Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
keputusan same


__ADS_3

Vicky terbangun saat mendapatkan panggilan dari asistennya, dia segera mencuci muka dan menelpon balik asistennya. Ternyata orang orangnya telah menemukan hasil yang ingin dia dapatkan. Vicky sangat antusias mendengarkan semua ceritanya, tapi kemudian dia jadi mengerutkan alisnya karena merasa telah di bodohkan oleh gadis ingusan seperti Elisa.


"Jadi dia masih maha siswi." Tanya Vicky pada beni.


"Iya bos, saya baru tau dari papanya." Jelas beni.


"Oke thanks Ben, kamu sangat membantu." Ujar Vicky kemudian memutuskan panggilannya.


"Sial CK." Umpat Vicky.


*


*


*


Alena sedang melakukan sarapan bersama mertuanya di kediaman mereka, sedangkan same tidak berani untuk turun apalagi harus bertatapan dengan papanya. Dia sangat malu menemui mereka setelah kedoknya terbuka, karena memang benar yang di katakan oleh papanya. Mereka tidak pernah mengajarkan etika buruk kepadanya, hanya saja dia terlalu buta akan materi.


"Sayang, same kemana apa dia tidak ikut sarapan." Tanya mamanya same .


"Masih tidur ma, nanti aku bawakan saja ke kamar." Jawab Alena.


"Elen, kalau same berbuat hal yang tidak-tidak sama kamu bilang saja sama papa ya." Ujar papanya same serius.


"I_iya pa." Jawab Alena ragu ragu.


Setelah selesai sarapan, dia mengambil sarapan untuk same dan membawanya ke kamar. Begitu dia membukakan pintu, ternyata same telah bangun dan lagi bersandar di jok tempat tidur. Alena mendekati same dan menjulurkan piring ke arahnya, same mengerutkan alisnya.


"Untuk aku." Tanyanya.


"Lalu." Jawab Alena.


"Oh thanks." Ucap same setelah mengambilnya sarapan di tangan Alena.


Alena mengambil ponselnya dan berbiat untuk menghubungi teman temannya, tapi tidak jadi karena same mencegahnya.


"Selama kamu masih menjadi istriku, jangan pernah sekalipun kamu menghubungi teman teman laknatmu itu." Ucap same memperingatkan.


Alena tersenyum sinis.


"Terus pernikahan laknat yang seperti apa yang sedang kita jalani." Ketus Alena.

__ADS_1


Same menghentikan makannya dan melirik ke arah Alena yang juga sedang menatapnya.


"Tapi kita sah Dimata hukum dan negara." tegasnya.


"Well, tapi tetap saja karena ada hitam di atas putihnya." Ketus Alena menekankan kata katanya.


"Itu soal gampang, yang penting statusnya jelas." Jelas same.


"CK. Jelas dari mananya, aku hanya pajangan buat kamu same." Jawab Alena dengan muka yang memerah.


Same berhenti makan dan menaruh piringnya di atas nakas, kemudian dia berjalan mendekati Alena. Karena melihat same yang semakin mendekat ke arahnya, Alena berangsut untuk mundur.


"Mau apa kamu." Ketus Alena.


"Kamu bilang aku hanya menganggap kamu sebagai pajangan kan. Mau aku buktikan secara langsung." Tanya same penuh makna.


"Minggir kamu, kalau hanya dengan cara saling menguntungkan aku juga bisa same. Ingat aku lebih ahli dalam hal itu." Tekan Alena yang membuat same jadi mundur.


Same pun tersenyum sinis dan ingin mengatai Alena, tapi keduluan di jawab oleh Alena yang seakan tau dengan jalan pikirannya same.


"Apa kamu mau mengatai aku perempuan murahan, hina, gitu. Tidak kamu sebutkan pun memang itu fakta benar adanya same." Ketus Alena dengan mata yang memerah.


"Dan asal kamu tau ya same, aku begini juga karena ada alasan. Aku juga lelah dengan profesi ku yang seperti itu, tapi semuanya tidak sejalan dengan apa yang ada di otak kamu." Tutur Alena dengan meneteskan air matanya.


"Hiks, aku juga tau mereka mampu. Tapi semua sudah terlanjur dan aku sudah terlalu jauh melangkah." Jawab Alena dengan seseguka.


Same merasa sakit di saat melihat Alena yang menitikkan air mata, tanpa sadar dia merengkuh tubuh Alena ke dalam pelukannya. Alena menangis dalam pelukan same rasanya sangat damai berada dalam pelukannya, dia begitu menikmatinya.


"Kamu bisa ceritakan apapun sama aku, aku siap mendengar semuanya." Ujar same dengan tulus.


"Aku bingung harus memulainya dari mana same hiks." Ucap Alena sambil menangis dan menghapus air matanya.


"Apa kamu senang dengan pekerjaan kamu yang itu." Tanya same.


Alena menggelengkan kepalanya, karena pekerjaan itu sudah menjadi candu baginya. Bukan masalah senangnya, Alena terpaksa apalagi dia sering mengkonsumsi obat penenang. Hati dan pikirannya tidak pernah sejalan, hidupnya begitu tertekan karena mengingat nasipnya yang begitu miris semenjak dia memutuskan pergi dari rumah kedua orangtuanya.


"Aku melakukannya semua itu karena terpaksa, awalnya karena ulah kedua temanku." Ucapnya sendu sambil melepaskan pelukan same.


Dia pun memilih untuk terbuka kepada same, dia menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Alena sudah tidak sanggup untuk memendam semuanya, walaupun same hanya menganggapnya sebagai istri kontrak, tapi Alena menganggap same lebih dari pada itu.


Karena Alena tetap menganggap same sebagai suami sahnya, mereka menikah dengan di hadiri kedua orangtua mereka. Itu juga termasuk dari salah satu impian Alena, dia tidak pernah membayangkan pernikahan mewah dan glamor. Dia hanya ingin kedua orangtuanya hadir di saat pernikahannya, hanya itu harapannya karena bila mengingat hubungannya dengan kedua orangtuanya. Tidak mungkin mereka akan mau hadir di saat dirinya akan menikah nanti.

__ADS_1


Same mendengarkan semua cerita Alena dengan tenang, sesekali dia juga mengelus bahunya Alena. Karena Alena sempat menangis di saat menceritakan kisah kehidupannya yang begitu miris. Walaupun malu, dia juga tidak bisa menahan semuanya lagi sendirian.


"Boleh aku bertanya." Tanya Alena.


"Tanyakan saja." Jawab same.


"Kapan kamu akan menceraikan aku." Ucap Alena spontan.


Deg. . . Entah kenapa same begitu kaget dengan pertanyaan Alena barusan.


Walaupun awalnya dia juga mempunyai pikiran untuk bercerai dari Alena. Tapi hatinya berkata lain, dia merasa tidak rela bila harus berpisah dari Alena.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu." Tanya same menahan marahnya.


"Karena aku juga ingin hidup bersama pria yang mencintai aku, bukan hanya di perlukan sesaat lalu di buang setelah di perlukan." Ujarnya sendu dengan mata yang menerawang ke langit-langit kamar.


"Kalau begitu izinkan aku untuk mencoba mencintai kamu." Ucapan spontan same begitu membuat Alena terkejut.


Dia tidak menyangka jika same akan berkata seperti itu, bisa saja same sedang mengerjainya.


"Jangan jadikan aku bahan lelucon." Ucap Alena.


"Aku janji, asalkan kamu mau berubah dan tidak kembali lagi ke masa kelam kamu." Ucap same tulus.


Alena membalikkan wajahnya dan menatap same dengan bola mata yang berkaca kaca.


"Surat perjanjiannya." Tanya Alena.


Mendengar Alena menyebutkan surat perjanjian, same bangun membuka brankas miliknya. Kemudian dia mengambil surat tersebut dan merobeknya di depan Alena, kini dia telah memantapkan hatinya untuk memilih Alena.


Mungkin Alena adalah jodohnya, hanya cara pertemuan mereka saja mungkin yang salah. Walaupun Alena mantan pel*cur dia tetap akan mencoba untuk membuka hatinya, karena seorang pendosa juga berhak untuk bahagia.


Alena juga berjanji akan berubah, jadi apa salahnya jika same membantu Alena untuk berubah ke jalan yang lebih baik lagi. Apalagi kini mereka tinggal di negara yang memiliki hukum tentang Islam, same akan membuat Alena melupakan tentang keburukannya dulu saat berada di negaranya.


"Boleh kita mencoba semuanya dari awal." Tanya same.


Alena mengangguk dan berhambur kepelukan same sambil menangis bahagia, dia begitu terharu. Harapannya hanya satu, dia berharap semoga same benar benar jodoh yang di kirimkan tuhan untuk dirinya.


"Seperti kisah di novel saja, tapi aku bahagia karena kamu memilih kisah yang tepat." Ucap Alena saat berada dalam pelukannya same.


Hati same juga berdesir saat Alena memeluknya, tanpa sadar dia juga menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2