
Arga memilih tidur di sofa ruang tamu semalaman. Keadaan dara sedang tidak baik-baik saja, dia tidak ingin membuatnya semakin drop dan kecewa. Tak lupa juga dia mengganti bajunya dengan piyama agar di kala kedua anaknya terbangun, mereka tidak curiga terhadapnya.
Arga merasa sangat gelisah sepanjang malamnya, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya selalu di hantui oleh rasa bersalahnya terhadap dara, jantungnya terus berdetak tak karuan.
Dia menjadi serba salah dan tak karuan, hati dan pikirannya terasa kacau dan tidak tenang. Dia hanya bisa berdoa agar besok paginya tidak terjadi hal yang bisa membuatnya hancur.
Dia tidak perduli jika dara akan mengambil segala yang dia miliki, yang terpenting ?mereka tidak berpisah karena arga tidak akan sanggup.
Pagi menjelang arga masih lelap tertidur di sofa ruang tamu. Bella heran melihat papanya yang tertidur di sofa, karena tidak biasanya papa mereka akan tidur luar seperti ini.
"Kak, papa kok tidur di luar sih." Brian hanya mengangkatnya bahunya dan menggelengkan kepalanya.
"Mana kakak tau dek, kita bangunin aja yok."
Dengan perlahan mereka menepuk nepuk pipinya arga hingga dia menggeliat dan membuka matanya.
"Hei sayang, kalian udah tapi aja sih." Arga mengucek matanya dan merebahkan badannya di sandaran sofa.
"Papa kenapa tidur di luar."
"Semalam papa ketiduran habis nonton bola, ya ampun udah pagi aja ternyata." Arga berkilah agar kedua anaknya tidak curiga.
"Papa mandi dulu gih nanti ikut sarapan sama kita ya." Arga menganggukkan kepalanya dan tersenyum hangat melihat kedua anaknya yang tampak bahagia dengan kehadirannya.
"Yaudah tungguin ya sayang, awas jangan curang ya." Bella dan Brian mengangguk patuh dan terkekeh saat Arga mengelus kepala mereka.
Dengan ragu ragu Arga menaiki tangga untuk menuju kamarnya bersama dara. Perlahan dia membukakan pintu kamar dan ternyata tidak di kunci. Kamarnya sudah kosong tanpa kehadiran dara di sana, Arga menghela nafas perlahan.
__ADS_1
Bahkan dalam keadaan sakit pun dara masih bisa menyempatkan dirinya untuk menghindar dari Arga.
Sebenci itukah dia sekarang terhadapnya, Arga sedih dan kecewa terhadap dirinya sendiri. Sungguh tidak pernah dia bayangan sebelumnya jika nasip rumah tangganya akan seperti ini.
Awal menikah dulu dara juga membenci dirinya, namun setelah dengan susah payah akhirnya Arga berhasil mendapatkan cintanya dara. Dan sekarang kisah mereka berdua kembali membawa kenangan awal di saat mereka menikah dulu.
Arga harus kembali berusaha untuk mendapatkan cintanya dara lagi. Tapi situasi sekarang sangat berbeda, apakah hubungan mereka akan kembali membaik seperti dulu lagi atau malah kandas.
"Aku harus bagaimana sekarang, kenapa aku bisa sebodoh ini." Arga menjambak rambutnya dengan kasar.
*
*
*
Tepat sebelum Arga terbangun dari tidurnya, dara segera membangunkan kedua anaknya dia menyuruh artnya untuk mengurus mereka. Dia harus segera berangkat ke pengadilan agama karena sudah mendapatkan informasi dari glen.
Setibanya di kantor pengadilan, dia menelpon glen untuk meminta ketemu. Glen hanya tersenyum melihat kehadiran dara yang masih berada di parkiran.
Dia melambaikan tangannya ke arah dara saat pandangan dara tertuju ke arahnya.
"Hei glen."
"Pagi amat datangnya emang udah sembuh kamu." Dara mengangguk dan tersenyum manis.
"Udah jangan sok manis kamu, ayok kita ambil suratnya dulu." Dengan gugup dan gelisah dia mengikuti glen dari belakang.
__ADS_1
Surat panggilan untuk Arga sudah di tangannya, namun hatinya semakin tidak karuan saat membolak-balikan kertas tersebut.
"Glen apa aku egois." Glen menatap dara dengan teduh, dia sangat paham apa yang sedang di pikirkan oleh temennya ini.
"Semua keputusan ada di tangan kamu, pikirkan baik-baik sebelum semuanya terlambat." Dara meneteskan air matanya, dia bingung harus berbuat apa.
"Hiks aku gak tau harus apa Glen, karena ini keputusan yang sangat sulit. Bantu aku Glen hiks bantu aku untuk menemukan jalan keluarnya hiks."
"Kamu tarik napas dulu pelan pelan, kita ke kantor kamu dulu ya." Glen menuntun dara menuju mobilnya.
Sebenarnya dia juga tidak tega melihat dara berpisah dari suaminya, pasti kedua anaknya akan sedih dan terluka.
Sebisa mungkin dia akan berusaha untuk membuat hubungan mereka membaik seperti dulu lagi, hanya karina biang dari masalah ini.
"Aku janji akan membantu kamu sebisa aku." Ujar Glen dalam hatinya.
Mereka tiba di kantornya dara, namun saat melewati ruang tunggu mereka tidak sengaja berpas pasan dengan karina.
Dengan angkuh karina mendekati dara dan tersenyum mengejek. Glen ingin membawa dara pergi namun dara mencegahnya, dia tidak ingin terlihat lemah di depan wanita seperti karina.
"Hei big bos datang juga, mukanya sedih amat lagi galau ya." Cibir karina tidak tau tempat.
"Tidak ada kata galau dalam rumus kehidupan saya, maaf ya saya orang sibuk jadi gak sempat tuh ngeladenin perempuan pelakor seperti anda permisi." Glen tersenyum dalam hati saat mendengar kalimat pedas yang keluar dari mulutnya dara.
Karina merasa geram karena ucapan spontannya dara, dia selalu kalah telak setiap berdebar dengan wanita tersebut.
Jangan lupa mampir di novel ku yang di sebelah ya🥰🥰
__ADS_1
#Bersambung