya.
Sangat sakit rasanya bila melihat dara akan menangis hanya karna kebodohannya.
"Mas ekhem mas kenapa melamun." Dara mengejutkan suaminya.
"Sayang." Arga menoleh ke arah istrinya dengan tersenyum.
"Kenapa mas ngelamunin apa hm." Dara duduk di samping suaminya dan memeluk lengannya.
"Enggak ada sayang, anak anak kemana." Arga mengalihkannya pertanyaan.
"Tuh disana." Tunjuk dara.
"Kamu kenapa nyusul ke sini hm, udah yang bantu bantu di sana siapa." Arga mengelus pucuk kepalanya dara dengan sayang.
Dara kembali merasakan kehangatan yang sudah lama tidak pernah di berikan oleh Arga lagi, hatinya bergetar merasakan sentuhan sayang dari suaminya.
"Mas."
"Hem kenapa sayang."
"Jangan pernah pergi hanya karena masalah kecil yang masih bisa di bicarakan." Ujar dara tanpa sadar saat bersandar di bahu suaminya.
Deg. Hati Arga begitu Berdenyut mendengar penuturan dara yang secara tiba-tiba.
"Maksud kamu sayang."
"Hah maksud apa mas." Dara tersadar dan segera pindah dari posisinya, dia keceplosan tanpa sadar.
"Yang kamu bilang barusan."
"Emang aku ngomong apa." Tanya dara pura pura bodoh.
"Em enggak lupakan aja, balik gih jangan lupa punya mas setengah mateng ya sayang."
Dara mengangguk dan kembali gabung bersama teman temannya.
#Bersambung
__ADS_1