Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
Antoni


__ADS_3

Setiap harinya setelah pemergokan yang dilakukan dara, sekarang hubungan arga bersama istrinya semakin hari malah semakin renggang. Apalagi ketika arga ingin menyentuh dara pasti akan ada perdebatan panjang di antara keduanya.


Setiap perempuan pasti akan sakit bila sudah pernah di khianati kata kata maaf tidak akan pernah bisa mengobati luka yang sudah ada. Dara hanya ingin bertahan demi kedua buah hatinya, namun di posisi lain dia juga begitu lelah hidup bersama arga.


Dan hingga sekarang abangnya juga belum mengetahui apa yang sedang menimpa dirinya. Dara sangat menutupi aib rumah tangganya dia tidak tau akan sampai kapan dia bisa menutup semua kebenaran. Karena saat ini dia hanya memikirkan kedua anaknya dan juga perasaaan mereka.


Tidak hanya mendapatkan tekanan batin namun juga sangat menusuk hatinya, dia menyaksikan secara real pergelumuran antara suami dan juga selingkuhannya. Dadanya begitu sesak saat mengingat kejadian di waktu itu, rasanya seperti mimpi.


Hancur sudah harapannya untuk membangun rumah tangga impian bersama suaminya, pupus sudah keinginan hatinya. Dara ingin berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan rasa kecewa dan juga rasa sakitnya.


Kini dia sedang berada di roof top sebuah cafe dia sengaja memilih roof top agar dia bisa menyendiri dan merenungkan semua yang telah terjadi padanya.


Dara bangun dari mejanya dan ingin mendekati pagar pembatas roof top, pikirannya kembali menerawang kejadian beberapa waktu lalu. Air matanya kembali membasahi pipi nya bahunya kembali bergetar karena isakan tangis.


"Aaaaa apa salah ku mas, apa kurangnya aku hiks hiks sakit sekali rasanyaa. " Dara semakin sesegukan dia juga memukul mukul dadanya sendiri.


Dari kejauhan seorang pria terlihat sedang memperhatikan apa yang sedang dara lakukan. Dia mengeryit heran melihat dara yang sedang memukuli dirinya sendiri, namun dia juga tidak ingin ikut campur.


"Kenapa dia menangis sambil berteriak apa seberat itu beban hidupnya." Gumam antoni sambil meneruskan minumnya yang sempat terhenti karena melihat dara.


Dara kembali berjalan mendekati mejanya dengan tatapan mata yang kosong, antoni masih memperhatikan dara dari kejauhan. Entah mengapa matanya seakan tidak ingin berpaling untuk terus menatap perempuan itu.


"Ngapain cobak aku liatin dia terus dasar mata." Antoni menyentil matanya sendiri.


Dara kembali menikmati makannya masih dengan tatapan mata yang kosong, air matanya masih terus merembes tanpa ingin berhenti. Makanannya pun terasa begitu hambar di mulutnya, saat ingin bangkit untuk berdiri tiba-tiba kepalanya terasa berat. Lantai seakan berputar dan tiba-tiba pandangannya terasa buram, detik kemudian dia pun terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Dengan cepat antoni berlari dan mengangkat tubuhnya dara yang terjatuh ke lantai, dia menyibak rambutnya dara kesamping.


"Hei nona bangun, hei apa kamu bisa mendengarkan ku." Antoni mencoba untuk membangunkan dara.


Dara membuka kedua matanya secara perlahan namun keadaannya begitu lemah.


"Aku lelah tolong bawa aku pergi sejauh mungkin." Ucapnya dengan lemah kemudian dia kembali pingsan.


Antoni pun menjadi panik dan segera menggendong nya untuk di bawakan kerumah sakit. Begitu sampai dirumah sakit dia menggeledah isi tas dara untuk mencari ponselnya, namun dia tidak menemukannya.


"Apa ponselnya terjatuh, terus siapa yang harus aku hubungi."


"Permisi pak dengan suaminya pasien yang bernama dara, istri bapak sudah siuman dan memanggil anda." Antoni pun jadi bingung dan garuk garuk kepala.


Begitu sampai di dalam dia melihat dara yang tersenyum ke arahnya, Antoni pun menaikan sebelah alisnya.


Apa dia gila? Antoni hanya bisa berkata dalam hati.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu pak."


"Iya sus."


Dan tinggalah dara dan juga Antoni yang terlihat kebingungan, dia pun duduk di dekat ranjangnya dara.


"Hai aku dara terimakasih buat pertolongannya." Dara memperkenalkan dirinya.


"Tadi perasaan kamu kayak orang linglung, tapi kenapa sekarang malah senyam senyum begitu."


"Masalahnya panjang, nama kamu siapa jangan ngalihin pembicaraan." Ujar dara dengan lemah.


"Em aku Antoni, dan maaf tadi aku geledah tas kamu soalnya aku bingung mau hubungi siapa."


"Iya gak papa, terimakasih udah mau nolongin aku."


"Sama sama, ingat nomor ponsel suami kamu biar bisa aku hubungi. Karena ponsel kamu hilang."


"Udah gak usah nanti setelah baikan aku langsung pulang kok."


"Oh oke." Antoni memperhatikan dara yang sepertinya sedang mengalami masalah yang begitu besar.


Terlihat jelas dari tatapan matanya yang kosong, dan Antoni juga sedikit tertarik saat menatap wajahnya dara. Namun harus di sayangkan karena dara sudah memiliki seorang suami, Antoni hanya bisa menghela nafas.


"Sus bagaimana keadaannya."


"Bapak silahkan ke ruangan dokter, mari ikut dengan saya." Dengan terpaksa Antoni pun mengikuti suster tersebut.


"Silahkan duduk pak." Ujar doktet.


"Iya dok terimakasih."


"Begini pak, sepertinya istri anda sedang mengalami tekanan batin yang sangat hebat. Apa kalian sedang dalam masalah." Reflek Antoni pun menggeleng.


"Piscis nya terganggu pak kalau bisa istri bapak jangan terlalu lelah dan harus bisa menjaga keadaan fisiknya dengan baik."


Setelah mendengarkan pernyataan dari dokter, Antoni pun izin pamit dan kembali menemui dara di ruangannya.


"Belum bangun lagi gimana ya, di tinggalin sayang aku netap disini juga gak mungkin." Antoni kebingungan saat ini dia pun memilih untuk bermain game di ponselnya sambil menunggu dara terbangun.


Setengah jam menunggu akhirnya dara terbangun dari tidurnya, Antoni tersenyum melihat wajah dara yang begitu manis saat baru terbangun dari tidurnya.


"Hoamm ya ampun aku ketiduran ya, maaf ya jadi ngerepotin." Dara merasa tidak enak dengan Antoni.

__ADS_1


"It's okey gak papa kok, emm apa kamu tidak ingin pulang." Pertanyaan Antoni membuat dara jadi teringat pada kedua anak anaknya.


"Ya ampun anak anak ku gimana, aku ketiduran berapa lama ya."


"7 jam kurang lebih sih. Panggil anton aja biar oke." Dara mengangguk kemudian dia kembali menoleh pada Antoni.


"Emm apa boleh anterin aku pulang, nantik aku bayar gimana. Please kasian anak anakku pasti mereka nungguin aku seharian ini." Dara mengagumkan kedua tangannya untuk memohon pada Antoni.


Antoni pun tersenyum melihat kelakuan dara yang seperti ABG dia jadi tidak yakin bila dara sudah mempunyai anak.


"Yaudah tunggu apa lagi yuk pulang." Dara jadi salah tingkah dan terlihat bodoh di depan Antoni.


Mereka pun pulang dengan menggunakan mobil Antoni saat di perjalanan keduanya masih saling diam tanpa obrolan. Dara hanya mengingat kedua anak anaknya yang sudah pasti sedang menunggu kepulangannya.


"Ekhem apa aku boleh ngomong sesuatu." Dara menoleh ke arah Antoni dengan bingung.


"Iya silahkan kenapa harus izin."


"Kata dokter Piscis kamu sedikit terganggu, jadi jangan terlalu banyak pikiran."


Dara menunduk mendengar pernyataan dari Antoni apakah separah itu kondisinya saat ini, ternyata ini bukanlah alam mimpi. Kini dia kembali sedih saat mengingat nasip pernikahan yang sedang berada di ujung tanduk.


"Apa kamu punya masalah yang begitu serius, maaf kalau aku lancang." Antoni hanya penasaran dengan kehidupan dara.


"Iya begitulah kalau sudah berumah tangga pasti akan ada aja masalahnya." Dara berbicara tanpa melihat ke arah antoni.


"Apakah terlalu berat sehingga membuat Piscis kamu sampai terganggu."


"Sangat berat dan terlalu ironis jika di ingat." Air matanya kembali berembun, entah mengapa dengan adanya orang yang menanyakan tentang bagaimana perasaannya saat ini, dia jadi merasa sedikit nyaman dan merasa seperti ada yang memperhatikan.


"Maaf kalau pertanyaan ku membuat kamu jadi sedih, udah di pertigaan kita ke arah mana." Antoni menanyakan arah jalan rumahnya dara.


"Kurus aja sampek komplek depan, nomor 5 rumahku." Antoni mengangguk dan kembali melajukan mobilnya.


"Terima kasih sudah mau mengantar aku pulang, mana nomor rekening kamu biar aku transfer."


"Aku ikhlas gak perlu di transfer." Antoni menolak secara halus.


"Sekali lagi terimakasih banyak ya anton, aku permisi selamat malam." Ucap dara sebelum turun dari mobilnya antoni.


"Sama sama oiya jangan lupa jaga kesehatan." Dara tersenyum mendapatkan perhatian kecil dari Antoni yang baru di kenalnya.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2