
Dara masih tenang memakan makan siangnya bersama kedua sahabatnya, seolah-olah Arga tidak berada di sana. Dia mencoba untuk abai walaupun hatinya hancur saat melihat suaminya sedang bersama wanita lain, di saat dara yang asik termenung. Seorang waiters melewati mereka, celine menyuruhnya untuk berhenti dan menanyakan pesanan Siapakah yang sedang dia antar.
Ternyata waiters tersebut sedang mengantarkan pesanan milik mejanya Arga, pastinya juga makanan tersebut adalah milik mereka. Celine berinisiatif untuk membawakan makanan itu untuk arga, dia pun bernegosiasi dengan waiters tersebut.
Begitu di izinkan celine langsung membawakan pesanan Arga dan juga karina. Sebelum tiba di mejanya Arga, celine menarik nafas terlebih dulu agar siap menghujam mereka dengan cibiran pedas dari nya.
"Ekhem ini pesanannya pasangan laknat." Ketus celine yang membuat Arga kaget setengah mati.
Karina mengerutkan keningnya mendengar panggilan celine untuk mereka, apa mereka punya kesalahan sehingga dia dengan beraninya mencaci mereka.
"Mulut Anda bisa di jaga gak ya." Tanya karina dengan tenang agar tidak mengundang perhatian orang di sekelilingnya.
"Hahaha enggak tuh, yang seharusnya di jaga itu otak kalian. Heh perempuan ganjen enak ya jalan sama suami orang." Karina bingung mendengar pertanyaan celine.
"Maksud anda apa ya, jangan asal menuduh kalau tidak tau apa apa."
"Saya rasa suami anda bisa menjelaskannya." Celine menatap sinis ke arah Arga yang terlihat kebingungan.
"Mas maksudnya apa ini." Karina bertanya pada Arga, namun Arga tidak berkomentar apapun.
"Hei Arga jangan diem aja kamu, liat di ujung sana ada siapa. Tega ya kamu gak nyangka sih aku kalau kamu bisa sebejad ini." Cibir celine kesal.
Arga melihat ke arah yang di tunjukkan celine dia pun terkejut saat mendapatkan istrinya yang juga sedang menatap ke arahnya. Dengan terburu buru dia bangun dan ingin menjumpai istrinya.
"Mau kemana mas." Karina ingin mencegah Arga namun tangannya langsung di tepis, celine tersenyum sinis melihat karina yang di abaikan oleh Arga.
"Heuh ya gitu kalau nikahnya sama suami orang." Karina begitu berang mendengar ejekan yang di lontarkan celine untuknya.
Arga terdiam begitu sampai di hadapan dara, lidahnya kelu tidak bisa berkata-kata. Dara juga mengabaikan kehadirannya di satu sisi dia begitu lelah jika terus terusan bersikap tidak baik kepada suaminya. Namun dia juga sakit bila lagi berhadapan dengannya, ternyata beginilah kehidupan. Tidak selalu baik dan juga tidak selalu buruk, tergantung keberuntungan hidup bagi yang menjalani.
"Sayang aku ingin bicara." Tutur Arga.
__ADS_1
"Dar kita permisi ke sana dulu ya selesaikan apa yang harus di selesaikan. Tidak baik menunda nunda keinginan hati, semangat bestie." Celine berbisik di telinga dara.
"Duduk." Ujar dara tanpa melihat ke arah suaminya.
"Sayang apa aku boleh bercerita sedikit saja." Dengan menghela nafas dara mengangguk.
"Apa kamu tau kenapa aku bisa berbuat sejauh ini. Awalnya aku juga tidak ingin sayang, malam itu waktu pertama kali aku bertemu karina jantungku berpacu begitu kuat. Dia sangat mirip dengan alm dina hingga tanpa sadar aku mendekati nya, hingga beberapa hari setelahnya kita semakin dekat. Aku kalap sayang aku benar-benar bodoh saat itu, entah kenapa aku sampai tergiur dengannya. Dara maafkan aku sayang aku menyesal aku juga bingung dengan perasaan ku sendiri aku gak tau kenapa aku bisa terbawa suasana dan sampai sampai menikahi nya."
"Malam pertama setelah pernikahan kami, aku baru tersadar ternyata dia bukanlah dina melainkan orang lain yang hanya mirip dengannya. Sayang please maafkan aku jujur aku sama sekali belum menyentuh nya, malam itu kamu hanya salah paham sayang."
"Cukup mas, jangan memutar balikkan fakta." Dara menyeka air matanya setelah mendengar penjelasan dari Arga.
"Sayang please aku tidak berbohong, karina yang memaksa ku malam itu, alasan aku tidak pernah menyentuhnya karena aku teringat kamu sayang. Malam itu aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dia mengancam akan membongkar semuanya jika aku tidak memberikan haknya."
"Sudah lah mas semuanya juga sudah terjadi, ternyata bayangan masa lalu kamu lebih berarti dari pada aku. Heuh aku saja yang bodoh karena terlalu percaya dan mencintai kamu." Dara bangkit dan ingin pergi namun tanpa sengaja dia melihat Glen.
Glen juga melihat dara yang seperti sedang menatapnya, dengan senyum yang mengembang Glen berjalan mendekati dara.
"Iya kamu makan siang disini." Dara balik bertanya, arga yang menyaksikan keakraban mereka menjadi panas dingin sendiri.
"Glen aku permisi dulu ya kebetulan aku sudah selesai."
"Oh iya silahkan take care ya, jangan lupa vitaminnya biar gak pingsan lagi." Glen mengingatkan yang membuat dara tersenyum.
Arga menatap Glen dengan tatapan yang tak biasa, sedekat itulah istrinya dengan pria ini. Arga segera mengejar dara sebelum kejauhan, di saat dia melewati kasir ternyata karina masih berada di sana dan segera menarik tangannya.
"Mas temenin aku pulang." Rengek karina kepada Arga.
"Kamu pulang sendiri aja aku sedang buru buru."
"Buru buru mau ngejar mbak dara maksudnya."
__ADS_1
"Dara istri aku karin." Teriak Arga kesal karena dia terus menghalangi jalannya.
"Mas aku juga istri kamu, biarkan dia pergi aku juga butuh kamu sekarang." Teriak karina tidak mau kalah.
Arga begitu kesal di saat melihat mobil yang di naiki dara telah pergi meninggalkan cafe. Dia melirik ke arah karina dengan muka yang memerah karena menahan amarah, dengan cepat dia menarik tangan karina dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Arga mengemudikan mobilnya menuju apartemen karina, begitu sampai dia menyuruh karina segera keluar. Arga kembali menarik karina dan menyuruhnya segera masuk ke dalam, dia tidak perduli dengan karina yang terus meringis kesakitan karena pergelangan tangannya di tarik kasar oleh Arga.
"Aw sakit mas." Karina mengeluh kesakitan namun Arga tidak menghiraukan.
Begitu sampai di dalam kamar Arga mendorong karina hingga terjerembab ke atas kasur. Dengan kasar dia merobek pakaian yang karina pakai, Arga melampiaskan segala amarahnya dengan mencumbu karina secara kasar.
"Mas stop, aku bukan bahan percobaan hiks hiks mas hentikan kamu menyiksaku."
"Ini kan yang kamu inginkan dariku, gara-gara kamu rumah tanggaku jadi berantakan. Ayo nikmati sentuhan ku sayang aku begitu lihai bukan." Karina begitu ketakutan mendapat sentuhan yang begitu kasar dari arga.
"Mas kamu gilak lepasin aku mas, lepaskan." Karina berteriak begitu kencang sehingga membuat Arga menghentikan perbuatannya.
Karina segera mendorong Arga dan mengambil selimut untuk menutupi badannya yang polos. Dia begitu gemetaran dan ketakutan, Arga tersenyum sinis melihat keadaan karina sekarang.
"Kenapa setakut itu kamu, itu kan yang kamu inginkan dari kemarin. Gara-gara kehadiran kamu rumah tangga ku jadi berantakan, dan istriku menjauhi ku. Ayo kamu butuh ini kan mati kita selesaikan sekarang jugak." Ujar Arga menekankan kata katanya.
Karina beringsut mundur dia sangat takut melihat Arga yang sekarang, ternyata kalau sedang marah dia benar-benar menakutkan.
"Aku hanya ingin melakukannya di saat kamu sedang dalam keadaan baik mas, bukan di saat seperti ini." Jawab karina pelan sambil terisak.
"Caraku memperlakukan kamu tidak akan sama seperti aku memperlakukan istriku, camkan itu baik-baik." Arga mengambil dan memakai pakaiannya kemudian pergi dari hadapan karina.
"Hiks hiks kenapa kamu tega berkata seperti itu mas." Karina merenungi nasipnya yang begitu sadis setelah menikahi Arga.
Mengambil sesuatu secara paksa yang bukan milik kita, akhir endingnya pasti tidak akan baik, Berhati-hatilah dalam ingin mengambil dan meraih sesuatu jika tidak ingin berakhir dalam penderitaan dan kesengsaraan.
__ADS_1
#Bersambung