
Celine dan Dirga masih menunggu di rumahnya bram. Celine terus saja mondar-mandir tidak sabaran, sesekali dia melirik ke luar. Namun masih belum ada tanda tanda kepulangannya bram.
Namun seperkian detik kemudian, pintu terbuka dari luar dan muncul bram beserta istrinya juga di ikuti oleh Arga yang setia memeluk istrinya yang sedang bersedih. Mereka semua baru saja pulang dari tempat pemakaman anaknya dara, walaupun tidak cukup bulan. Dara dan Arga tetap memilih untuk memakamkan anak mereka dengan cara yang layak.
Celine bangun dari duduknya dan menatap heran ke mereka semua, kenapa dara dan keluarganya memakai pakaian serba hitam. Siapa yang meninggal, celine melihat dara yang nampak sangat terpuruk dan sangat sedih.
"Dara kamu kenapa hei, siapa yang meninggal." Tanya celine tidak sabaran.
"Hiks cel hiks a_anakku cel." Ucap dara dengan suara yang tercekat.
"Apa. Ya ampun dara hiks pantesan dari semalam aku engga tenang hiks kamu yang sabar dar." Celine memeluk dara, dan mereka sama-sama menangis sambil berpelukan.
"Kamu yang ikhlas ya, ayuk duduk dulu biar aku ambilkan minum." Ujar celine.
"Biar mbak aja, kalian duduk dulu ya." Celine hanya mengiyakan, namun dia juga merasa asing dengan perempuan tadi.
Bram yang melihat kebingungan celine pun menjelaskan semuanya.
"Dia istri abang." Ucap bram singkat, namun bisa menghapus rasa penasarannya celine.
"Kita turut berduka ya pak arga." Ujar Dirga dengan serius.
"Iya terimakasih." Ucap Arga singkat.
"Ayo dek minum dulu." Nayla datang dengan membawa nampan di tangannya.
"Makasih mbak." Ucap celine dengan tersenyum.
Dara menatap dengan pandangan kosong kedepan, buah hati yang selama ini dia jaga dengan baik. Harus pergi sebelum menunjukkan wajahnya ke mereka semua. Dara menyeka air matanya dengan perlahan, dia memang berusaha untuk ikhlas namun hatinya masih saja belum bisa Terima dengan semua ini.
"Sayang, sudah jangan terus di ingat, nantik babynya akan sedih." Ucap arga.
"Mas, padahal aku sangat menjaga kandunganku mas, aku juga tidak melakukan hal yang bisa membuat dia sampai kesakitan dan akhirnya pergi hiks hiks." Lirih dara dengan suara paraunya.
"Sabar Bestie jangan terus nangis dong, nantik babynya juga sedih karena mamanya nangis terus hiks." Celine juga menyeka air matanya sendiri karena juga merasakan kesedihan yang sama.
__ADS_1
Dara menyandarkan kepalanya di dada Arga sambil sesegukan. Dia terus menangis hingga akhirnya tertidur dengan sendirinya.
"Em bang aku bawain dara ke kamar dulu ya." ucap Arga, dia menggendong dara dan membawanya ke kamar mereka.
"Ceritanya gimana bang bram." Tanya celine.
"Kejadiannya singkat cel, dara cuma merasakan sakit di perutnya saat dia lagi masak di dapur. " Jelas bram.
"Iya kami hanya masak masak biasa, aku juga udah cegah dia biar istirahat aja. Tapi dara engga mau, aku jadi merasa bersalah sekarang hiks." Nayla meluapkan semuanya yang terasa mengganjal di pikirannya sedari kemarin.
"Bukan sayang, ini rahasia Tuhan. Kamu jangan merasa bersalah begini mungkin setelah ini dara bisa mendapatkan kebahagiaannya dengan cara yang lain." Ucap bram menenangkan istrinya yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
"Hiks kasian dara mas." Ucap Nayla sedih.
"Semoga dara dan Arga bisa tanah dan ikhlas ya bang." ucap celine dengan sendu.
*
*
*
Alena merasa heran dengan sikap vicky akhir akhir ini, kenapa vicky semakin jauh darinya. Apakah ada pengaruh dari alexsa atau memang ini kemajuan sendiri. Alena hanya bisa menerka-nerka karena tidak tau pasti apa yang sedang terjadi.
"Mereka kemana sih, jam segini belum pulang lagi." Gumam Alena dengan kesal.
Dia sangat bosan berada sendirian di apartemen, ingin menelpon temannya takut ketahuan sama vicky. Menjalankan misi memang sangat sulit bila target sering tidak berada di samping kita.
"Em kayaknya pura pura calm enggak mempan sama kamu vic, oke aku akan coba cara yang agresif sekarang heuh." Alena tersenyum evil.
Begitu pintu terbuka dari luar Alena langsung bergegas menyambut sang suami yang baru pulang. Walaupun ada alexsa di samping vicky, namun itu tidak akan menjadi alesan buat Alena tidak bisa bertindak.
"Hai suamiku, akhirnya kamu pulang cup." Alena menciuk bibir vicky sekilas sambil melirik sinis ke arah alexsa, tanpa sepengetahuan vicky.
Vicky tercengang dengan sikap agresif Alena. Sejak kapan dia berubah jadi seperti ini, setau vicky dia calm dan tidak banyak bertingkah. Dia hanya bisa melongo dan tidak bisa berkata apapun. Karena wajar wajar aja Alena juga istrinya sama seperti alexsa.
__ADS_1
Namun tidak dengan alexsa, matanya melotot tak percaya dengan sikap Alena yang sudah keterlaluan karena tidak menghargai keberadaannya.
"Ck. Emang dasarnya jal*ng ya begini sifat aslinya." Sindir alexsa dan berlalu ke kamar.
Dirinya lagi malas berdebat karena sangat capek setelah menghadiri acara keluarga di kediaman orang tuanya vicky.
Alena hanya menatap kepergian alexsa dengan sebelah matanya. Dia bergegas melepaskan jasnya vicky dan mengambil segelas air putih untuk vicky.
"Ayuk suamiku di minum dulu." Ucap Alena dengan tersenyum menggoda.
Vicky terus meminumnya tanpa berkata apa apa. Dirinya juga sangat lelah malam ini, tubuhnya hanya meminta kasur untuk merebahkan badannya yang lelah.
"Ayuk ke kamar, biar aku pijitin kamu pasti capek kan." Alena menggandeng tangannya vicky dan membawanya ke kamar miliknya.
Sebenarnya Alena kesal karena vicky tidak memakan masakannya, Tapi ini juga satu kesempatan untuk membuat vicky terlena dengannya kembali.
"Aku bukain ya." Ujar Alhena dengan menggigit bibir bawahnya.
Glek. . . Vicky menelan ludahnya melihat alena yang begitu seksi di matanya.
"Em_Alen ka_Kamu enggak papa." Tanya vicky ragu ragu.
"Aku sehat kok sayang, apa salah jika aku ingin melayani suamiku dengan sedikit sentuhan manja." Ucap alena dengan suara manjanya.
Vicky seakan terbuai dengan godaan alena, apalagi selama ini dia sama sekali tidak pernah merasakan lagi yang namanya making love. Terakhir hanyalah di saat dirinya terjebak satu malam bersama akena, sekretaris kantornya.
"Emm." Vicky hanya berdehem karena bingung harus berkata apa.
Alena melepaskan seluruh pakaian vicky, dan terakhir dirinya mengganti pakaiannya dengan sebuah lingerie berwarna merah menyala. Yang begitu pas di tubuhnya yang berisi dan seksi.
Vicky lagi lagi menelan ludahnya dengan pemandangan yang ada di depannya. Sangat menggoda iman, apalagi dirinya adalah pria dewasa yang normal. Vicky sampai lupa sama perjanjiannya dengan alexsa, dia juga tidak munafik alena benar-benar membuatnya bergairah.
Tanpa menunggu lama, dia langsung mencetak gol ke dalam gawangnya. Alena sangat puas akhirnya misi kedua berhasil setelah misi pertamanya sempat gagal.
"Thanks you sayang. Kamu memang sangat perkasa, aku sangat puas." Ujar Alena dengan suara yang di buat seseksi mungkin.
__ADS_1
Vicky tersenyum dan membelai rambutnya Alena, dia sedang bersandar pada dadanya vicky setelah selesai dengan mencari surgawi bersama.
#Bersambung