Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
Married


__ADS_3

Setelah sekian lama sendiri, akhirnya kini bramantyo Alamsyah. Resmi melepaskan masa lajangnya bersama tambatan hati pujaannya. Ada perasaan lega yang tak bisa dia ucapkan, akhirnya beban yang selama ini dia tanggung. Kini telah berkurang satu persatu dari kehidupannya.


Karena hari ini bram telah resmi menjadikan nayla sebagai istrinya. Dara juga begitu terharu menyaksikan moment bahagia ini, dia sangat bahagia melihat abangnya telah menemukan pendamping hidupnya. Mungkin dara akan menyesal bila tidak jadi menghadiri moment penting abangnya.


"Hiks abang. Hiks dara bahagia bang, sangat bahagia selamat untuk kebahagiaan abang." Ucap dara penuh haru.


"Cup. Jangan nangis terus dek, abang lagi bahagia ini masak kamu mewek terus sih." Ucap bram terkekeh melihat sikap dara.


"Ihh abang. Dara menangis bahagia tau, selama ini kan abang yang selalu ada buat adek. Sampek mau melajang segini lamanya, dara pikir abang udah belok tau." Ucap spontan dara.


"Hah belok gimana." Tanya bram dengan melotot tak percaya.


"Hehehe. Em ya belok bang." Dara cengengesan tidak berani melanjutkan ucapannya.


Bram berkacak pinggang di depan dara dengan melototkan matanya.


"Udah sih mas. Dara cuma bercanda." Nayla menengahi.


"Iya sayang." Bram menatap nayla dengan teduh.


Setelah selesai dengan acara jamuan dan pertemuan keluarga. Kini bram membawa nayla kerumahnya, dirinya tidak bisa berhenti tersenyum dah terus saja menggenggam tangannya nayla. Kebahagiaan bram sudah lengkap sudah, apalagi kini dara sedang mengandung, tidak lama lagi dia juga akan menjadi seorang uncle. Membayangkan itu saja sudah cukup membuatnya sangat bahagia.


Arga pun merasakan hal yang sama, sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Tidak terasa perjalanan cintanya berjalan sangat singkat seperti ini.


Walau di awal pernikahannya dulu, dia sempat berpikir bahwa nasip pernikahan mereka tidak akan berjalan lama.


Dara yang menatap suaminya sedang melamun pun mengejutkannya.


"Mas. Lamunin apa sih." Tanya dara.


"Enggak ada sayang. Mas cuma lagi bahagia karena sebentar lagi mas akan jadi seorang papa." Tutur arga sambil memandang lekat istrinya.


"Enggak terasa ya mas." Arga hanya mengangguk dan menciumi keningnya dara.


* * *


"Alexsa buka pintunya." Teriak alena dari luar.


Alexsa malah cekikan di luar kamar mandi sendirian. Awalnya alena yang ingin mengerjai alexsa, namun sekarang malah dia yang kenak batunya.


Alena terkunci di dalam kamar mandi yang berada di dekat dapur. Dia terus menggedor gedor pintunya namun sama sekali tidak ada hasilnya.


Alexsa mengambil minum di dalam kulkas dan meneguk nya hingga tandas.


"Capek juga punya madu. Huff lega engga ada pengganggu rasain kamu lena." Alexsa malah cekikan sendiri membayangkan alena yang malah terjebak di dalam kamar mandi.


"Lexsa ngapain kamu. " Tegur vicky yang datang secara tiba-tiba.


"Khuk." Alexsa terkejut dan terbatuk.


"Is vic, kalok datang ngomong dong. Kayak jelangkung aja kamu. " Cibir alexsa kesal.

__ADS_1


Vicky hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya maaf. Alena kemana kamu liat engga." Tanya vicky.


"Maaf maaf. Engga liat tuh, palingan juga entar lagi pulang." Jawab alexsa singkat.


"Kamu belum tidur. " Tanya vicky.


"Tumben nanyain." Sindir alexsa.


"Yaudah lah aku ke kamar dulu." Vicky yang bingung mau jawab apa, berlalu ke dalam kamarnya alexsa.


Alexsa menatap kepergian vicky dengan heran 'Apa dia salah kamar', alexsa hanya bisa membatin. Sebelum tidur alexsa mengecek pintu kamar mandi dapur terlebih dulu.


"Aman kayaknya. Makanya jangan asal masuk kandang kalok engga mau celaka, hihihi. " Alexsa kembali cekikan sendiri.


Karena tidak mau sampai ketahuan, dia memilih untuk segera tidur.


Cek lek. . .


Alexsa membuka pintu kamarnya, namun sudah gelap karena vicky sudah mematikan saklar lampunya. Alexsa memilih untuk mengambil selimut dan juga bantal, namun dia malah terkejut dengan suara vicky yang lirih.


"Maafkan aku. " Vicky datang secara tiba-tiba dan langsung memeluk alexsa dari belakang.


"Lepasin vic, aku ngantuk." Alexsa berusaha melepaskan diri dari delapan vicky.


"Engga. Biarkan seperti ini dulu lexsa." Vicky merasa begitu bersalah selama ini. Karena telah mengabaikan alexsa, ternyata dia hanya salah paham.


"Tapi aku risih vic, tolong jangan dekat dekat." Tegas alexsa, karena dia takut akan kembali mengharapkan vicky.


"Hiks kamu jahat vic." Tutur alexsa dengan kecewa.


"Maafkan aku lexsa, maaf." Lirih vicky pelan.


"Mulai dari sekarang aku akan berhenti untuk mengharapkan kamu vic. " Ucap alexsa yang membuat vicky begitu terkejut.


Deg. . .


Vicky terkejut mendengar ucapan alexsa yang ingin melupakannya.


"Jangan lexsa. Kasih aku kesempatan aku akan coba move on dari masa lalu aku." Pinta vicky sambil terus memeluknya.


"Heuh ternyata benar, kamu memang masih mencintai mantan kamu vic." Alexsa tersenyum mengejek.


"Maaf. Tapi aku janji bakal berusaha melupakan dia demi kamu." Ucap vicky mantap.


"Melupakan kamu bilang. Gimana caranya vic, bahkan sekarang kamu udah nikah lagi." Ucap alexsa dengan marah, bahkan dia sudah melepaskan pelukannya vicky.


Vicky baru sadar ternyata dia sudah menikahi Alena hanya karena kesalahan satu malamnya. Dia hanya bisa menunduk karena tidak tau harus berkata apa.


"Diam kan kamu. Makanya jangan pernah meminta maaf kalau semua biang masalah belum selesai." Ucap alexsa dengan geram dan berlalu ke tempat tidur.

__ADS_1


Vicky merebahkan badannya di samping alexsa dan memeluknya dari belakang. Dia tidak tau harus mengambil langkah seperti apa, kesalahannya hanya ada pada alena sekarang. Bagaimana caranya dia bisa lepas darinya, hanya itu cara untuk membuat alexsa seperti dulu lagi.


"Lexsa. Kasih aku kesempatan untuk memperbaikinya." Bisik vicky pada alexsa.


"Aku ngantuk." Jawab alexsa cuek.


"Apa aku boleh melakukannya." Tanya vicky ragu ragu.


Alexsa terdiam. Karena dia tidak tau harus berkata apa, walau sebenarnya dia sangat berharap vicky mau menyentuhnya. Tapi dia juga tidak mau terlihat murahan, alexsa memilih mengabaikan permintaan vicky.


"Aku ngantuk vic, tolong jangan ganggu aku. Mintak aja sana sama istri kamu satunya lagi." Ketus alexsa.


"Apa kamu cemburu." Goda vicky, dia hanya berharap agar alexsa mau berbicara dengannya.


"Engga tuh."


"Jujur lexsa, aku menikahinya hanya karena satu kesalahan. Bukan karena aku sengaja, percaya sama aku." Jelas vicky.


Alexsa mulai tertarik dengan pembahasan vicky. Dia hampir melupakan janjinya bersama dara waktu. Rencananya dia akan menanyakan tentang ini pada vicky, namun dia lupa. Untung vicky memulainya, jadi alexsa punya kesempatan untuk mengetahuinya.


"Oke. Aku mau penjelasan dari kamu." Alexsa bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada tempat tidur.


Vicky menghidupkan lampu, dan duduk di samping alexsa.


"Aku telah mengambil keperawanannya. " Jelas vicky menundukkan kepalanya.


Deg. . .


Alexsa merasa dadanya bagaikan tertusuk ribuan jarum. Jadi vicky telah bermain gila di belakangnya, apa sebejat itu kelakuan dia. Alexsa hanya bisa menerka-nerka.


"Apa. Jadi selama ini kamu bermain gila di belakang aku vic." Tanya alexsa dengan marah.


"Enggak lexsa. Dengarkan aku dulu, malam itu hanya kebetulan bahkan aku sampai lupa sama kronologi kejadiannya." Jelas vicky jujur.


"Lupa. Lupa aku karena kamu bodoh, apa kamu yakin kalau kamu yang telah mengambilnya." Tanya alexsa.


"Aku engga tau pastinya gimana. Yang jelas saat itu dia juga sama terpukulnya." Jelas vicky.


"Kejadiannya dimana." Tanya alexsa serius.


"Di penginapan xxx. Tepat pada malam pertama pernikahan kita."


"Ck. Dasar engga tau di untung, jelas jelas yang sah udah ada depan mata. Tapi kamu malah carik yang haram." Sindir alexsa.


Vicky hanya bisa menundukkan kepalanya, karena apa yang alexsa bicarakan memang benar adanya.


"Maaf lexsa. Aku khilaf dan aku putus asa lexsa, bantu aku untuk menyelesaikan nya." Vicky menatap kedua bola mata alexsa yang terlihat menyiratkan luka.


"Sudahlah vic, aku sudah kenyang sama yang namanya luka. Kamu urus sendiri aja urusan kamu. Aku ngantuk tolong jangan ganggu aku." Jelas alexsa dan kembali merebahkan badannya.


Alexsa hanya pura-pura untuk tertidur. Karena dia tidak ingin bila vicky melihatnya sedang menangis. Hati istri mana yang tidak sakit bila suaminya meninggalkan malam pertama dia dan memilih bermalam bersama perempuan lain.

__ADS_1


"Aku janji aku menyelesaikan semuanya lexsa. Maafkan aku." Lirih vicky.


#Bersambung


__ADS_2